Kesimpulan
- Tarekat adalah bagian terpenting dari pelaksanaan tasawwuf dan syari’at, karena tarekat adalah upaya memetik buah dari melaksanakan syari’at. Tarekat mendunia semenjak dikenalkannya konsep tasawuf akhlaqi oleh Imam Ghazali, yang diikuti oleh pelembagaan ajaran tasawuf para sufi besar dalam tarekat. Dan dimensi tasawuf dan tarekat yang luwes, luas, mendalam dan kaya pengalaman esoteris diyakini menjadi kunci dari keberhasilan proses islamisasi nusantara pada abad 15-16, baik oleh walisongo maupun ulama tarekat lain.
- Perkembangan tarekat di Nusantara mengelami percepatan dan perluasan secara massif seiring munculnya fenomena orang Jawi naik haji. Perjalanan haji yang cukup lama dengan kapal laut membuat orang Jawi merasa sayang jika perjalanan sejauh dan selama itu hanya untuk menunaikan ibadah haji. Mereka pun memanfaatkannya untuk mendalami ilmu agama dengan mengaji kepada ulama Haramain. Para santri Jawi inilah yang ketika peulang ke tanah air ini ikut menyebarkan tarekat kepada umat Islam Nusantara.
- Tarekat melembaga di Nusantara seiring dukungan penguasa (kerajaan) terhadap ulama tarekat, seperti Syaikh Nuruddin Ar-Raniri dan Syaikh Abdul Rauf Singkel di Kerajaan Aceh, Syaikh Abdul Shomad Al-Falimbani di Kesultanan Palembang, Syaikh Yusuf Al-Makassari di Kerajaan Bugis dan Banten, dan sebagainya. Selain menyumbangkan semangat perjuangan dan dakwah, para ulama tarekat ini juga ikut andil membangun tradisi keagaaman di Nusantara yang toleran, moderat, harmonis dan berpihak pada keadilan. Tarekat juga ikut menyumbangkan sistem pendidikan pesantren, yang merupakan akulturasi dari zawiyah sufi dan sistem ashram-paguron Hindu-Budha.
- Karena kentalnya nuansa esoteric dalam tarekat, maka tarekat sangat rentan terhadap penyimpangan dan penyalahgunaan. Untuk mencegah penyimpangan itulah para pengamal tarekat yang bernaung di Nahdlatul Ulama membentuk organisasi pengamal tarekat, Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.
–oOo–
Referensi:
Agus Sunyoto, Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Pustaka Ilman, Depok, 2012
Ahmad Baso, Pesantren Studies seri 2a, Pustaka Afid, Jakarta 2012
Prof. DR. Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat; (Uraian Tentang Mistik), Ramadhani, Solo, tt
Van Bruinessen, Martin, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, Cet. III-1999
Lajnah Ta’lif wan Nasr JATMAN, Al-Fuyudhat Ar-Rabbaniyyah: Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah tahun (1957-2005), Khalista, Surabaya, 2006
K.H. A. Aziz Masyhuri, Masalah Keagamaan: Hasil Muktamar dan Munas NU ke-1 tahun 1926 s/d ke-29 Tahun 1994, PP RMI dan DInamika Press, Surabaya, 1997
Martin Van Bruinessens, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, Mizan, Bandung, tahun 1997
Tim Penyusun, Mengenal Thariqah, Panduan untuk Pemula Mengenal Allah, Sekretariat Jenderal Jatman dan Aneka Ilmu, Semarang, 2005
Muhdhor Assegaf, Biografi K.H.M. Abdul Malik bin Muhammad Ilyas: Mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah, Pelita Hati, Solo, 2008
Haidar Bagir, Sejarah Tasawuf dan Aliran-alirannya, http://islamindonesia.co.id/index.php/tasawwuf/681-sejarah-tasawuf-dan-aliran-alirannya
http://www.sufinews.com/index.php/Tokoh-Sufi/waliyullah-gunung-pring.sufi
www.wikipedia.org/wiki/shadhili
http://lajnah-talifwannasyr-tarekat.blogspot.com/
http://epress.anu.edu.au/islamic/umma/mobile_devices/ch03s03.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Burhanudin_Ulakan
http://pariamannews.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Arabi
[1] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Pustaka Ilman, Depok, 2012, hlm. 42-43
[2] Ibid, hlm. 48-50
[3] Jumlah 44 thariqah ini adalah jumlah thariqah yang dianggap mu’tabar oleh Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), sumber : Tim Penyusun JATMAN, Mengenal Thariqah,Lajnah Ta’lif wa Nasr JATMAN, Pekalongan, 2005, hlm. 15
[4] Prof. DR. Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat; (Uraian Tentang Mistik), Ramadhani, Solo, tt, hlm.
[5] Tim Penulis Jatman, Loc. Cit, hlm. 12
[6] Haidar Bagir, Sejarah Tasawuf dan Aliran-alirannya, http://islamindonesia.co.id/index.php/tasawwuf/681-sejarah-tasawuf-dan-aliran-alirannya
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Arabi
[8] Van Bruinessen, Martin, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, Cet. III-1999, halaman 188.
[9] ibid., hlm.23.
[10] Ibid, hlm. 224.
[11] Meski begitu, dalam tradisi thariqah, selain pertemuan dan hubungan belajar secara fisik dengan guru yang masih hidup, terkadang juga terjadi perjumpaan dan proses belajar dengan guru thariqah yang sudah wafat. Proses ijazah thariqah semacam ini disebut ijazah barzakhi. Lihat Al-Fuyudhat Ar-Rabbaniyyah: Hasil Kesepakatan Muktamar dan Musyawarah Besar Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah tahun (1957-2005), Khalista, Surabaya, 2006, hlm. 162-163.
[12] Agus Sunyoto, Loc. Cit, hlm. 162 dan 103
[13] Van Bruinessen, loc.cit. hlm. 94 dan 192-195
[14] id.wikipedia.org/wiki/Burhanudin_Ulakan dan pariamannews.wordpress.com
[15] ibid
[16] Ibid, hlm. 56-59
[17] Di kampung penulis, Dusun Lamaran, Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, hingga saat ini ada tradisi melantunkan doa syair yang secara eksplisit menyebut nama Syaikh Muhammad Samman setiap kali usai shalat tarawih dan witir.
[18] Martin Van Bruinessens, Loc.Cit. hlm. 20-21
[19] K.H. A. Aziz Masyhuri, Masalah Keagamaan: Hasil Muktamar dan Munas NU ke-1 tahun 1926 s/d ke-29 Tahun 1994, PP RMI dan DInamika Press, Surabaya, 1997, hlm 38 dan hlm. 82-83
[20] Martin Van Bruinessens, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, Mizan, Bandung, tahun 1997, hlm. 1-100
[21] Tim Penyusun, Mengenal Thariqah, Panduan untuk Pemula Mengenal Allah, Sekretariat Jenderal Jatman dan Aneka Ilmu, Semarang, 2005, hlm. 34.
[22] Muhdhor Assegaf, Biografi K.H.M. Abdul Malik bin Muhammad Ilyas: Mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah, Pelita Hati, Solo, 2008, hlm. 80-100
[23] Berbagai catatan silsilah thariqah syadziliyah di website-website yang mengulas tokoh tersebut, seperti : www.thohiriyyah.com; http://www.sufinews.com/index.php/Tokoh-Sufi/waliyullah-gunung-pring.sufi; dan sumber-sumber lain.
[24] Disebut Syadziliyah Darqawiyah karena sanadnya melalui Syaikh Muhammad Al-Arabi Ad-Darqawi. Sementara Thariqah Syadziliyyah di Indonesia yang masuk lebih dulu sering disebut dengan Syadziliyyah Maydumiyyah, karena sanadnya melalui Syaikh Abul Fath Al-Maydumi. Selain kedua cabang itu, Syadziliyyah juga berkembang menjadi beberapa cabang lagi seperti Maryamiyyah, Attasiyyah, Badawiyyah, Hasyimiyyah dan lain sebagainya. Sumber : Tim Penulis Lajnah Ta’lif wan Nasr, Mengenal Thariqah, LTN-JATMAN, 2005, hlm. 31 dan www.wikipedia.org/wiki/shadhili
[25] http://lajnah-talifwannasyr-tarekat.blogspot.com/
[26] http://epress.anu.edu.au/islamic/umma/mobile_devices/ch03s03.html
[27] Cecep Syarifuddin, Prof. DR., Kesaktian Walisongo: Empat Jurus Dakwah Islamisasi Jawa, disampaikan dalam Halaqah Politik Walisongo, Desember 2005, di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Laporan mengenai acara dan materi halaqah tersebut juga dimuat di Majalah Alkisah, edisi 01/2006 yang terbit pada bulan Januari 2006.
[28] Martin Van Bruinessen, loc.cit., hlm 24.
[29] Lihat catatan kaki Ahmad Baso dalam buku Pesantren Studies seri 2a, Pustaka Afid, Jakarta 2012, halaman 61-62
[30] Ibid, hlm. 224 dan Agus Sunyoto, loc.cit. 78-85
[31] Martin Van Bruinessen, loc. cit, hlm. 32-47
[32] Sorogan adalah metode belajar di mana setiap santri secara bergantian menghadap seorang guru lalu mencoba membaca sebuah teks, baik al-Quran maupun kitab kuning secara baik dan benar sesuai arahan sang guru. Metode dua arah ini biasanya diperuntukan bagi santri-santri kelas awal sampai menengah. Sedangkan Bandongan adalah metode belajar dimana seorang kiai atau guru membacakan kitab kuning lengkap dengan arti dan penjelasannya di hadapan sekelompok santri. Metode satu arah kebanyakan diperuntukkan bagi santri kelas menengah hingga tinggi dan masyarakat umum. Lihat : Marteen Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Mizan, cet. Ke-3, 1999, halaman 18.

No responses yet