Categories:

Selama ini predikat paling melekat pada diri Syeikh Mahfuzh al-Tarmasi (w.1920 H), ulama asal Pondok Tremas, Pacitan, yang mukim di Makah hingga akhir hayatnya, lebih dikenal sebagai pakar ahli ilmu hadis (Muhaddis). Padahal beliau juga dikenal sebagai pakar berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu qira’at.

Mengapa bisa demikian? Bisa jadi karena selama ini para  peneliti lebih fokus pada riset bidang hadis yang menjadi salah satu spesifikasi ilmu yang dikuasai Syeikh Mahfuzh. Referensi kitabnya di bidang hadis yang lebih mudah diakses dibanding referensi bidang qira’at yang belum semuanya ditahqiq (masih bentuk manuskrip) menjadikan para akademisi tidak melirik kajian tentang kepakaran beliau di bidang ilmu ini. 

Alasan lain yang relevan, karena jejaring sanad  keilmuan  ilmu  qira’at Syeikh Mahfuzh lebih banyak  tersambung  kepada  ulama  Timur  Tengah  dari  pada ulama  nusantara. Dan alasan yang paling riil, ilmu qira’at termasuk disiplin ilmu yang rumit dan pelik. Butuh keahlian tertentu untuk bisa mengakses ilmu qira’at, keahlian di bidangnya dan kesabaran tingkat tinggi. Ini juga menjadi penyebab mereka, para peneliti,  enggan melakukan riset  secara  komprehensif menguak keahlian Syeikh Mahfuzh di bidang qira’at.

Satu lagi alasan langkanya penelitian mengenai ilmu qiraat,  yaitu adanya tradisi “larangan” di kalangan santri untuk mempelajari ilmu qiraat – qira’at sab’ah apalagi asyrah – (selain dari sanad Imam Ashim riwayat Hafsh) bila sang santri belum hafal al-Qur’an. Maksud dari “larangan” itu agar tidak terjadi kerancuan dalam membaca al-Qur’an, hingga ilmu ini hanya boleh dipelajari kalangan terbatas, khususnya para kiai ahli Qur’an, sebagai pengetahuan dan referensi serta diajarkan kepada santri yang anggap sudah memenuhi syarat tertentu, khususnya hafalan al-Qur’an 30 juz. 

Dari beberapa hal di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Diantara   penyebab   kelangkaan   peminat   ilmu   ini   adalah:   1) prosedur  akses  yang  sangat  ketat,  2)  ilmu  qira’at  dianggap  sebagai disiplin  yang  sudah  final,  3)  pembahasannya  sangat  pelik  dan  detail,  4) dominasi qira’at Hafsh  dari  Imam  Ashim  dalam  dunia  Islam, khususnya Indonesia,  sehingga menggeser eksistensi qira’at yang diriwayatkan dari Imam lainnya. 

Menyadari urgensi ilmu qira’at dalam studi Al-Qur’an dan peran Syeikh Mahfuzh yang sangat signifikan, kajian dan riset mengenai peran Syeikh Mahfuzh dalam bidang ilmu qira’at perlu dikenalkan, mengingat pentingnya kontribusi Syeikh  Mahfuzh  al-Tarmasi dalam bidang qira’at, hingga kepakaran beliau di bidang ilmu qira’at bisa dikenal luas.

Bila ditilik dari karya tulis yang telah dihasilkan, bisa dipastikan jejak ilmu yang dikuasai beliau lebih menonjol dalam bidang ilmu qira’at. Terdapat 6 kitab yang membahas tentang ilmu qira’at, 4 kitab khusus membahas qiraat tertentu ( Al-Badr al-Munir fi Qiraat al-Imam Ibn Katsir,Ta’mim al-Manafi’ fi qiraat al-Imam Nafi’, Tanwir al-Shadr biqiraat al-Imam Aby Amr dan Insyirah al-Fuad fi Qiraat al-Imam Hamzah Riwayatay Khalaf wa Khalad ), 2 kitab membahas qira’at secara umum (Ghunyah al-Thalabah bi Syarh al-Thayyibah dan Al-Risalah al-Tarmasiyah fi Isnad Qiraat al-‘Asyriyah ), ditambah satu kitab tafsir Fath al-Khabir bi Syarh Miftah al-Tafsir yang di dalamnya tak lepas dari pembahasan masalah ilmu qiraat. Mengenai Kepakaran   dan   kealiman   Syeikh   Mahfuzh   dalam bidang   ilmu  qira’at, diakui  oleh  beberapa ulama  dunia. Salah satunya Ilyas  bin  Ahmad  Husain  al-Barmawi, guru besar  Al-Qur’an dan ilmu tajwid di Masjid Nabawi,  yang memasukkan  nama  Syeikh  Mahfuzh  ke dalam  karya  monumentalnya  tentang biografi para qurra’ yang  hidup  pasca  abad  ke-8  Hijriyah. 

Dalam  kitab al-‘Inayah -Qur’an wa ‘Ulumihi min Bidayah al-Qarn ar-Rabi’ al-Hijrî Ilâ  ‘Ashrina  al-Hadhir, Syekh    Mahfuzh    juga disejajarkan dengan ulama ahli qira’at dunia seperti Syekh Ali  bin  Muhammad  ad-Dhabbâ’ (w.1376 H), seorang muqri’ dan pakar rasm berkebangsaan Mesir; Syekh Ahmad al-Hilwânî (w.1307  H),  mahaguru  ilmu  qira’at  asal  Damaskus  dan ulama qira’at lainnya. Bahkan   seorang   sejarawan   dan   bibliografer   asal Suriah,   Khairuddin   az-Ziriklî   (1893-1976   M),   menyebut Syekh Mahfuzh dengan sebutan;  faqîhun syâfi’îyun, min al-qurrâ’, lahu isytaghâlun fî al-hadîts (seorang faqîh bermadzhab syafi’i dan salah  seorang qurrâ’ yang  punya  kesibukan  dalam  bidang hadis).

 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *