Oleh: Hasan Basri

Beberapa tahun terakhir, saya sangat jarang ziarah makam. Saya dianjurkan guru saya agar ziarah ” dak lama-lama”, saya meyakini anjuran ini cocok dengan kadar ruhani saya. 

Kalau pas pulang kampung, saya biasa ziarah ke makam-makam para ulama di sekitaran kampung saya, atau di  sekitaran Kota Mataram. 50 porsen tujuan ziarah saya di Lombok berada di Kota Mataram.

Sebagai pusat kekuasaan, dari masa ke masa, Kota Mataram, Nusa Tenggara  Barat, adalah kota yang beragam dari berbagai sisi : agama dan etnis misalnya. Kota kecil ini adalah ibu kota kekuasaan para penguasa Bali Karangasem yang berhasil mengkosildasikan kekuasaan mereka yang acak-terpencar pada akhir abad 18 M. Kemudian menjadi pusat kolonialisme Belanda dan Jepang. Dan menjadi ibukota propinsi sampai hari ini. 

Terkait persebaran Islam, terutama pusat otoritas ilmu keislaman, di Kota Mataram terdapat beberapa sentrum pendidikan Islam tradisional, Ahlussunnah wal-Jamaaah. Ada Pagutan,Sekarbela, Karang Kelok, Pejeruk, Gegutu, Ampenan dengan beberapa Tuan Gurunya yang terkenal luas alim dan zuhud. 

Tadi sore , Seorang ponakan saya disayangi oleh Rausulullah SAW (Karena tiga kali disapa Rasulullah SAW), mengajak saya ziarah ke Makam Batu Layar, Lombok Barat. Makam ini tidak terlalu jauh dari Kota Mataram. Karena tumpang tindih pembagian wilayah administratif, akhirnya Batu Layar menjadi bagian dari kabupaten Lombok Barat, walaupun secara wilayah “lebih cocok dan lebih dekat” denga wilayah administratif Kotamadya Mataram.

Makam Batu Layar terletak di kawasan wisatan Pantai Senggigi. Kurang dari setengah kilometer dari kawasan kafe, bar, pub,  diskotik, dan deretan hotel-hotel kawasan pantai Sengigi. Bisa ziarah sekalian nge-Bar. 

Makam Batu Layar dari dulu menjadi tujuan peziarahan orang Sasak atau mereka yang menetap di Pulau Lombok. Sohibul Maqbaroh di batu Layar ini tidak diketahui secara pasti. Sebagian peziarah mengenal pemilik-makam Batulayar sebagai Ghaust Abdurrozak,  tapi banyak juga yang  meragukanya  karena hampir semua makam tua di sepanjang pantai bagian Barat Lombok dianggap sebagai makam Ghaust Abdurrozak.

Pada dekade 1980-an awal, saya biasa diajak kakek-nenek, ayah, atau pak dhe ke makam Batulalayar.  Biasanya selepas panen padi atau ada kelebihan rizki,  kakek – nenek mengajak ziarah ke Batulayar. Dari rumah kami membawa makanan berat : Nasi, rendang khas kampung kami (sesiong atau gula-lemak), lontong opor, dan sebagainya. 

Sebelum  ke Batulayar, kami ziarah ke Makam Rungkang (Karang Baru) dan Makam Bintaro. Menurut kakek saya, di Makam Rungkang ada makam saudara dari Sayyid Abdullah (sahabat dekat buyut saya) yang dibunuh oleh penguasa Bali saat “sedang” menjalankan ibadah solat fardhu. Di Bintaro kami ziarah ke makam Sayyid Abdullah, dan makam para ahlul bait Kanjeng Nabi SAW lainnya.

Kembali ke “sohibul- maqbaroh” di Batulayar, kakak sepupu saya, seorang yang saleh (bukan karena sepupu tapi kerena kenyataan), ketika sekolah PGA pada awal  dekade 1960-an pernah menziarahi makam Batu Layar bersama teman-teman sekelasnya. Saat ithujan turun dengan deras, mereka memutuskan bertuduh di tajuk makam Batulayar. Secara spontan,kakak sepupu saya dan beberapa temannya meletakkan sepatu mereka yang basah di atas makam. Pada malam harinya, setelah dari makam, kakak sepupu saya di datangi orang yang mengaku sebagai “Syeikh  Magribi” dalam tidurnya. Kakak saya terbangun. Agak kaget dengan mimpinya karena ditegur keras oleh sohibul- maqbaroh Batu Layar. Perhatian kakak saya hanya pada “teguran” dan tidak memperhatikan sebutan “Syeikh Magribi” karena kakak saya tidak tahu dan tidak pernah mendengar  nama “Syeikh Magribi” dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia. 

Baru pada tahun 2011, ketika Kakak saya datang ke Yogyakarta dalam rangka menengok calon mantunya (sekarang sudah jadi mantunya beneran ) yang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogya dan sekalian ziarah makam Wali Songo. Ketika saya ajak  zaiarah ke Makam Sunan Pandaran di Klaten, kakak saya mendengarkan cerita saya tentang sosok Syeikh/Maulana Magrib, spontan ia menceritakan mimpinya pada awal dekade 1960-an itu.

Tadi selepas  berkirim al-fatehah, al-ikhlas, al-falaq, solawat, saya menceritakan mimpi kakak saya kepada tiga ponakan saya. Bukan soal nama pemiliki makam itu yang penting, tapi bagaimana merawat kaidah-kaidah hidup leluhur kami: bahwa hidup di sebuah lingkungan atau wilayah tanpa ada ulamanya atau tanpa ada walinya adalah lebih berbahaya dengan hidup di “zona merah ” wabah yang sedang ganas.

Dari Batulayar kami mampir ke  Bintaro, terus ke Karang Kelok, dan pulang. 

Menziarahi makam  para ulama, doanya pendek-pendek saja : ALLAHUMMA ANTA AKRAMTAHUM BIL-MUUHIBATIL-JAMILATI WA KHOSSOSTAHUM BIHAA-ZIHIL-FADHILATI, ALLAHUMMA FA’FU ‘ANNAA WA’FU-‘ANHUM (doa Syaikh Sahal Tustari kepada sesama Wali dan Ulama). Amien………..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *