Setelah zaman kenabian, tidak didapati sebuah nama yang disematkan untuk para pemuka orang-orang Islam kecuali “Shahabat Nabi”.
Hal itu, karena tidak ada keutamaan yang lebih tinggi dari pada pangkat shahabat.
Orang-orang yang beriman dan bertemu dengan Nabi saat hidupnya disebut dengan nama “Shahabat Nabi”.
Dan ini terjadi pada kurun awwal.
Pada kurun kedua, orang-orang yang bertemu dengan para shahabat dan mengambil ilmu dari mereka disebut dengan nama “Tabi’in”, orang-orang yang mengikuti jejak para shahabat. Ini adalah nama yang paling mulia pada kurun kedua ini.
Pada kurun berikutnya, orang-orang yang bertemu dan mengambil ilmu dari para tabi’in disebut dengan istilah “Tabi’it Tabi’in”, orang-orang yang mengikuti para pengikut shahabat Nabi.
Setelah itu, terjadilah perbedaan dalam pangkat manusia. Pada zaman itu, orang-orang khusus dan mempunyai perhatian tinggi terhadap perkara keagamaan disebut dengan istilah “Ahli Zuhud (Al-Zahid) dan Al-Abid”.
Kemudian timbul suatu bid’ah dan pengakuan-pengakuan dari berbagai golongan. Dan setiap golongan dari mereka mengakui bahwa di dalam golongan mereka terdapat ahli zuhud.
Golongan khusus ahli sunnah yang menjaga setiap nafasnya untuk ingat kepada ALLOH dan menjaga hatinya dari lupa kepada ALLOH menamakan golongan mereka dengan nama “Ahli Tasawwuf atau shufi”.
Nama “Tasawwuf” ini telah terkenal dan digunakan untuk para pembesar mereka sebelum tahun dua ratus Hijriyah (sekitar tahun 800an Masehi). яндекс
Cuplikan kitab “Risalatul Qusyairiyah” yang dikaji bersama Syaikhina Maimoen Zubair di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar pada Romadhon 1439 H/ Mei 2018 M.
Pesan Kesadaran Waktu

No responses yet