Dalam dinamika keilmuan filsafat, ada Madzhab Stoikisme, yg lahir di Athena pasca era Aristoteles (384 – 322 SM, Khalkis Yunani), dilahirkan oleh seorang filosof bernama Zeno of Citium (332-262 SM), konstruks pemikirannya lebih banyak dipengaruhi oleh Socrates (meninggal tahun 399 SM, Athena klasik). Zeno adalah seorang filosof yg mengajarkan bahwa manusia harus mendapatkan kedamaian diri, melalui cara hidup yg sederhana dan tidak berlebih2an dalam segala hal.
Etika Kearifan
Ajaran Stoikisme yg berasal dari Zeno, lebih berfokus pada etika dan kebijaksanaan, membantu kita dalam meraih kebahagiaan dan kebijaksanaan diri dalam kehidupan, sesuatu yg bisa digunakan seseorang untuk menjalani kehidupan yg hebat, di mana di dalamnya kita menemukan beberapa kearifan terbesar dalam sejarah dunia filsafat Yunani.
Stoikisme menjadi aliran filsafat yg cukup populer di Romawi, terutama bagi mereka yg menyukai keseimbangan dan sederhanaan dalam menjalani kehidupan. Dua Stoik Romawi yg termasyhur adalah Cicero (Marcus Tullius Cicero, yg meninggal 7 Desember 43 SM) dan Seneca (Lucius Annaeus Seneca, meninggal 12 April 65 M, Roma, Italia).
Ada 4 kebajikan dalam stoisisme yaitu kebijaksanaan (wisdom), keadilan (justice), keberanian (courage) dan menahan diri (temperance).
Zeno mempunyai pemikiran tentang kehidupan sebagian rakyat Athena yg menderita, karena mereka menginginkan apa yg tidak mereka miliki, atau takut kehilangan apa yg mereka cintai. Mengejar kesenangan dgn memperoleh kesenangan dan mempertahankan apa yg sudah diperoleh.
Alih2 kesenangan, seseorang harus mempertimbangkan alasan dan mengakui bahwa semua hal tidak kekal dan tanpa nilai abadi. Begitu seseorang memahami hal ini, ia akan mencapai keadaan apatis yg tercerahkan, seseorang akan dibebaskan dari “perbudakan terhadap hasrat seseorang”.
Kesadaran Waktu
Ajaran tentang pentingnya menghargai waktu menjadi salah satu kesadaran kualitas-optimal, menghadapi keadaan normal, mereka harus menjadi salah satu refleksi dan melibatkan proses kesadaran batin. Inilah sebabnya, mengapa kita dituntut dgn tekun melindungi ruang dan pikiran pribadi mereka dari gangguan kesibukan dunia. Mereka tahu bahwa beberapa menit kontemplasi (tafakkur atau refleksi diri) lebih berharga, daripada pertemuan atau laporan apapun. Mereka juga tahu betapa sedikit waktu yg benar2 kita dapatkan dalam hidup.
Lemah batas mental
Seneca mengingatkan kita bahwa meski kita mungkin bisa melindungi properti fisik yg kita miliki, seperti rumah, kendaraan dll, kita terlalu lemah dalam menegakkan batas mental kita dalam menggunakan waktu yg ada. Properti, kendaraan dan karir, cepat atau lambat, dapat diperoleh kembali. Ada cukup banyak di luar sana.
Tapi bagaimana dgn waktu?
Waktu adalah aset berharga kita yg paling tak tergantikan. Kita tidak bisa membeli lebih banyak waktu. Kita hanya bisa menyia2kan sedikit mungkin.
Seneca mengatakan “jangan sampai ada seorang pun yg mencuri waktuku walau sehari, di mana tidak ada yang akan membuat pengembalian penuh atas kerugian itu.”
Pemikir Aljazair, Malik Bennabi mendefinisikan waktu sbg sungai yg mengalir ke seluruh penjuru wilayah sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota dan desa. Sungai itu menghadirkan perspektif ganda. Di satu sisi membangkitkan semangat. Di sisi lain akan meninabobokkan manusia. Waktu diam seribu bahasa, sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Walaupun segala sesuatu – selain Tuhan – tidak akan mampu melepaskan diri darinya.
Mengalir laksana air
Maksudnya, waktu itu mengalir seperti air. Manusia tidak akan tahu kapan waktu itu datang dan kapan waktu akan berlalu. Pernah manusia merasa seolah baru kemarin ia baru melakukan suatu rutinitas tahunan. Seperti Hari Raya Idulfitri, misalnya. Tiba2 kita akan bertemu kembali dgn momentum itu di waktu yg sangat sebentar.
Waktu mengalir meliputi segala sesuatu yg bisa jadi sumber semangat, bisa jadi manusia akan terlena dibuatnya. Tidak sadar manusia merasa waktu ujian akhir semester itu tiba2 datang, padahal baru kemarin manusia merasakannya, itu berarti waktu seperti meninabobokkanmu. Tapi ada kalanya waktu menjelma menjadi sumber semangat. Sama2 merasakan waktu ujian akhir semester yg tiba2 datang, dalam suatu momentum hal itu akan membuat manusia lebih bersemangat untuk menyelesaikannya.
Siklus waktu
Misalnya, pandangan Jawa tentang siklus “cakra manggilingan”. Cakra, bergerak memutar sementara manggilingan berarti melindas. Jadi, hidup ini seperti roda. Kadang di atas dan kadang juga di bawah. Maka kuasailah cakra manggilingan ini dgn kunci “triwikrama” (mengausai 3 dunia). Masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jika manusia mampu menguasai 3 dunia ini, maka ia mampu menaklukkan cakra manggilingan.
Jangan takut kehabisan waktu, karena waktu itu berputar. Jika manusia berada pada titik malas dan putus asa, segera akhiri kemalasan itu. Namun jika manusia enggan beranjak dari kemalasan, maka akan tercipta sirkulasi kemalasan yg tidak berujung.
Jebakan Berfikir
Seringkali karena terbiasa, kita melihat masa lalu sbg kenyataan. Kita mengingat apa yg telah lalu secara berlebihan, sehingga itu membuat kita cemas. Penyesalan dan kemarahan atas apa yg telah lalu pun muncul. Pada titik ini, kita lupa, bahwa kita memikirkan apa yang tidak ada. Kita pun akibatnya membuang2 energi percuma, serta menciptakan penderitaan tanpa alasan untuk diri kita sendiri.
Kita juga terbiasa terbiasa berpikir tentang masa depan. Kita terpaku pada rencana dan ambisi. Kita mengira, bahwa rencana dan ambisi adalah sesuatu yg nyata. Kita pun lupa, bahwa keduanya tidaklah sungguh ada, melainkan hanya sekedar bayangan semata.
Kebijakan Tertinggi : waktu kini
Caranya adalah dgn menjadi alamiah. Secara alamiah, kita tahu, bahwa yg sungguh2 nyata dan ada adalah masa kini. Jadi, mengapa sibuk memikirkan masa lalu dan masa depan? Lakukan apa yg terbaik disini dan saat ini, tanpa beban masa lalu, tanpa ambisi akan masa depan.
Inilah kebijaksanaan tertinggi. Ketika orang bisa mengakar pada masa kini dan sini, ia hidup dengan ketenangan batin yg dalam. Ia punya ingatan akan masa lalu, tetapi tidak dijajah olehnya. Ia punya harapan akan masa depan, tetapi tidak hidup di dalam bayang2nya.
Alasan keburu dan kehabisan waktu
Di belahan bumi Eropa, seorang pemikir dan fisikawan Sir Issac Newton mendefinisikan waktu sbg makhluk linier dan terbatas. Maksudnya waktu selalu berjalan. Tidak bisa berhenti. Apalagi mundur ke belakang. Manusia juga perlu berhati2 dgn sifat waktu yg terbatas. Jangan sampai manusia terlena dgn waktu luang. Ketika waktu luang itu terlewat, ya sudah, manusia bakal tertinggal. Slogan “keburu waktu” atau “kehabisan waktu” menegaskan kondisi itu. Menegaskan bahwa waktu bisa habis. Sebab, waktu selalu bersinggungan dgn keterbatasan. Filosofi Barat mengenal istilah “waktu adalah uang”. Jika manusia kehabisan waktu, ya berarti ia akan kehabisan uang.
Pesan Islam : waktu adalah nikmat
Waktu adalah salah satu nikmat pokok. Tanpa waktu, semua yang kita miliki tidak akan berarti. Saking pentingnya waktu, Allah Swt pun bersumpah atas nama waktu pada beberapa ayat yang tertera dalam Al-Qur’an.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan;
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.
Pada hakikatnya, waktu bagi manusia adalah umurnya sendiri. Apabila waktu berlalu, maka usianya pun semakin berkurang”.
Sehat dan waktu luang
Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, seringkali memperingatkan umatnya tentang waktu, di antaranya:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Dua nikmat yg banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Imam Bukhari, Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah).
Syaikh Abdul Fattah bin Muhammad dalam kitab Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata “tertipu” dalam hadis ini bermakna merugi.
Banyak manusia yg merugi karena nikmat sehat dan waktu luang. Ada orang yg sehat fisiknya, namun ia seakan tak punya waktu untuk persiapan akhirat karena terlalu sibuk dgn kehidupan dunia.
Ada pula orang yg punya cukup waktu untuk mempersiapkan akhirat, namun fisiknya sedang tidak sehat. Padahal, apabila memiliki keduanya, manusia dapat memanfaatkan waktunya untuk beribadah dan beramal saleh.
Perbanyak ketaatan
Oleh karena itu, apabila diberikan nikmat sehat dan waktu luang, perbanyaklah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, masa sehat akan disusul sakit, dan waktu luang akan disusul kesibukan.
Kitalah faktor konsumtif waktu
Bukannya kita punya waktu yg singkat untuk hidup, tapi kita membuang banyak waktu secara percuma dalam hidup. Hidup sudah cukup lama, dan itu diberikan oleh Tuhan, dalam ukuran yg cukup untuk melakukan banyak hal hebat, jika kita memanfaatkannya dgn baik. Tapi, ketika digunakan untuk kesenangan hawa nafsu, kelalaian dan tanpa terasa telah banyak umur yg kita habiskan. Kita tidak menerima kehidupan yg singkat, tapi kita yg membuatnya terasa singkat.
Tidak ada yg tahu berapa lama kita hidup, tapi kita bisa yakin satu hal: kita akan menyia2kan banyak waktu dalam kehidupan kita.
Wallahu a’lam
from a variety of sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet