Oleh: Gus Ahmad Gholban Aunirrahman
Berawal dari kunjungan gus dur ke al Azhar, universitas almamater beliau, ayah kami yang kebetulan mengikuti rombongan gus dur mewakili fraksi PPP saat itu, syaikh Azhar syaikh Ahmad Tantawi memberi kuota kepada indonesia lebih banyak dari tahun tahun sebelumnya. Maka, kami yang waktu itu sudah kuliah satu tahun di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pun diminta ayahanda untuk mengikuti ujian test masuk al Azhar.
Di bandara, ayah dan ibu mengantar kami. Tidak lupa juga pamanda kiai yusuf muhammad dan keluarga lainnya. Masih teringat sekali, ketika kaki ini berat melangkah meninggalkan keluarga, pamanda memberi pesan di depan keluarga kepada kami “sudah, pergi saja tanpa menoleh ke belakang seperti Nabi Ibrahim”. Maka kami pun melangkah pergi, tapi ternyata diri ini menyadari bukan Nabi Ibrahim, maka wajah ini menoleh kembali ke belakang di susul tawa keluarga besar yang mengantar.
Di saat penuh bimbang itu, tiba tiba ayahanda menghampiri, entah kenapa kami langsung menggenggam tangan beliau dan mencium selama mungkin dengan penuh takdzim dan hormat pada tangan beliau yang sekarang tidak mungkin kami ulangi karena kepergian beliau selamanya. Di saat itulah, kami melihat pertama kali beliau meneteskan air mata sambil sesenggukan. Mulai kecil, kami mengenal betul ayahanda adalah figur yang tangguh, keras dan berani menghadapi siapapun. Mulai dari menghadapi ABRI pada zaman orba, disetrum di dalam penjara, hingga melawan preman pasar, semua pernah beliau hadapi dengan gagah berani, tapi, di saat itu, di momen itu, beliau seperti kehilangan seluruh kegagahan dan keberanian beliau diganti dengan tetesan air mata yang terus jatuh melewati pipi beliau.
Menginjak kaki pertama kali di mesir, kami melihat papan tulis besar menyambut kami dengan tulisan
ادخلوا مصر ان شاء الله آمنين
Lima tahun kami menimba ilmu di al azhar. lima tahun kami mendapatkan uluran biaya hidup, makan dll dari al azhar.
Lima tahun kami menziarahi makam keluarga Nabi, Wali dan Ulama terkenal di mesir. Imam Husain, sayidah zainab, sayidah nafisah, Syaikh syadzili, syaikh ahmad badawi, syaikh ibn athaillah sakandari, syaikh imam bushiri, syaikh imam syafii, syaikh imam suyuti, syaikh ibn hajar asqalani dan lain lain.
Lima tahun juga kami mendengarkan alunan merdu umi kultsum malam malam hari untuk menghibur hati yang sepi.
Al azhar, 1081 tahun kini usiamu. Usiamu yang panjang sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan, karena salah satu alumnimu syaikh ibn athaillah sakandari dulu pernah menulis dalam karyanya
ما كان لله دام واتصل وما كان لغير الله زال وانفصل
“Sesuatu yang karena Allah akan abadi dan menyambung, dan sesuatu yang bukan karena Allah akan hilang dan terputus”.
Engkau dulu pernah dikembangkan oleh seorang sultan yang soleh, sultan salahuddin al ayyubi yang dulu pernah memerintah di mesir. Dia telah menitipkanmu pada Allah, maka sudah tentu insya Allah engkau pun akan dijaga oleh Allah.
Adapun tentang takdir alumnimu yang belajar darimu al azhar, janganlah kau terlalu dalam memikirkan. How is thc free cbd oil USA made? Karena para alumnimu sudah hafal betul tentang bait lagu ummi kultsum yang sering mereka dengar malam malam
يا حبيبى كل شيئ بقضاء
“Wahai kekasihku, segala sesuatu itu ada qadhanya (ketentuan dari Allah yang tidak bisa dirubah)”.
ah Al Azhar, seorang penyanyi pun ikut menjadi religius bila dekat bersamamu.
Sanah hilwah Al Azhar…
Bahibbak awi…

No responses yet