Penulis : Bintang Rhaudya dan Naila Keisya Salsabila
Universitas Muhammadiyah Prof Doktor Hamka
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam. Tinjauan pustaka dilakukan dengan menganalisis berbagai hal yang relevan. Hasil kajian menunjukan bahwa kesehatan mental dalam Islam adalah keseimbangan jiwa yang diperoleh melalui iman dan taqwa. Dengan menjaga hubungan baik dengan Allah, diri sendiri, dan lingkungan, seseorang dapat menghadapi tantangan hidup serta dampak negatif kemajuan zaman dengan tenang dan bijak.
Namun, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi tekanan modernisme yang memicu benturan antara kebutuhan materi dan spiritual, kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental, serta tuntutan hidup yang semakin kompleks, khususnya bagi remaja yang berada dalam fase peralihan menuju kedewasaan.
Pendahuluan
Di zaman modern, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, di balik kemajuan tersebut, muncul hal baru yang memengaruhi keseimbangan spiritual dan kesehatan mental. Tekanan hidup, tuntutan masyarakat, dan kurangnya pemahaman akan pentingnya kesehatan jiwa sering kali menimbulkan gangguan psikologis, terutama pada remaja yang sedang berada dalam fase peralihan menuju kedewasaan. Dalam perspektif Islam, kesehatan mental menjadi aspek penting yang berkaitan erat dengan iman, taqwa, dan kemampuan individu untuk menghadapi tantangan hidup sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Pembahasan
Fokus saat ini adalah kesehatan mental yang mencakup kesejahteraan emosional, psikologis dan sosial.
Islam adalah agama yang holistik, sehingga memiliki perspektif luas tentang kesehatan mental. Ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga memberikan petunjuk yang jelas tentang cara menjaga keseimbangan jiwa. Islam menganggap manusia sebagai makhluk yang kompleks yang terdiri dari tubuh, ruh, dan akal. Kesehatan mental dalam Islam juga berarti menderita gangguan jiwa, tetapi juga kondisi di mana seseorang dapat menjalani hidupnya secara optimal, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungannya. Jiwa seimbang: Islam menekankan betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara hati, nafsu, dan akal. Akal memberikan kita kemampuan untuk berpikir logis, dan nafsu mendorong kita untuk memenuhi kebutuhan biologis kita. Hati adalah pusat spiritualitas dan perasaan. Kecerdasan Emosional: Al-Qur’an dan hadis menawarkan banyak petunjuk tentang cara mengendalikan emosi secara efektif. Konsep-konsep Islam seperti sabar, syukur, dan tawakkal adalah contoh kecerdasan emosional. Spiritualitas: Menurut agama Islam, memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan adalah penting untuk kesehatan mental. Amalan ibadah seperti shalat, mengingat Tuhan, dan membaca Al-Qur’an mungkin dapat membantu anda menjadi lebih tenang dan tahan terhadap stres. Informasi mengenai kesehatan mental dapat ditemukan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Puisi yang berkaitan dengan ketenangan batin: Pentingnya menjaga ketenangan selama ibadah ditunjukkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 282. Hadis mengenai pentingnya menjaga kesehatan seseorang: Konsep kesehatan mental dalam Islam didasarkan pada Hadis Nabi Muhammad (SAW) yang mendorong para pengikutnya untuk menjaga kesejahteraan fisik dan spiritual mereka. Konsep Islam tentang Kesehatan Mental Menurut Islam, gangguan jiwa adalah penyakit yang membutuhkan perawatan dan dukungan. Islam tidak membedakan penyakit fisik dari penyakit jiwa.
Mereka percaya bahwa faktor biologis, psikologis, dan sosial dapat menyebabkan gangguan jiwa. Pengobatan: Islam tidak melarang pengobatan gangguan jiwa secara medis, tetapi itu harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam. Prinsip-prinsip Islam yang digunakan dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Ibadah: Beribadah dengan hati-hati dapat membuat Anda tenang dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Silaturahmi: Membangun hubungan baik dengan orang lain dapat membuat anda lebih bahagia dan kurang kesepian. Introspeksi Diri: Melakukan introspeksi diri secara teratur dapat membantu kita menemukan dan menyelesaikan masalah. Menyeimbangkan antara pekerjaan, gereja, dan waktu luang adalah salah satu cara untuk meningkatkan manajemen waktu dan mengurangi stres. Mempertahankan Program Diet dan Aktivitas Fisik: Kesehatan fisik dan mental saling bergantung satu sama lain. Pandangan Islam tentang Kesehatan Mental Saat Ini: Aib Sosial: Penyakit mental distigmakan, yang terus-menerus menghambat upaya untuk mempromosikan kesehatan mental. Dewasa ini, modernisme telah mencapai banyak kemajuan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun demikian, ada sisi kemanusiaan yang buruk yang menyebabkan kesengsaraan rohani. Ada berbagai masalah kejiwaan karena ada beberapa benturan antara materi dan elemen spiritual. Jika iman dan keyakinan Islam seseorang tidak kuat, hal itu dapat dengan mudah mengganggu pikiran mereka. Dalam psikologi Islam, dikenal adanya kepribadian muslim ketika gangguan jiwa atau penyakit jiwa mendominasi kepribadian seseorang. Masalah psikologis memiliki tingkat yang berbeda untuk setiap orang. Tidak dapat menyamakan dan menganggap masalahnya kecil. Karena masyarakat umum tidak memahami kesehatan mental, orang-orang di sekitar seringkali memberikan tanggapan yang negatif. khususnya kesehatan mental remaja. Di mana usia remaja ini adalah peralihan dari usia anak-anak ke usia dewasa. yang, tentu saja, dituntun secara mendalam dan terkesan secara tiba-tiba untuk menjadi bijak dalam semua aspek dan dituntut untuk mampu mengikuti segala kemajuan yang semakin maju. Berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, kesehatan mental dari perspektif Islam didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengelola fungsi-fungsi kejiwaan secara dinamis dan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Singkatnya, ada hubungan yang baik antara manusia dan pencipta. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2014, dalam Agustin 2018), kesehatan jiwa atau mental adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal, dan perkembangan tersebut berjalan selaras dengan kondisi orang lain. Mereka yang memiliki mental yang sehat memiliki pengetahuan tentang potensi mereka, ingin membantu orang lain, mampu mengatasi tekanan hidup, dan produktif sesuai kemampuan mereka. Beberapa penyakit kejiwaan yang dijelaskan dalam agama Islam termasuk pesimis, rasa dengki, sombong, ghadap (marah), hiqdu (dendam), ujub (membanggakan diri), dan dalam kondisi kesehatan, identik dengan waham, huzn (duka cita, sedih) yang berlebihan, putus asa, cemas, dan ragu. Sebagai seorang muslim, memiliki iman dan taqwa kepada Allah sangat penting untuk menjaga kesehatan mental kita karena dengan cara ini kita dapat mengendalikan cara kita bertindak, dan berperilaku dalam menghadapi segala macam masalah hidup. Orang-orang yang memiliki kesehatan mental yang baik dapat menghadapi dampak negatif dari perkembangan zaman yang terus maju dengan kesesuaian peradaban manusia ini.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kesehatan mental dalam prespektif islam:
- Hubungan dengan Allah: Hubungan yang kuat dengan Allah melalui ibadah dan doa akan memberikan ketenangan jiwa dan kekuatan dalam menghadapi segala cobaan.
- Hubungan dengan Manusia: Interaksi sosial yang positif dengan keluarga, teman, dan masyarakat sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.
- Pengetahuan Agama: Memahami ajaran Islam secara benar akan memberikan panduan hidup yang jelas dan membantu seseorang dalam mengambil keputusan yang tepat.
- Pengelolaan Emosi: Islam mengajarkan cara mengelola emosi seperti marah, sedih, dan kecewa dengan cara yang baik.
Kesimpulan
Jadi, kesehatan mental dalam perspektif Islam merupakan anugerah yang harus dijaga. Dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menjaga kesehatan mental dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
No responses yet