Kaum muslimin, sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, salah satunya dgn melafalkan kalimat hauqolah. Bacaan hauqolah yaitu : 

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim (Tiada daya dan upaya kecuali dgn kekuatan Allah yg Maha Tinggi lagi Maha Agung).

Kalimat ini sangat agung, sebab kandungan maknanya, menyatakan suatu sikap kepasrahan total seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yg menguasai seluruh alam. Semua daya energi dan kekuatan yg dimiliki seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya, tidak lain hanyalah berasal dari pertolongan-Nya semata.

Banyak dalil yg menjelaskan keistimewaan kalimat mulia yg satu ini. Ada hadits2 yg menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dgn empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Ada pula hadits2 yg menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus.

Tentang keutamaan kalimat Hauqolah, salah satunya termaktub dalam kitab Kaasifatus Sajaa Fii Syarhis Safiinatin Najaa, karya As-Sayyidul ‘Ulama al-Hijaz al-Imam Wal Fahm al-Mudaqqiq Asy-Syaikh Al-Faqih Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi at-Tanara al-Bantani al-Jawi Asy-Syafi’i Al-Makki atau Syaikh Nawawi Banten rahimahullah (wafat 1897 M usia 84 tahun, Jannatul Mualla Makkah), sbg berikut :

أَيْ لَا تَحَوُّلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلَّا بِاللهِ وَ لَا قُوَّةَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ إِلَّا بِعَوْنِ اللهِ، هكَذَا وَرَدَ تَفْسِيْرُهُ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَنْ جِبْرِيْلَ أَفَادَهُ شَيْخُنَا يُوْسُفُ السَّنْبَلَاوِيْنِيُّ

Maksudnya adalah tidak ada daya (menghindar) dari bermaksiat kepada Allah, kecuali dgn pertolongan Allah, dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada Allah, kecuali dgn pertolongan Allah. Demikianlah penafsirannya yg datang dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, dari malaikat Jibril. Demikian faidah itu, diberikan oleh guru kami, Syaikh Yusuf as-Sanbalawini rahimahullah.

وَ الْعَلِيُّ الْمُرْتَفِعُ الرُّتْبَةِ الْمُنَزَّهُ عَمَّا سِوَاهُ وَ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ و الْكِبْرِيَاءِ قَالَهُ الصَّاوِيُّ،

Dan al-‘Aliyyu (Maha Luhur) adalah Dzat Yang Maha Tinggi kedudukannya, yg tersucikan dari setiap sesuatu selain-Nya. Dan al-‘Adhiim adalah Dzat Pemilik keagungan dan kesombongan. Demikian juga pendapat Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al- Maliki atau Syaikh ash-Shawi rahimahullah (wafat 1241 H / 1825 M di Mesir) telah mengatakannya.

وَ إِنَّمَا أَتَى الْمُصَنِّفُ بِالْحَوْقَلَةِ لِأَجْلِ التَّبَرِّيْ مِنْهُمَا، فَهذِهِ عَلَامَةُ الْإِخْلَاصِ مِنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهِ

Dan sesungguhnya pengarang (Syaikh Salim Bin Abdullah Bin Said Bin Sumair Al Hadrami As Syafi’i rahimahullah, wafat 1271 H / 1854 M Tabah Abang Jakarta) mendatangkan dgn kalimat Hauqalah, hanyalah karena bertujuan membebaskan diri dari kedua hal itu (daya dan kekuatan manusia). Maka inilah tanda keikhlasan dari beliau, semoga Allah subhanahu wa ta’ala, meridhai beliau.

كَمَا قَالَهُ بَعْضُهُمْ: صَحِّحْ عَمَلَكَ بِالْإِخْلَاصِ وَ صَحِّحْ إِخْلَاصَكَ بِالتَّبْرِيِّ مِنَ الْحَوْلِ وَ الْقُوَّةِ،

Sebagaimana sebagian ulama telah mengatakannya: “Murnikan amalmu dgn keikhlasan, dan murnikan ikhlasmu dgn membebaskan diri dari daya dan kekuatan (diri sendiri)”. Terdapat juga di dalam kitab Syarhul Hikam, Juz 1, halaman 11, baris ke 3-1 karya Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibaad (‘Abbaad) ar-Randii al-Maliki Asy-Syadzili atau Imam Ibnu Abbad, wafat 17 Juni 1390 M / 24 Jumadal Akhirah 792 H di Fez Maroko)

وَ أَيْضًا هِيَ غِرَاسُ الْجَنَّةِ كَمَا فِيْ حَدِيْثِ الْمِعْرَاجِ لَمَّا رَأَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ جَالِسًا عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ عَلَى كُرْسِيٍّ مِنْ زَبَرْجَدَ أَخْضَرَ

Dan juga kalimat Hauqalah merupakan tanaman2 surga, sebagaimana (keterangan) dalam hadits Mi‘raj : “Tatkala Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihat baginda kita Nabi Ibrahim alaihis salam, sedang duduk di dekat pintu surga di atas kursi dari batu permata berwarna hijau.

Keterangan ini juga ada dalam kitab Musnad Imam Ahmad, hadits ke 22450 dari riwayat Sahabat Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu Anhu (wafat tahun 52 H / 672 M usia 80 tahun di Konstantinopel Kompleks Masjid Ayyub Sultan di Istanbul), Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مَرَّ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ فَقَالَ: مَنْ مَعَكَ يَا جِبْرِيْلُ قَالَ: هذَا مُحَمَّدٌ فَقَالَ لَهُ إِبْرَاهِيْمُ: مُرْ أُمَّتَكَ فَلْيُكْثِرُوْا مِنْ غِرَاسِ الْجَنَّةِ فَإِنَّ تُرْبَتَهَا طَيِّبَةٌ وَ أَرْضَهَا وَاسِعَةٌ قَالَ: وَ مَا غِرَاسُ الْجَنَّةِ قَالَ: لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا اللهُ. 

Hadits tsb termaktub juga dalam beberapa kitab, seperti :

1. Kitab Syu‘abul Iman karya Abubakar Ahmad bin Husain bin Ali bin Abdullah al-Baihaqi Asy-Syafi’i atau Imam Baihaqi rahimahullah (384 – 458 H / 994 – 1066 M Naisabur, Iran), Juz I, halaman 443, hadits ke 657 dan 658, dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu Anhu, kalimat mirip dalam kitab Musnad Ahmad 

2. Kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Asyfiya’, Juz I, halaman 197, karya Al-Allamah Ahmad ibn `Abdullah ibn Ahmad ibn Ishaq ibn Musa ibn Mahran al-Mihrani al-Asbahan  al-Ahwal al-Asy’arī asy Syafi’i atau  Imam Abu Nu‘aim Al-Isfahani rahimahullah (947 – 1038 M, Isfahan Iran), dari Abu Ayub al-Anshari Radhiyallahu Anhu, kalimat mirip dalam kitab Musnad Aḥmad. 

3. Kitab At-Targhibu wat-Tarhib, Juz II, halaman 291, hadits ke 2443, karya Zakiyyuddin Abdul ‘Adhim bin Abdul-Qawiy bin Abdullah bin Salamah Abu Muhammad Al-Mundziri Asy-Syafi’i atau Imam Al Mundziri rahimahullah (wafat 4 Dzulqa’dah 656 H / 2 November 1258 M di Mesir) dari Abu Ayub al-Anshari Radhiyallahu Anhu, kalimat mirip dalam kitab Musnad Aḥmad. 

4. Kitab Al-Jaami‘ush Shaghiir, Juz 1, huruf hamzah, halaman 54-55, karya Al-Imam Al-Hafidh Al-Mufassir Al-Muhaddits Jalaluddin Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin,  al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari atau Imam As-Suyuthi rahimahullah (3 Oktober 1445 –  18 Oktober 1505 M di Kairo, Mesir), Hadits riwayat Imam Thabrani rahimahullah (Kamis, 26 September 971 M / 28 Dzulqa’idah 360 H di Mesir), dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu Anhu (610 – 693 M, Mekkah) disebutkan dgn kalimat: 

أَكْثِرُوْا مِنْ غَرْسِ الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ عَذْبٌ مَاؤُهَا طَيِّبٌ تُرَابُهَا فَأَكْثِرُوْا مِنْ غِرَاسِهَا لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.

Secara lengkap berbunyi :

قَالَ لِسَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مُرْ أُمَّتَكَ فَلْتَكْثُرْ مِنْ غِرَاسِ الْجَنَّةِ فَإِنَّ أَرْضَهَا طَيِّبَةٌ وَاسِعَةٌ

Maka Nabi Ibrahim alaihis salam berkata kepada baginda kita Rasulullah shalallahu alaihi wasallam : Perintahkan umat anda agar mereka memperbanyak tanaman2 surga, karena sesungguhnya tanah surga itu sangat baik (subur) lagi luas.”

فَقَالَ: وَ مَا غِرَاسُ الْجَنَّةِ؟

Lalu Nabi s.a.w. berkata: “Apakah tanaman2 surga itu?”

فَقَالَ: لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Maka Nabi Ibrahim alaihis salam berkata: “(Tanaman2 surga itu adalah) kalimat Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim (Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan, kecuali dgn pertolongan Allah, Yang Maha Luhur lagi Maha Agung)”

وَ مِنْ خَوَاصِّهَا مَا فِيْ فَوَائِدِ الشَّرْجِيِّ قَالَ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا بِسَنَدِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “مَنْ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يُصِبْهُ فَقْرٌ أَبْدًا”. اهـ.

Dan di antara keistimewaan kalimat Hauqalah adalah keterangan yg terdapat dalam kitab Fawaa’idusy Syarjiyyi: “Telah berkata Imam Ibnu Abid-Dunya dgn sanadnya yang tersambung sampai Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, “Bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, telah bersabda: “Siapa saja yg mengucapkan di setiap hari kalimat Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim sebanyak 100 (seratus) kali, maka kefakiran tidak akan menimpanya, selamanya.”  Demikian penjelasan Syaikh asy-Syarjiyyi atau Abdul Lathif bin Abi Bakar bin Ahmad bin Umar asy-Syarji az-Zubaidi rahimahullah (747 – 802 H / 1346 –  1399 M).

Terdapat di kitab Al-Waabil ash-Shayyib min al-Kalim at-Thayyib, halaman 107, karya Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i, al-Dimashqi  Al-Hambali atau Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (28 Januari 1292 – 15 September 1350 M Damaskus, Suriah) dari Asad bin Wada’ah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: 

مَنْ قَالَ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ مِائَةَ مَرَّةٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ لَمْ يُصِبْهُ فَقْرٌ أَبْدًا. 

Di dalam kitab At-Targhibu wat-Tarhib, Juz II, halaman 295, hadits ke 2458, dari Asad bin Wadā‘ah Radhiyallahu Anhu, dgn kalimat sama kitab  Al-Waabil ash-Shayyib min al-Kalim at-Thayyib

وَ رُوِيَ فِي الْخَبَرِ أَيْضًا: “إِذَا أُنْزِلَ بِالْإِنْسَانِ مُهِمٌّ وَ تَلَا لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ثَلَاثَمِائَةِ مَرَّةٍ فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ أَيْ أَقَلَّهَا، ذلِكَ ذَكَرَهُ شَيْخُنَا يُوْسُفُ فِيْ حَاشِيَتِهِ عَلَى الْمِعْرَاجِ”.

Dan diriwayatkan dalam sebuah hadits juga : “Apabila turun kepada seorang manusia hal yg menggelisahkan, dan ia membaca Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim, sebanyak 300 (tiga ratus) kali, niscaya Allah akan meringankan darinya,” yakni mengurangi hal yg menggelisahkannya itu. Demikian dituturkan hal itu oleh guru kami, Syaikh Yusuf dalam Hasyiyah beliau mengenai penjelasan al-Mi‘raj.

Di dalam kitab Al-Jaami‘ush Shaghiir, juz I, huruf hamzah, halaman 36, baris ke 4-3, (dari bawah), HR. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishak bin Ibrahim bin Asbath al-Hasyimi al-Ja’fari al-Dinawari atau Imam Ibnu Sunni rahimahullah (wafat 364 H / 975 M) dari Sayyidina ‘Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah (17 Maret 599 M, Ka’bah, Mekkah – 29 Januari 661 M,  Kufah, Irak) disebutkan dgn kalimat: 

إِذَا وَقَعْتَ فِيْ وَرَطَةِ فَقُلْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ وَ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَصْرِفُ بِهَا مَا شَاءَ مِنْ أَنْوَاعِ الْبَلَاءِ.

Meskipun singkat, kalimat hauqolah memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah memperoleh pertolongan ketika menghadapi kesulitan. Dikisahkan pada suatu hari Abu Abdurrahman bin Abi ‘Auf, Al Asyja’iy Al Ghathafaniy Radhiyallahu Anhu (wafat 73 H / 692 M di Syam) menghadap  Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan berkata :

“Anakku ditawan musuh, ibunya pun sangat sedih. Apa yg harus aku lakukan wahai Rasulullah ?”. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kamu dan istrimu, memperbanyak ucapan hauqalah, yaitu laa haula wa laa quwwata illa billah.”

Istri Auf berkata, “Alangkah baiknya perintah dan saran Rasulullah itu.” Kemudian mereka memperbanyak bacaan tsb. Sehingga, tanpa disangka2, suatu ketika musuh yg menawan anak mereka itu lengah. Si anak pun berhasil melarikan diri dari tawanan musuh sambil membawa beberapa ekor kambing milik sang musuh tadi” (HR. Al-Hafizh Al-Allamah Al-Muhaddits fi Asbahan Abu Bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih bin Faruk bin Musa bin Ja’far -Asbahani atau Imam Ibnu Mardawaih, 323 – 410 H / 934 – 2019 di Isfahan Iran).

Sahabat Nabi, Abu Musa al-Asy’ary atau Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadldlor al-Asy’ari radhiyallahu’anhu (wafat 50 H / 670 M di Kufah) berkata :

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا”. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَقَالَ: “يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ”

“Pada suatu hari kami bepergian bersama dgn nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Setiap kali melewati jalan menanjak kami  bertakbir (dgn suara keras). Maka Nabi shalallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Wahai para manusia, kasihanilah diri kalian. Sungguh kalian tidaklah sedang memanggil dzat yg tuli atau sesuatu yg tidak ada. Namun kalian sedang memanggil Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat!”. Kemudian beliau mendatangiku, dan saat itu aku sedang membaca dgn lirih, “La haula wa la quwwata illa billah”. Maka beliaupun berkata, “Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah La haula wa la quwwata illa billah. Sungguh ia merupakan salah satu harta karun surga”. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallah).

Dalam hadits di atas, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, ingin menjelaskan berbagai amal salih kepada para sahabatnya. Saat beliau melihat mereka mengerjakan amal salih, yakni takbir, beliau menginginkan mereka agar menambahkan amal salih lainnya. Yaitu mengucapkan kalimat hauqolah.

Dalam riwayat hadits lainnya, dijelaskan bahwa kalimat hauqolah ini, juga memiliki keutamaan dapat menghindarkan seseorang dari berbagai macam kemudharatan, termasuk kesedihan dan kegalauan. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu (619 M, Mekkah – 687 M, Tha’if, Arab Saudi), Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Perbanyaklah mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illāaa billaah, karena kalimat itu merupakan perbendaharaan surga. Dan kalimat itu menolak (menutup) 99 pintu kemudharatan, yg paling rendah adalah kesedihan dan kefakiran”.

Begitu dahsyatnya dzikir kalimat Laa haula wa laa quwwata illaa billaah  hingga Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa orang2 yg dgn khusyu’ mengucapkannya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ، وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ”

“Tidaklah seorang di muka bumi mengucapkan la ilaha illallah, Allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah dan la haula wa la quwwata illah billah; melainkan dosa2nya akan diampuni, walaupun lebih banyak dibanding buih di lautan”. (HR. Imam Ahmad bin Hambal dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Imam al-Hakim dan Imam adz-Dzahabi rahimahumullah)

Lafadz hauqalah ini merupakan bacaan yg baik atau kalimah thayyibah, yg memang seharusnya dilazimkan oleh lidah kita sbg umat Islam. Dengan kelaziman pada bacaan lafadz ini, kita berharap Allah subhanahu wa ta’ala membuka jalan keluar atas kebuntuan masalah yg tengah kita hadapi. 

Wallahu a‘lam dan semoga bermanfaat

From various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim Jama’ah Sarinyala Kabupaten Gresik 

Picture : https://islamic-art-and-quotes.tumblr.com

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *