Pulang

Kematian itu pasti akan menjemput setiap yang bernyawa, begitulah firman Tuhan. Dan kematian itu tidak bisa kita prediksi kapan malaikat Izroil akan menjemput pelanggannya. Itu hal gaib yang harus di-imani oleh semua umat Islam. Karena tidak “janjian” dengan malaikat, maka seharusnya kita sebagai orang mukmin harus menyiapkan bekal yang sebanyak mungkin untuk bekal di alam barzah dan hari akhir nanti. Dan ada tiga amal jariyah yang selalu memberi dan menemami selama di alam barzah nanti. 

 Shodaqoh yang tak terbilang nilainya sudah beliau berikan, anak dan santri-santri selalu mendoakannya, dan Ilmu yang manfaat dengan diamalkan untuk dirinya sendiri, serta diajarkan kepada orang lain, masjid dan madrasah yang selalu ditempati untuk beribadah dan belajar, itu semua adalah bekal yang telah disiapkan oleh kyai Habib. 

Mulai akhir tahun 2019 kyai Habib sudah merasakan dirinya tidak akan lama lagi akan pulang. Baik ketika ngajar di Ma’had Aly maupun ketika di rumah, beliau meminta kami untuk selalu mendoakan agar pulang dalam keadaan khusnul khotimah. Permintaan itu selalu beliau minta dan diulang-ulang kembali. “Semua itu tergantung khataman-nya, baik itu jika khataman-nya baik, jelek itu jika khataman-nya jelek. Berdoalah agar Khusnul khatimah”.

“Wong iki gak penting sedone kapan, seng paling penting iku perisapane”, dawuh Yai Habib. Nabi menyebutkan bahwa orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk bekal setelah mati. Salah satu sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.”

Allah berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 154: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, karena (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi engkau tidak menyadarinya.” kita meyakini sesungguhnya bahwa Kyai Habib Ahmad itu tidak meninggal, yang meninggal hanya jasadnya saja. Sedangkan ruh dan jiwanya akan tetap hidup untuk membimbing kita semua yang ada di dunia fana’ ini. Beliau meninggalkan dunia yang penuh tipu daya ini menuju tempat yang abadi disisi Allah yang maha kuasa. 

Mulai tanggal 18 September kyai Habib mulai dirawat di RSNU Jombang. Dan pada 24 September dikabarkan bahwa beliau sedang kritis, dan ditangani khusus oleh tim medis di ruang ICU. Alhamdulillah pada 25 September dikabarkan beliau berhasil melewati masa kritis. Mendengar kabar ini kita para santri sangat bergembira sekali bahwa keadaan beliau semakin membaik. Ingat, semua itu telah ditentukan Allah saat zaman Azaly. Apapun yang sudah ditakdirkan oleh Allah tidak ada yang bisa menghentikan, maupun merubahnya. Pada Sabtu Kliwon, 02/Shofar/1442 H, bertepatan dengan 26 September 2020 M, pukul 12 siang, Kyai Habib Ahmad pulang ke Rahmatullah. Almarhum wafat pada usia 71 tahun. Almarhum dilahirkan pada 12 Juni 1949 M atau 13 Sya’ban 1368 H. 

Ingin menulis riwayat hidup panjang tentang beliau, tetapi banyak kisah yang beliau ceritakan itu lupa diingatan penulis. Dan keteladanan yang kami saksikan dari kepribadian beliau sangatlah banyak sekali, rasa-rasanya tak kuat untuk ditulis satu persatu. Betapa guru, kyai, serta pengasuh kami di pesantren benar-benar ikhlas, sabar, dan penuh keteladanan. Berkat doa dan koneksi batin yang tertautan keikhlasan, maka jiwa ini terasa dekat dengan beliau. 

Semoga semua amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan ditempatkan di surga Firdaus. Semua ilmu yang telah diberikan kepada kita semua, semoga menjadi ilmu yang manfaat dan barokah. 

Apa yang penulis tulis pada #Manaqib_Syaikhina_KH_Habib_Ahmad dari seri pertama hingga seri yang akhir adalah hasil meng-ingat-ingat kisah yang beliau pernah ceritakan, baik ketika ngaji, saat di mobil, maupun saat di ndalem. Mbah Kin, Kang Irul, Kang Nazri, Gus Dani, Kang Imam Amruzi, Kang Zen, kang Iqbal, dan yang lain semua itu adalah patner penulis disaat menemani kyai Habib. Memohon kepadanya untuk mengoreksi apa yang telah penulis tulis.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *