Siapapun tak meragukan lagi predikat Al-Alim Al-Alamah Al Faqih Al Muhaddits Al Musnid Al Muqri Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah Al-Tarmasi. Jasa besar beliau membangun jaringan ulama nusantara sejak akhir abad 19, menjadi bukti ketokohannya patut disejajarkan dengan para ulama-ulama besar dunia.
Tapi adakah yang tahu sisi lain dari kehidupan pribadi beliau yang jauh dari bayangan kita selama ini? Juga soal peruntungan jodoh yang selalu berakhir pada takdir di luar kuasa manusia?
Bicara soal kehidupannya di Makkah, keseharian beliau jauh dari cukup dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari kesederhanaan dan serba kekurangan inilah, yang kemudian menempa beliau menjadi pribadi tangguh dan unggul hingga hampir sepanjang hidupnya didedikasikan untuk ilmu dan amal.
Bagaimana dengan jodoh? Syahdan, salahsatu guru beliau di tanah Jawa, Kyai Sholeh bin Umar, atau lebih dikenal dengan Mbah Sholeh Darat, Semarang, punya harapan besar bisa mengambil menantu murid kinasihnya tersebut. Berbagai upaya dilakukan agar sang murid yang jauh berada di tanah Haram, suatu saat kembali ke tanah Jawa memenuhi keinginannya menjadi menantu.
Salahsatu bentuk harapan yang dilabuhkan oleh Mbah Sholeh adalah dengan mengirim paket berbagai keperluan dan kebutuhan hidup selama di Makah. Tujuannya tak lain sebagai bentuk pengikat agar kelak sang murid mau menerima keinginannya dijadikan menantu.
Sementara Syaikh Mahfudz yang kesehariannya sibuk bergulat dengan aktifitas keilmuan, baik belajar, mengajar maupun menulis berbagai karya ilmiah, tak sempat menghiraukan berbagai kiriman kebutuhan yang di alamatkan kepadanya. Semua paket yang beliau terima diserahkan kepada saudaranya, Syaikh Dahlan dan dimanfaatkan untuk keperluan sehari-harinya.
Hingga pada suatu ketika datanglah surat yang isinya menagih harap atas apa yang selama ini dilabuhkan lewat kiriman paket yang dialamatkan kepada Syaikh Mahfudz. Tentu saja hal tersebut membuat kaget Syaikh Mahfudz. Bila menerima, hatinya tidak terpaut krentek sedikitpun. Bila tidak, berat rasanya menolak keinginan sang guru. Setelah lama merenung dan ikhtiar meminta petunjuk dari Allah, akhirnya Syaikh Mahfudz merespon permintaan tersebut dengan cukup cerdas dan masuk akal.
Dalam surat balasannya, beliau sampaikan kepada Mbah Kiai Soleh, bahwa beliau tidak menolak apa yang menjadi keinginan sang guru, tapi karena maksud dari kiriman yang selama ini ditujukan kepadanya agar kelak mau diambil menantu, maka si penerimalah yang harus rela menjadi menantu sang guru, yang tak lain adalah saudaranya sendiri, Syaikh Dahlan.
Syaikh Mahfudz kemudian menitipkan surat balasan tersebut kepada Syaikh Dahlan untuk disampaikan kepada Mbah Soleh, saat beliau bersama kedua adiknya, Mbah Kiai Dimyathi dan Kiai Abdurrazzaq pulang ke tanah air. Beliau hanya berpesan, agar Syaikh Dahlan tetap tinggal di Semarang dan kembali belajar di tempat gurunya tersebut, tanpa mengetahui maksud terselubung Syaikh Mahfuzh.
Setelah surat balasan sampai di tangan Mbah Soleh, akhirnya sang guru dengan lapang harus menerima suratan takdir, menjadikan Syaikh Dahlan sebagai menantu beliau.
Wallahu a’lam.
Diadaptasi dari cerita Syaikhi wa Akhi KH Fuad Habib Dimyathi, dari (Alm) KH Harir Muhammad Mahfuzh. Tulisan ini terdapat di buku “Bunga Rampai dari Tremas”.
Kredit Foto : Dua cuplikan surat pribadi Syeikh Mahfuzh, manuskrip Syeikh Dahlan dan tulisan asli beliau.
Yang tertarik Buku “Manuskrip Tremas” bisa kontak di sini

No responses yet