Teori Quantum Pendidikan

Fisika quantum yang mencapai puncaknya di masa Einstein perlu kita gunakan sebagai spirit pendidikan. Spirit fisika dalam teori pendidikan bukan sama sekali baru. Ia telah pula dilakukan di Eropa. Patrick Slattery dalam karyanya Curriculum Development in The Postmodern Era melaporkan bahwa kurikulum pendidikan Eropa pada era modern sebelumnya terinspirasi dari capaian fisika Newton. Fisika Newton yang bercirikan formal, matematis, pasti dan tetap mewarnai hampir seluruh sistem pendidikan di Eropa kala itu. Sehingga, pendidikan diselenggarakan sedemikian matematis, dengan taksiran capaian dan kualitas pembelajar yang sangat kaku, tidak relatif. Ini mengalami cacatnya sendiri. Ketika keberhasilan hanya ditentukan dengan seberapa banyak materi disampaikan, seberapa lama alokasi waktu digunakan, maka sama saja mengkebiri faktor sosial lain yang dialami pembelajar. Bukankah pembelajar pada titik tertentu tak selalu bergantung pada guru? Jika murid malas, walau guru rajin, apa yang akan dihasilkan? Bukankah dalam proses lanjut, kerajinan seorang siswa dalam belajar dan mengeksploarasi sekaligus mengembangkan pengetahuan yang diterimanya di kelas menjadi faktor paling penting?

Penemuan mesin uap oleh James Watt yang mengandaikan bahwa energi atau output yang dihasilkan berbanding lurus dengan input yang diterima, cukup mewarnai paradigma pendidikan Eropa kala itu. Guru dianggap sebagai input, sedang murid dianggap output. Semakin cerdas guru, semakin berhasil pula siswa. Apakah demikian?

Penemuan fisika quantum Einstein menandai paradigma postmodern pendidikan. Pendidikan pun didasarkan pada new science: kompleks, multidisipliner, eklektik, interdisipliner, relasional, dan dengan sistem metafor.[10] Teori quantum pendidikan pun bisa meminjam spirit fisika quantum sebagai puncak reformasi paradigma seputar kosmologi. Dinamika jauhar fard atau atom yang berliku dan membutuhkan observasi demi observasi menyiratkan bahwa sistem pendidikan seharusnya berdinamika, dan harus selalu diuji keakuratannya. Jika fisika quantum mampu merombak paradigma memandang alam semesta, layaknya pula sistem pendidikan nasional harus didasarkan paradigma baru ini pula. Bukankah pada titik tertentu pendidikan adalah persiapan awal bagi siswa berinteraksi dengan alam semesta dan hubungannya dengan kemanusiaan dan realitas sosial?

Atom  yang dianggap sebagai materi terkecil dalam alam semesta yang pada gilirannya mampu merubah paradigma memandang alam—bahkan bisa mencipta bom—juga menginstruksikan bahwa faktor sekecil apapun dalam pendidikan perlu dipertimbangkan. Keberhasilan siswa seringkali dipengaruhi faktor kecil yang sering tak disadari. Antusiasme siswa, penampilan dan performa guru dalam pendidikan menjadi sangat menetukan. Tegasnya, sistem pendidikan nasional harus dimodifikasi sedemikian rupa—meski dengan bentuk otonomi kelas, penanaman tumbuhan di sekitarnya, gambar-gambar kartun yang menarik, lampu-lampu yang menghiasi kelas, dsb misalnya—sehingga siswa menjadi nyaman belajar dan bergairah untuk tetap tinggal. Ada semacam survey pendidikan nasional bahwa pelajaran matematika dan bahasa inggris menjadi momok siswa. Jangan-jangan faktornya karena guru tak mampu menampil-pampangkan materinya dengan elegan dan menarik? Solusinya, tentu dengan teori quantum pendidikan.

Kurikulum Quantum adalah Akomodasi Nilai Agama dan Sains Modern

Ada semacam paradigma lama bahwa sistem pendidikan agama dan sains harus dibedakan secara ekstrem. Saya kira tidak jika kita mampu mengakomodir nilai agama sekaligus sains modern dengan elegan. Sistem pembelajaran materi agama dalam kurikulum nasional saat ini kurang disinergikan dengan sains modern. Memang, ada semacam konsep paten dalam agama yang seharusnya tak dibombardir layaknya sains, namun mengapa sistem penilaian, pembuktian, observasi, eksplorasi tak diterapkan dalam pengajaran agama? Jika agama, misalnya, mengajarkan bahwa shalat tahajjud sangat dianjurkan, mengapa guru agama tak berusaha memancing, ataupun mendorong, siswa untuk membuktikan secara empiris hikmah anjuran agama ini?

Dr. Sholeh, seorang asli Kediri yang pernah mengenyam pendidikan agama sekaligus kedokteran di Unair, menuliskan buku yang sangat populer dan menakjubkan. Ia melakukan penelitian rahasia shalat malam dan faedahnya terhadap aliran darah, kesehatan manusia, dan kebugaran jasmani. Ia menuliskannya awalnya dalam disertasinya di Unair. Pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa anjuran agama terhadap shalat malam bukan tanpa hikmah. Tapi, dipandang dari segi kesehatan sangat lah baik. Tentunya,  pengalaman Dr. Sholeh ini bisa dijadikan contoh. Tentunya pelajaran agama tak harus diajarkan secara doktrinal dan tanpa memancing siswa didik untuk menemukan rahasia di baliknya. Misalnya saja, guru memberikan tugas pada siswa untuk melakukan shalat malam selama 7 hari berturut-turut  dan menyuruh mereka untuk merasakan efek pada tubuh mereka dan kesehatan jasmani. Bukankah ini sangat menarik?

Demikian juga sistem pendidikan sains dalam kurikulum nasional harus sedini mungkin disinergikan dengan nilai agama. Konsep ikhlas, sabar, istiqamah, tawakkal, tawadlu’, dsb, bisa dimasukkan dalam pembelajaran sains. Nantinya, akan muncul para ilmuwan yang ikhlas meneliti demi kemajuan bangsa, sabar dan istiqamah berobservasi dalam penelitiannya sehingga memunculkan penemuan yang sangat menggelegar, tawakkal dalam menerima apapun hasil penelitiannya sehingga jika gagal ia tak frustasi dan tetap tawadlu’ ketika berhasil usahanya. Bukankah sangat menarik kawan?! Kurikulum quantum di sini jelas sangat bermanfaat.

Immanuel Kant dalam Critique of Practical Reason menegaskan bahwa seseorang harus mampu beretika dengan cara memiliki prinsip etis dalam dirinya. Namun prinsip ini harus memenuhi standar yang baku: bahwa ia harus bisa diterapkan secara universal. Misalnya, seseorang tak pantas mencuri karena jika etika mencuri diterapkan, misalnya, oleh semua orang di suatu negara, maka apa jadinya? Jika negatif, maka ia bukan prinsip etika yang baik. Misal lain, jika tiap warga negara semuanya rajin bekerja dan menabung, maka apa jadinya? Tentunya baik kan? Sehingga, etika rajin dan gemar menabung memenuhi standar prinsip etika yang ideal.[11] Jika demikian, seorang ilmuwan berhasil semisal Kant pun menerapkan nilai-nilai agama, atau etika tepatnya, kan?!

Ini mengapa pada pembahasan di muka, saya sengaja menuturkan sejarah lika-liku konsep jauhar fard mulai dari era Yunani, Islam sampai Eropa. Itu adalah isyarat yang saya berikan bahwa kurikulum quantum yang baik adalah akomodasi nilai agama dengan sains modern.

Kritik konsep jauhar fard, meski tertera dalam kitab ilmu kalam, ilmu akidah, saya cantumkan pula demi mengilustrasikan bahwa konsep agama dalam titik tertentu perlu diuji coba dan diobservasi kembali untuk mengukur sejauh mana keakuratannya itu. Jika kurang tepat, tentunya konsep-konsep agama yang sangat parsial ini bisa direformasi, sebagaimana yang dilakukan Ibnu Rusyd dalam al-Kasyf ‘an Manâhij al-Adillah.Pun itu adalah indikasi bahwa nilai agama, konsep-konsepnya, dan teori-teorinya, perlu disenyawakan lebih lanjut dengan sains modern. Caranya tentunya dengan menggunakan piranti dan alat-alat modern untuk membuktikannya. Dengan demikian, agama menjadi bersahabat dengan sains, sains pun tak memusuhi agama seperti di Era Pertengahan Eropa.

Jika demikian, kurikulum pendidikan pun harus disenyawakan kedua unsur agama dan sains modern ini. Setiap lembaga pendidikan, baik agama maupun sains, harus dilengkapi dengan laboratorium modern, alat-alat tekhnologi canggih, serta tempat ibadah yang nyaman sehingga nilai agama dan sains modern bisa berdampingan dengan harmonis.

Namun, yang juga penting di samping semua di atas, bahwa negara sebagai penyelenggara pendidikan harus berusaha meningkatkan ekonominya sehingga proses pendidikan pun berjalan lancar. Jika fasilitas, anggaran pendidikan dan guru pengajar tersedia dengan cukup dan dibiayai negara dengan efisien, maka potensi kemajuan pendidikan akan semakin besar. Kesimpulan ini sempat dituturkan Ibnu Khaldun dalam magnum opus-nya, Muqaddimah. Ia bertutur bahwa zaman dulu pusat-pusat pendidikan Islam di era keemasannya selalu berpusat di daerah-daerah yang cukup makmur ekonominya. Mengapa? Pendidikan adalah suplemen warga negara setelah berhasil memenuhi sandang-papannya. Jika sandang-papannya terpenuhi dengan baik, yang dicirikan dengan pendapatan per kapita warga secara umum cukup, sangat dimungkinkan pendidikan di sana pun berkembang pesat.[12]

Sehingga, apa yang dibutuhkan sekarang dalam rangka reformasi kurikulum Indonesia adalah kurikulum berbasis quantum bukan? Salam.

 Catatan kaki:

[1] Jonathan Crowter (ed.), Oxford; Advanced Learner’s Dictionary, Britain: Oxford University Press, cet. V, 1995, hal. 950.

[2] Jostien Gaarder, Sophie’s World, diinggriskan oleh Paullet Miller, New York: Berkeley Books, cet. I, 1994, hlm. 31.

[3] Stephen Hawking, A Brief History of Time, New York: Bantam Books, tnp cet., 1989,hlm. 67.

[4] ‘Âbid al-Jâbiri, Binyah al-‘Aql al-‘Arabi, Beirut: Markaz Dirâsât al-Wahdah al-‘Arabiyyah, cet. VIII, 2007, hlm. 179.

[5] Ibnu Rusyd, Al-Kasyf ‘an Manâhij al-Adillah, Beirut: Markaz Dirâsât al-Wahdah al-‘Arabiyyah, cet. VIII, 2007, hlm. 103-116.

[6] Stephen Hawking op., cit., hal. 69.

[7] Ibid, hal. 15-32.

[8] Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, diinggriskan oleh Norman Kempt Smith, New York: The Macmillan Company, cet. II, 1934, hal. 46.

[9] Ibid, hal. 50.

[10] Patrick Slattery, Curriculum Development in The Postmodern Era, New York: Routledge, cet. II, 2006,hal. 275.

[11] David Turner, Theory of Education, New York: Continuum International Publishing Group, cet. I, 2004, hal. 10.

[12] Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Cairo: Dâr al-Jîl, cet. I, 2005,hal. 371.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *