Oleh : Chubbi Syauqi (Mahasiswa Jurusan Tarbiyah, Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Purwokerto)

Jika boleh bercerita, tepat di tahun 2021 ini, saya tengah memasuki masa muda. Sebagaimana banyak dikata orang, masa muda adalah masa yang tepat untuk menemukan kesejatian diri. Saat itu juga, saya dihadapkan dengan situasi yang membingungkan  sekaligus penuh tantangan. Saya merasa, utamanya diri saya belum sanggup menapaki masa muda dan menghadapi dunia nyata. Dalam kondisi saya yang ambyar, lamat-lamat saya mencoba mengurai ihwal kebingungan yang tengah saya alami. Kondisi ini juga menghampiri sebagian besar teman-teman saya. Penguraian tersebut mengarahkan saya pada apa yang dalam term ilmu psikologi berupa quarter life crisis (krisis usia seperempat abad). Yakni gejala psikologi yang hampir menimpa anak usia 20-30 tahun, seperti rasa khawatir, keraguan, dan kebingungan menentukan tujuan hidup.

Menurut pendapat Prof. Daniel Levinson, gejala psikologi ini timbul dari “diri sendiri” dan juga oleh lingkungan sekitar yang masih belum menemukan orientasi hidupnya. Persinggungan dalam diri ini berupa nilai, tujuan, serta keyakinan, yang kemudian akan berkesinambungan dengan diluar dirinya berupa peran, komitmen, dan lelakunya. Dalam mengurai kebingungan tersebut, saya merasa beruntung karena saya segera menyadari gejala apa yang sering dinamakan oleh ahli psikologi dengan quarter life crisis. Dalam kondisi itu j saya justru banyak hal tentang siapa diri saya dan bagaimana kedepannya. Bisa dikatakan ketika saya memasuki quarter life crisis, saat itu juga saya tengah mengalami efek dari pandemi covid-19. Dalam kondisi ini saya banyak menghabiskan waktu di rumah aja, beberapa aktivitas seperti ngampus danngopa-ngopi lamat-lamat saya tinggalkan, hanya secukupnya untuk bersilaturahmi.

Kembali Ke Diri   

Mengamati apa yang sudah dijelaskan di atas, saya mencoba mengurai identitas diri saya. Saat itu identitas saya yakni mahasiswa yang tengah berada di separo perkuliahan. Memasuki fase semester yang cukup tua, rasa bingung dan khawatir menyelinapi dalam pikiran saya.  Rasa bingung dan khawatir, menurut saya menjadi sumber utama di fase quarter life crisis ini. Tapi jika keadaan seperti ini tidak segera disadari, maka akan menjadi berlarut-larut. Hal ini akan berakibat terhadap melemahnya segenap potensi kemanusiaan yang sejatinya tengah memuncak. Mengurai fase ini tidak semudah hanya mengandalkan teori. Ibarat padi ia sudah ditanam dengan baik hingga pertengahan masa panen. Padi itu sudah berisi gabah, daunya sudah menguning, serta tubuhnya sudah merunduk.  Tapi pada saat yang sama burung-burung mulai datang, hama mulai mendekat, dan kondisi cuaca tak menentukan. Biasanya pak tani, menyemai pestisida, memberikan pupuk yang cukup agar tumbuh subur, merekayasa sedemikian rupa agar padi yang ditanam menghasilkan beras yang diharapkan.

Rasa negatif itu muncul seiring belum ditemukannya orientasi dalam hidup saya. Alih-alih menyandang sebagai mahasiswa, dalam benak saya masih menyimpan keraguan akan sebuah masa depan. Pasalnya, jika kita melihat fakta di lapangan, justru orang-orang yang memiliki bekal pengetahuan hasil pendidikan yang ditempuh dengan waktu panjang tersebut, menjadi salah satu kluster kaum pengangguran. Apalagi situasi Pandemi seperti sekarang ini, di tengah gerak ekonomi yang melesu sehingga banyak dari kita dihadapkan pada situasi tidak menentu di bawah-bayang resesi ekonomi.

Belum lagi dalam aspek yang lebih luas, lapangan pekerjaan misalnya, antara angkatan kerja yang membeludak dan pangsa pasar yang diserap dan dibutuhkan sama sekali tidak berimbang. Padahal dengan sistem kampus yang orientasinya ke dunia kerja, para mahasiswa (mungkin juga termasuk saya) membutuhkan kepastian pekerjaan atau minimal kegiatan produktif setelah fase pendidikan untuk hanya sekadar bertahan hidup, ngopa-ngopi, atau terjun merasakan realitas masyarakat yang sebenarnya. Beberapa bulan saya mencoba tegar mengahadapinya, alih-alih bersikap biasa saja, namun dalam hati rasa ambyar lah yang sebenarnya terjadi. Dalam kondisi ketidakpastian itulah, saya kemudian merenung tidak ingin larut dalam persoalan jika terus difikirkan saya rasa tidak akan ada ujungnya. Di waktu itulah kemudian saya terpanggil untuk memaknai keberadaan hidup Jawa yang mengumpul dalam sebuah ungkapan terkenal ihwal “sangkan paraning dhumadi”. Sebuah ungkapan yang ingin mengingatkan keberadaan ontis manusia serta tujuan teleologis selama ia hidup atau ber-ada di dunia ini.

Perkenalan dengan Jalan Ketuhanan Kyai Sa’dulloh

            Uraian saya diatas sebenarnya hanya mengarah kepada Jalan Ketuhanan-nya Kyai Sa’dulloh Majdi. Suatu konsep pengetahuan teleologis akan keberadaan manusia di bumi. Yang menurut saya mempunyai ketersambungan akar dalam struktur pandangan masyarakat tradisional Jawa dan juga masuk dalam logika Islam. Jalan Ketuhanan sebagai buah pemikiran Kyai Sa’dulloh  termaktub dalam syair anggitannya bernama Sun Ngawiti. Syair Sun Ngawiti ini dapat dinamai “suluk” (tembang) yang ditembangkan ketika santri di Madrasah Al-Ittihad mengawali aktivitas mengajinya. Madrasah Al-Ittihad terletak di desa Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Dalam sebuah penelusuran lebih lanjut tentang  syair sun ngawiti, saya mendapat penjelasan lain mengenai syair ini, kata Dewandaru dalam artikelnya “ Konsep Mencari Ilmu Dalam Syair Sun Ngawiti” (2017) syair sun ngawiti memuat konektivitas dengan tuhan, doa kepada orang yang mengantarkan ilmu, mempelajari ilmu agama, berusaha menerima kehendak Tuhan, serta mencari ilmu agar kembali ke Tuhan dan menjadi kekasih.

            Buah pemikiran lahirnya syair sun ngawiti adalah adalah ketika Kyai Sa’dulloh mendirikan Madrasah Al-Ittihad pada tanggal 18 November 1958. Madrasah ini merupakan sebuah sekolah non-formal yang berisikan materi-materi agama. Kyai Sa’dulloh meramu (menajemen) madrasah secara modern, namun kurikulum tetap berparadigma tradisional yakni materi khas pesantren (kitab kuning).Pada eranya, tren ngaji keagamaan begitu menggeliat. Para kyai setempat mengandalkan langgar-langgar sebagai basis tempat mengaji. Namun, dalam perjalananya, tempat ngaji ini lambat laun sepi dari peminat, dan berakhir bubar. Madrasah yang dicetuskan oleh Kyai Sa’dulloh merupakan kreativitasnya dalam penyegaran praktik keagamaan yang selama ini berjalan di desanya.     

Jalan Ketuhanan, Sangkan Paraning Dhumadi

            Jika ditelaah lebih dalam, syair sun ngawiti bukanlah sekadar tembang yang menjadi hapalan wajib para santri madrasah ketika akan memulai ngajinya. Di dalamnya memuat berbagai wejangan Kyai Sa’dulloh yang menurut saya sangat kontekstual (sholih fi zaman wal makan).  Berbagai wejangan yang terkandung dalam syair sun ngawiti, adalah segenap pengalaman lelaku pengembaraan spiritual yang syarat akan permenungan. Syair tersebut diproyeksikan, bukan sebagai ajaran, maupun ideologi yang bersifat mutlak namun, semata pengalaman lelakunya yang kemudian dirumuskan secara sistematis, dan disajikan dalam bentuk syair (tembang) yang disenandungkan oleh santri madrasah ketika memulai ngajinya. Segala lelaku pengembaraan spiritualnya, tertulis dalam 15 bait yang terangkum dalam syair sun ngawiti:

Sun ngawiti klawan muji Dzat Kang Asih

1rohmat salam katuro Nabi kekasih

Aku memulai dengan memuji Dzat Yang maha asih. Rahmat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang menjadi kekasih.

Opo dene wargo dalem lan shohabat

2sarto kabeh wong kang tresno lan kang tho’at

Begitu juga keluarganya, sahabatnya dan semua orang yang cinta kepadanya serta taat.

Ayo konco podo mlebu ing madrosah

3nggolet ilmu ojo wedi susah payah

Mari teman masuk madrasah, cari ilmu jangan takut susah payah.

Mumpung kito durung kasep ing wektune

4yen wis kasep ora guno pigetune

Selagi kita belum terlambat. Jika sudah terlambat maka penyesalan tiada arti.

Nggolet ilmu iku dawuhe Njeng Rosul

5mulo wajib kito reti sarto qobul

Mencari ilmu adalah perintah Rosul. Karenanya kita wajib tahu dan menerima.

Ojo nganti kito mampang ing panutan

6rino wengi esuk sore manut setan

Jangan sampai kita terbawa nafsu. Siang, malam, pagi, sore ikut setan.

Ngertiyo yen setan iku ngrusaake

7ngalor ngidul ngetan ngulon nasarake

Ketahuilah, setan itu berbuat rusak. Ke utara, ke selatan, ke timur, ke barat menyesatkan.

Wong sinahu wajib sregep lan tumemen

8ojo maju mundur noleh ngiwo nengen

Orang yang belajar wajib rajin dan sungguh-sungguh. Jangan maju-mundur, lihat kanan-kiri.

Sabar tawakal ngadepi kasengsaran

9pasrah kabeh pekewueh ing Pangeran

Sabar, tawakal menghadapi kesengsaraan. Pasrahkan semua pada Tuhan.

Kuwat nandang werno-wernone rintangan

10opo dene kurange sandang lan pangan

Kuat menghadapi berbagai rintangan dengan kurangnya pakaian dan makanan.

Ilmu iku tondo-tondone kabejan

11soko Alloh ugo tengere karidlon

Ilmu itu tanda kebahagiaan dari Allah juga tanda keridloan.

Sebab ilmu mau wetone gondelan

12tanpo ilmu kito sasar ing dedalan

Karena pada dasarnya ilmu adalah petunjuk. Tanpa ilmu kita akan tersesat.

Mulo ayo kito kabeh bebalapan

13ngudi ilmu ojo nganti kekasepan

Maka, mari kita berlomba-lomba mencari ilmu jangan sampai terlambat.

Ngertiyo yen kito kabeh mung ngumboro

14liyo wektu mesti sowan ing bendoro

Ketahuilah, kita semua hanya mengembara, cepat atau lambat kita pasti  akan menghadap Tuhan.

Temen-temen kudu eling ojo lali

15mbo’ menowo siro biso dadi wali

                 Segera saya catat ihwal apa yang tersirat dari terjemahan ini. Terlepas dari permainan bunyi vokal maupun konsonannya (purwakanthi) yang diungkapkan begitu mahir dan kuat pada syair tersebut, yang juga hilang adalah “ketersentuhan” makna yang dikandungnya. Taruhlah ini adalah upaya saya untuk memahami, menangkap dan mengurai ke adiluhung ansyair ini. Simpul pertama yang menurut saya menarik adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk mencari ilmu bagi santri, yang dalam syair diistilahkan wong sinau. Di dalam syairnya, Kyai Sa’dulloh mendedah kerangka mencari ilmu yang sarat akan adanya konektivitas dengan Tuhan. Dari apa yang ada dalam bait pertama, sun ngawiti kelawan muji dzat kang asih, rohmat salam katuro nabi kekasih.

Pengarang tersebut memberikan warning pada wong sinau agar memulai ngajinya dengan menyebut asma Allah, tak lupa juga untuk selalu bersholawat. Karena pada hakikatnya, ilmu merupakan milik Allah. Sekuat apapun manusia berusaha untuk menggapainya, jika tanpa kuasa dari Sang Pemilik ilmu, maka dapat dipastikan manusia tak akan mampu menggapainya. Dari sisi orientasi, Kyai Sa’dulloh  memahami ilmu sebagai tanda-tanda kebahagian dan keridloan dari Allah. Orang yang berilmu hidupnya akan bahagia, sedangkan orang tidak berilmu (bodoh) hidupnya akan sengsara, hal ini sepadan dengan kaol Imam Syafi’i, “apabila engkau tidak mampu menahan beratnya mencari ilmu, maka engkau akan menanggung kepedihan akibat kebodohanmu.” Aktivitas menuntut ilmu adalah salah satu upaya mengenal “diri”, sehingga melahirkan potensi-potensi kemanusiaan yang kita miliki.

Wejangan selanjutnya yang menurut saya cocok bagi generasi kita yang tengah mengalami quarter life crisis adalah “ketahuilah kita semua hanya mengembara, cepat atau lambat pasti akan menghadap Tuhan ”. Sebagai anak muda yang tengah mencari jati diri, hal ini begitu mengguncang kejiwaan saya. Saya merasakan, ini kaol yang bagi saya penuh dengan “misteri yang menggentarkan sekaligus mempesona” (mysterium tremendum et fascinosum). Pemaknaan saya terhadapsyair sun ngawiti mungkin sejenis pemaknaan yang membuat diri bergetar. Hingga hari ini, saya masih merasakan getaran itu. Saat itu, saya benar-benar dalam penghayatan. Saya mulai menyadari saya harus mulai mengenali diri saya sendiri (baca: man arofa……). Mengenali saya ini siapa, dari mana, dan hendak kemana. Hidup ini hanyalah sebuah persinggahan, orang Jawa mengistilahkannya sebagaimana wong mampir ngombe (orang yang berhenti untuk minum). Kita ngombe untuk menyesap pengetahuan hidup sebagai bekal untuk perjalanan dan pengembaraan itu sendiri. Sejak itu, saya terus berusaha untuk selalu menjaga niat bahwa setiap hembusan nafas saya adalah bagian dari proses untuk mengenali diri saya sendiri lebih jauh mengenal Tuhan. Dengan kita mengenal diri, maka kita akan kenal tuhan. Belajar mengenal diri sendiri adalah proses tanpa henti, mungkin sampai hayat ini tiada di dunia.

Setelah menyimak uraian mengenai syair sun ngawiti dan quarter life crisis, untuk saya pribadi saat ini, saya akan memilih laku hidup yang diwejangkan oleh Kyai Sa’dulloh Majdi, bahwa segala hal yang menimpa dalam hidup kita ini, pasrahkanlah  hanya pada Allah SWT, jika ingin bahagia maka banyak-banyaklah menuntut ilmu. Karena “ sebab ilmu mau wetone gondelan, tanpa ilmu kito sasar ing dedalan”.  (karena pada dasarnya ilmu adalah pembimbing hidup kita, tanpa adanya ilmu hdup kita akan tanpa arah). Demikian wejangan Kyai Sa’dulloh dalam Syair Sun Ngawiti.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *