Oleh: Umam Hudaya

Malam tampak sunyi senyap, pohon berdiri tegak di bawah terik rembulan. Angin berjalan berhamburan mendekati seorang laki-laki tua yang memutarkan pusat sarafnya. Badan tampak  terdiam kaku, tangan menggenggam, terlihat tidak dapat menghindari angin dingin yang berjalan mendekat. Gerakan tampak tidak terlihat, bergerak mendekat, semakin cepat, sambil membawa sepucuk daun kemuning. Seseorang terlihat  duduk di bawah pohon beringin, dari pojok utara tampak kampung kecil, terlihat rumah terbuat dari anyaman bambu. Angin terasa menembus masuk ketubuhnya, rambutnya ter urai, dan mata memerah. Ia tampak masih terdiam kaku di bawah pohon yang menghalangi sinaran bulan.

Sesepuh kampung tampak berdoa kepada Para Dewa di Kahyangan.  Dengan kebulatan hati mereka memohon agar dibuatkan sebuah gunung. Tampaknya doa mereka dikabulkan oleh para dewa. Pembuatan gunung  dimulai besok hari dan akan dikerjakan dalam waktu semalam. Tetapi dengan syarat, tak seorang pun warga yang boleh melihat pada saat gunung itu dibuat. Sesepuh kampung menyanggupi persyaratan itu.

Titik pusat tata surya mendatangkan panas dengan teriknya, awan tak mampu menghalangi sinaran yang terus dipancarkan. Dari arah bumi tampak jelas pancaran matahari. Pohon-pohon terlihat  antusias melihat. Tidak terasa matahari telah terbangun dengan sempurna. Pohon telah bekerja memasak kebutuhan seluruh batang. Burung-burung bergerak melambaikan kedua sayapnya.

Pagi telah tiba, tampak dari kejauhan sekumpulan warga di tanah yang luas. Tanah tampak kering dan tak ada satupun pohon atau tumbuhan yang berdiri.  Mereka tampak bingung mendengarkan ucapan laki-laki berkulit keriput.

“Wahai, seluruh wargaku! Kami menghimbau kepada kalian semua agar pada saat hari menjelang senja, masuklah ke dalam rumah kalian masing-masing dan tak seorang pun yang boleh keluar rumah hingga matahari terbit besok pagi!” ujar seorang sesepuh kampung.

“Maaf, Tuan! Bencana apa yang akan melanda kampung kita? Kenapa kami dilarang keluar rumah?” tanya seorang warga dengan bingung.

Perempuan berambut pirang tampak termenung mendengar sesuatu yang dikatakan laki-laki berkulit sawo matang, suasana terasa indah, burung-burung kembali menyuarakan ragam suara yang berirama. Pohon-pohon mulai berhadapan dengan matahari yang terbangun dari gelapnya malam. Jalan-jalan kembali dipenuhi pedati berkaki empat, bergerak maju di sepanjang perlintasan jalan yang penuh lika-liku.

“Ketahuilah, semua bahwa para dewa akan membuatkan gunung untuk kita dan tak seorang pun yang boleh melihat ketika mereka sedang bekerja,” jelas seorang sesepuh kampung yang lain.

“Baik, Tuan!” ucap perempuan dari kumpulan warga dari arah selatan.

Setelah mendengar penjelasan itu, barulah para warga mengerti mengapa mereka dilarang keluar rumah. Terik matahari masih terhalang dedaunan, tampak rumah kecil  yang dianggap suci oleh warga setempat. Orang-orang tampak  kembali sibuk dengan aktivitasnya, kendaraan memenuhi jalan di sebrang Mushola Suhada. Tampak warung kecil di penuhi banyak orang kelaparan. Tengggorokan kering akibat matahari yang cerah hari ini. Tampakorang-orang melahap semua air di dalam cawan yang nampak berdiri diatas meja. Suasana terasa ramai, burung-burung kembali mengeluarkan suara, telinga merasakan kenyamanan di siang hari.

Matahari tak mampu menyinarkan cahaya, gumpalan hitam mulai menyelimuti awan-awan. Burung-burung mencari pohon lebat untuk berteduh. Petir mulai mengeluarkan suara pamungkasnya. Rintik-rintik hujan mulai menerjang bumi yang sedang lelah seharian bekerja. Orang-orang mulai meninggalkan ladang. Hujan lebat kembali mengguyur. Air sungai mulai naik, nelayan pencari ikan pergi meninggalkan kapal di pinggir sungai.

Ketika hari menjelang senja, suasana kampung tampak sepi. Seluruh warga telah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Dari sudut utara tampak tak ada satupun cahaya. Tak berapa lama kemudian, para dewa turun dari Kahyangan untuk mulai bekerja membangun sebuah gunung di daerah hulu kampung. Tampak mereka membangun tiang-tiang yang kokoh. Satu persatu terlihat tiang-tiang kokoh berdiri tegak.

Malam semakin sunyi, para dewa mulai selesai membangun tiang berdiri tegak 90 derajat dari tanah. Tiang-tiang tersebut kemudian mereka timbuni dengan tanah dan membentuk sebuah gunung. Dewa melakukan pekerjaan sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan masing-masing. Tak terdengar sepatah kata pun yang mampu ditangkap. Lelah tampak tak mereka hiraukan.

Tak terasa hari menjelang pagi, pembuatan gunung tampak hampir selesai, tinggal menyelesaikan penimbunan  yang tersisa. Para dewa masih sibuk menimbun tiang-tiang, dari arah selatan seorang gadis tampak berjalan menuju ke sungai lukulo  yang berada di sekitar tempat para dewa menimbun ribuan tiang. Rupanya, gadis itu tidak mengetahui pengumuman tentang larangan keluar rumah pada malam hari. Sebab, pada waktu pengumuman disampaikan oleh sesepuh kampung, ia tidak hadir dan tak seorang pun warga yang memberitahu tentang pembangunan gunung.

Tampak sesosok perempuan sambil membawa wadah berbentuk bundar pipih dan sedikit cekung, terbuat dari porselen yang berlukis kembang-kembang. Gadis itu datang ke sungai membawa secawan beras untuk dimasak. Ia berjalan tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya , terlihat suasana masih gelap. Saat akan turun ke sungai, gadis itu terperanjat karena tiba-tiba di hadapannya ada sebuah bukit.

“Hah, kenapa tiba-tiba ada bukit di tempat ini? Padahal, hari-hari sebelumnya tempat ini masih datar? Ya Tuhan, mimpikah aku ini?” gumam gadis itu seolah tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya.

Namun, begitu melihat beberapa sosok makhluk yang menyeramkan bergerak cepat, gadis itu langsung berlari meninggalkan sungai karena ketakutan. Ia bergerak ke rumahnya  yang terletak di tepi jalan. Disampingnya ada pohon beringin yang terus tumbuh besar, daun-daun hampir menutupi halaman rumah. Air sungai yang cukup jernih terus mengalir di samping rumah sempit. Rumah megah yang berdiri sangat gagah adalah rumah saudara kandungnya. Tempat tinggal terbuat dari anyaman pohon bambu, lantai dasar tanah, dan rumah hampir roboh menjadi tempat untuk berlindungnya dari terik sinaran matahari. Ia terus membawa kakinya mendekati rumah, yang masih berjarak 100 meter lagi. Meski hanya berjarak beberapa meter, namun terasa jauh sampai ke Singapura yang jaraknya ribuan kilo meter. Terasa lelah kaki ini mengikuti jalan yang terus berbelok-belok.

“Tolooong… Tolooong… Tolong aku!” teriaknya dengan keras.

Gadis itu terus berlari tanpa memperdulikan lagi keadaan dirinya sehingga beras yang hendak dicucinya dilemparkan begitu saja. Tak ayal lagi, beras tersebut berceceran di sekitar bukit. Beras tersebut menjelma menjadi bebatuan yang bentuknya mirip dengan beras. Para dewa yang mendengar suara teriakan gadis itu menjadi tersentak. Mereka pun menyadari bahwa ternyata pekerjaan mereka telah disaksikan oleh manusia.

“Penduduk kampung telah melanggar perjanjian kita. Ayo kita tinggalkan tempat ini!” seru salah satu dewa kepada dewa yang lainnya.

Para dewa tersebut menghentikan pekerjaannya. Mereka meninggalkan tempat itu dan bergegas kembali ke Kahyangan.

Matahari sudah dapat mengalahkan awan, sehingga sudah mampu untuk menyinarkan cahayanya ke bumi. Tampak gunung  menjulang tinggi, terlihat begitu megah dan tanah masih terlihat begitu kuat. Bangunan itu telihat bertingkat, sangat indah untuk di pandang.

Tampak pembangunan gunung belum selesai. Masyarakat setempat menamainya “Gunung Wurung” karena menganggap gunung tersebut belum belum selesai dikerjakan dewa.

Keterangan Asal:

Desa Karang Sambung

Kecamatan Karang Sambung

Kabupaten Kebumen

Provinsi Jawa Tengah

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *