Salah satu kaidah kebahasaan dalam penafsiran al Quran adalah memperhatikan huruf yang terkait dengan fi’il yang ingin dipahami, hal ini karena beberapa fi’il menunjuk makna yang berbeda-beda jika diikuti huruf yang berbeda-beda, bahkan terkadang ada fi’il yang diikuti dengan huruf yang tidak biasanya karena fi’il tersebut mengandung makna yang diisyaratkan oleh huruf yang disebutkan, dalam istilah linguis Arab ini disebut: التضمين 

Oleh karena itu, wajib bagi seorang mufassir untuk mengetahui fi’il-fi’il yang berhubungan dengan huruf, juga mengetahui huruf-huruf yang berhubungan dengan fi’il yang bertebaran dalam al Quran. 

Contoh dalam penerapan kaidah ini adalah: 

Fi’il نظَرَ

kata ini jika tidak diikuti huruf, maka ia bermakna “menunggu”, seperti dalam QS al Hadid 13: 

يَوْمَ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱنظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ … 

“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu“… 

Jika diikuti/dikaitkan dengan huruf إلى, maka ia bermakna “melihat”, seperti dalam QS al Qiyamah 22-23:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. 

Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”

atau QS al An’am 99:

 ۗ ٱنظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِۦٓ ۚ 

“Lihatlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (lihat pulalah) kematangannya…”

dan jika diikuti huruf في, maka ia bermakna memikirkan atau memperhatikan, seperti dalam QS al A’raf 186:

أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ 

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah…”

Contoh lain:

Fi’il أراد

Kata ini semestinya atau biasanya tidak diikuti huruf apapun, tapi, dalam al Quran fi’il ini ada yang diikuti huruf ب untuk menunjukkan makna kata هَمّ بـ (berniat/bermaksud) seperti dalam QS al Hajj 25:

وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍۭ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih…”

hal ini untuk menegaskan makna bahwa أراد dalam ayat di atas bukan hanya bermakna “ingin” tapi juga mengandung makna “berniat atau bermaksud”. 

Contoh lain:

fi’il ٱختار 

kata ini biasanya diikuti huruf مِنْ, karena makna asal kata ini adalah mengeluarkan sesuatu dari sesuatu yang lain, tetapi dalam al Quran ada ayat yang menyebutkan kata ٱختار tanpa huruf مِنْ, hal ini mengisyaratkan bahwa kata ini mengandung makna yang lain yaitu makna ميَّزَ (melebihkan), ini seperti dalam QS al A’raf 155:

وَٱخْتَارَ مُوسَىٰ قَوْمَهُۥ سَبْعِينَ رَجُلًا لِّمِيقَٰتِنَا ۖ

“Dan Musa memilih/mengunggulkan tujuh puluh orang (dari) kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan..”

Wallahu A’lam

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *