Oleh: Azka muhammad (mahasiswa Jurusan Ilmu Tafsir dan Al-Qur’an UIN Walisongo Semarang)
Bahagia luar biasa jika ada santri menerima sebuah ijazah yang sifatnya khusus dari sang kyai baik berbentuk doa, wafaq, azimat, maupun benda-benda keramat. Terutama ijazah tersebut ditujukan untuk bekal kehidupan. Salah satunya cuplikan naskah diatas. Naskah tersebut adalah milik KH Sulasih yang biasa dipanggil Mbah Sulasih. Beliau adalah ketua JATMAN (Jamiyyah Ahli Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyah) Kabupaten Cilacap sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Madaniyah Cilacap.
Secara umum naskah tersebut berisi ilmu hikmah dan beberapa primbon Jawa. Naskah tersebut memang belum bisa dikatakan kuno. Hal tersebut terlihat dari fisik kertas yang dipakai sangat familiar dan tulisannya pun bukan seperti naskah kuno. Selain itu beliau juga memberi informasi bahwa tulisan itu ditulis sekitar tahun 1960-an. Walaupun demikian, isi dari naskah tersebut sangatlah luarbiasa.
Tulisan pada naskah tersebut menggunakan tulisan Arab pegon dan salah satu lariknya merupakan salinan dari beberapa kitab milik beliau yang dirahasiakan namanya. Beliau izinkan penulis agar bisa diteliti karena didalam naskah tersebut banyak sekali tulisan ilmu hikmah KH Ashad Nganjuk yang masih ada keluarga dengan penulis sekaligus guru KH Sulasih ketika masih belajar di pesantren.
Selain itu didalam naskah tersebut juga banyak sekali ditemukan ilmu-ilmu yang rancu dan berbahaya karena kalau tidak digunakan untuk niat yang baik bisa mencelakakan orang lain. Seperti halnya menyantet seseorang baik sengaja maupun hanya sekedar mengembalikan santet tersebut. Hal seperti itu sejatinya berbahaya jika diamalkan bukan pada tempatnya akan tetapi pada kondisi tertentu seperti perang melawan penjajah ilmu seperti yang tertulis di naskah boleh diamalkan.
Dalam beberapa larik naskah disebutkan waktu nahas (sial) dan waktu bejo (beruntung). Waktu-waktu itu bisa diamalkan ketika ingin melakukan hal-hal yang baik seperti akad nikah, melamar wanita, maupun melamar kerja sesuai dengan naskah tersebut. Contohnya, pada hari kamis waktu nahas menunjukan pukul 07.00 – 08.00 maka alangkah baiknya ketika waktu itu kalau bisa jangan laksanakan hal sakral seperti akad pernikahan. Alangkah baiknya pelaksanaanya pada waktu bejonya saja yaitu pada pukul 06.00 – 07.00, 08.00 – 09.00 dan 09.00 – 10.00.
Selain itu ada posisi tidur yang sesuai dengan weton (hari pasaran Jawa) dengan bentuk tabel. Contohnya, Jika anak lahir pada hari Jum’at Kliwon maka tidurnya dengan posisi di kepala di selatan dan kaki di utara. Menurut penjelasan KH Sulasih jika akan melamar wanita maka sesuaikan dengan weton lahir kita saja. Kalau lahirnya pada hari Jum’at Kliwon maka ketika melamar wanita harus datang dari arah selatan sesuai dengan gambar pada tabel tersebut.
Dengan posisi tidur sesuai dengan weton tersebut dapat menjadi doa wujud atau doa yang tidak dilantunkan akan tetapi dilakukan dengan beberapa kaifiyah tertentu. Seperti menulis wafaq pada kain dan menanamkannya pada tanah. Manfaat dari mengikuti ilmu tidur sesuai dengan weton tersebut salah satunya adalah melindungi diri dari kejahatan para dukun santet yang tidak tau kapan datangnya.
Pembahasan ilmu titen seperti itu memang terkesan mengarah ke primbon jawa. Hal tersebut terlihat dari pemakaian hari pasaran sebagai patokan posisi tidur seseorang, namun tidaklah berbahaya jika itu diamalkan seseorang karena memang primbon adalah budaya yang sejatinya harus di lestarikan orang jawa selama tidak bertentangan dengan syariat dan akidah Islam.
Percaya atau tidak hitungan tersebut sudah biasa dipakai orang Jawa. Hitungan tersebut bisa juga menjadikan sesorang syirik jika berlebihan dalam meyakininya sampai melupakan akan adanya penjelasan tawakal kepada kehendak Allah dalam al-Qur’an. Berdasarkan hal tersebut al-Qur’an merespon pada Surah ath-Thalaq : 3.
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. Sesungguhnya Allah melakukan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”
Dalam tafsir al-Munir karya Prof Wahbah Zuhaili dijelaskan bahwa Allah akan mencukupi segala kebutuhan hambanya jika hambanya bertawakal setelah berusaha, dan Allah sungguh menjadikan untuk setiap sesuatu berupa kelapangan dan kesempitan, kemakmuran dan kesusahan. Serta telah mengukur dengan ukuran yang tepat dan batasan yang sesuai dengan makhluknya.[1]
Berdasarkan penjelasan ayat tersebut dapat dipahami bahwa perubah dan penentu takdir hanya Allah karena Dialah yang menentukan dan mengukur seberapa kesempitan (kesusahan) dan seberapa kemakmuran makhluknya bukan ramalan. Walaupun seseorang meyakini primbon tersebut tetaplah dia menerima ujian di dunia ini serta menerima kesedihan dan kebahagian karena Allah lah yang memberi kesedihan dan kebahagian di dunia ini sesuai dengan firman Allah QS an-Najm : 43.
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Dan Sungguh Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
Ayat di atas menandakan bahwa kesedihan (menangis) sebagai tanda ekspresi ketika menerima musibah atau kesengsaran dan tertawa sebagai ekspresi bahagia sejatinya sudah dijadikan Allah sebagai ketetapannya. Jika ada ramalan atau primbon yang mengatakan bahwa ketika jodoh tidak sesuai weton, atau ketika tidur tidak sesuai posisi weton akan menimbulkan kesengsaraan itu tidak bisa dianggap kepastian.
Oleh karena itu, walaupun sesuai dengan weton tetap saja manusia akan menerima kebahagian dan kesengsaraan (musibah). Sebaliknya, walaupun tidur dan jodohnya tidak sesuai weton tetap saja manusia akan mengalami kesenangan dan kesengsaraan. Maka untuk menyikapi hal tersebut janganlah berlebihan dalam meyakini primbon tersebut. Kalaupun sulit menemukan solusinya laksanakanlah shalat istikharah dan mintalah petunjuk kepada Allah. Dengan begitu pasti Allah memberi petunjuk yang terbaik. Wallahu ‘alam bisshawab.
[1] Wahbah Zuhaili , Tafsir Al-Munir, (Jakarta : Gema Insani, 2013), hlm. 638-639.

No responses yet