Oleh : Rahmat Ade Putra (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
Kehidupan di dunia ini kita tidak bisa jauh dari yang namanya do’a. Bahkan do’a merupakan alat komunikasi kita kepada sang pencipta. Namun dalam artikel ini penulis mengajak kita berdiskusi tentang naskah kuno atau manuskrip yang berisi do’a khatam al-Qur’an, serta do’a dan dzikir lainnya. Apa yang dikaji dalam naskah kuno tersebut? Mari kita baca artikel yang ada dibawah ini.
Sebelum kita membahas jauh terkait naskah kuno tersebut, alangkah lebih baiknya mari kita cari tau diskripsi singkat terkait naskah kuno tersebut. Naskah kuno yang berjudul “Do’a Khatam Qur’an” ini berada di web Khasanah Pustaka Nusantara (KHASTARA) dengan catalog ID 60637; kode BR 196. Naskah ini dapat diakses oleh umum dan dapat diunduh bebas dengan format file PDF di link website http://khastara.perpusnas.go.id/landing/detail/60637/1. Naskah ini ditulis dengan aksara Arab ( Jawi ) dan menggunkan bahasa Indonesia. Naskah Kuno ini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.
Kondisi naskah ini masih terlihat sangat baik, dapat dilihat dari segi kualitas kertas dan kejelasan penulisan masih terlihat sangat jelas. Kertas yang digunakan oleh naskah kuno ini adalah kertas eropa, karena terdapat tanda watermark yang berada di kertas tersebut. Deskripsi fisik dari naskah ini mempunyai ketebalan 17 x 21 cm dan berjumlah 19 halaman. Naskah ditulis menggunakan tinta hitam dan tinta merah sebagai rubrikasi (hanya untuk penekanan suatu arti pada teks tersebut).
Dalam naskah kuno tersebut berisi tentang do’a dan dzikir, berikut beberapa do’a yang terdapat di dalamnya yaitu terdiri dari do’a untuk orang yang meninggal, do’a khotmil qur’an riwayat Imam Nawawi r.a., do’a niat memandikan mayat laki-laki dan mayat perempuan (mayat yang dewasa dan kecil), do’a niat sholat mayat laki-laki dan mayat perempuan (mayat yang dewasa dan kecil), tata cara do’a sholat mayat laki-laki maupun perempuan mulai dari takbir sampai salam, do’a niat bersuci dari buang air seni, do’a niat mandi besar ketika bermimpi dan berhubungan, do’a niat mandi haid, do’a niat memasuki bulan ramadhan, do’a niat puasa, do’a niat sahur dan buka puasa, do’a niat qadha puasa ramadhan, do’a niat mandi jika puasa bulan haji, do’a niat puasa tarwiyah dan arafah, do’a niat mandi jika bulan muharam, do’a niat sunnah tahiyatul masjid, dan tergantung amaliyah ibadah. Diakhir bab naskah berisikan tanggal diselesaikannya naskah pada hari ahad, 30 April atau 19 Jumadil Akhir 1772 masehi. Begitulah isi dari naskah kuno “Do’a Khatam Qur’an” hanya berisikan tentang do’a dan dzikir.
Artikel ini hanya akan membahas do’a khotmil qur’an riwayat Imam Nawawi yang terdapat pada naskah kuno. Khatam al-Qur’an merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dengan rasa syukur mendalam bagi pembacanya. Maka dari itu tidak heran jika konon, sayyidina anas bin malik memngundang sanak saudaranya ketika khatam al-Qur’an. Salah satu do’a indah yang dikarang oleh Imam Nawawi ini cukup panjang. Berikut do’anya :
Allahumma irham nafsahu wa biladahu wa shun ittiba’ahu wa ajnaadahu wan shurhu ‘ala a’daiddini wa saairil mukhalifiina wa waffiqhu lo izaalatil munkaraati wa idzharil mahaasini wa anwa’il khairati wa zid al-islaama bi sababihi dzuhuuran wa a’izzahu wa ra’iyyatahu I’zaazan baahiran
Artinya :
“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin muslimin dan jadikanlah mereka berlaku adil terhadap rakyat mereka, berbuat baik kepada mereka, menunjukkan kasih sayang dan bersikap lemah-lembut kepada mereka serta memperhatikan maslahat-maslahat mereka. Jadikanlah mereka mencintai rakyat dan mereka dicintai rakyat. Jadikanlah mereka menempuh jalan-Mu dan mengamalkan tugas-tugas agama-Mu yang lurus.”
Demikianlah do’a khotmil Qur’an riwayat Imam Nawawi, dari do’a di atas dapat disimpulkan bahwa do’at tersebut kita meminta keberkahan membaca al-Qur’an dan kemaslahatan (kemakmuran) untuk negeri ini, serta dijauhkan sosok pemimpin yang tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Jadilah pemimpin yang yang mampu mengayomi, mensejahterakan, dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang sudah menjadi amanah sebagai pemimpin. Karena sosok seorang pemimpin adalah panutan bagi rakyta atau anggota dalam suatu kepengurusan, jika pemimpin mampu memberi contoh yang baik maka akan dipastikan rakyatnyapun akan berbuat baik.

No responses yet