Oleh: Ahmad Faqih (Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA)
Dalam era digital saat ini, kehidupan keluarga seringkali dipengaruhi oleh teknologi seperti penggunaan gawai dan yang di dalamnya ada media sosial. Meskipun memberikan kenyamanan dan kemudahan komunikasi, dampaknya terhadap koneksi keluarga dapat menjadi dilema. Banyak keluarga menghadapi tantangan untuk tetap terhubung secara emosional di tengah kesibukan teknologi yang terus berkembang. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kehidupan keluarga tidak tergantikan oleh layar-layar gawai? Inilah tantangan yang perlu diatasi ataupu dicegah duluan untuk membangun koneksi keluarga yang kokoh di era digital.
Revolusi industri dan teknologi adalah pisau bermata dua yang melahirkan era digitalisasi. Kehadirannya tidak dapat dihindari oleh seluruh elemen masyarakat termasuk anak usia dini. Oleh karena itu diperlukan kehidupan keluarga harmonis yang dapat menghasilkan anak-anak yang bermoral dan berakhlak baik. Demikian juga sebaliknya. Namun, dalam perjalanan kehidupan keluarga muncul kembali kehidupan individu yang ego, sehingga sering terjadi keluarga tidak harmonis lagi. Korbanya adalah anak-anak mereka, apapun alasanya yang menjadi korban sudah pasti anak. Orang tua tidak bisa tergantikan oleh siapapun, dan juga apapun.
Salah satu tantangan utama dalam membangun koneksi keluarga adalah gangguan yang disebabkan oleh perangkat elektronik terutama seperti gawai. Solusi dari permasalahan ini bisa dengan cara menentukan waktu khusus di mana semua anggota keluarga berkomitmen untuk tidak menggunakan gadget atau perangkat elektronik ataupun aktivitas bersama, seperti makan malam tanpa gadget atau bermain game keluarga, dapat menciptakan momen-momen berharga tanpa gangguan teknologi.
Buat kebijakan tentang penggunaan gawai, terutama di antara anak-anak. Tetapkan batas waktu untuk penggunaan layar, dan pastikan bahwa waktu yang tersedia untuk keluarga tidak terganggu oleh gawai. Ini membantu menciptakan ruang untuk interaksi langsung dan kebersamaan.
Buka ruang untuk komunikasi yang terbuka dan jujur di antara anggota keluarga. Dukung anggota keluarga untuk berbicara tentang perasaan, tantangan, dan keberhasilan mereka. Pahami bahwa setiap individu memiliki kebutuhan emosional yang berbeda, dan memahami satu sama lain akan memperkuat ikatan keluarga.
Ciptakan waktu untuk aktivitas bersama yang menyenangkan dan bermakna. Pilih kegiatan yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga, seperti piknik, bersepeda, atau berkunjung ke tempat wisata. Aktivitas bersama ini membantu menciptakan kenangan positif dan memperkuat ikatan keluarga.
Tradisi keluarga menjadi fondasi yang kuat untuk membangun koneksi yang mendalam. Buatlah tradisi keluarga seperti perayaan ulang tahun, liburan, atau kegiatan rutin lainnya yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Tradisi ini tidak hanya menciptakan momen berkesan, tetapi juga memberikan stabilitas dan keintiman dalam keluarga.
Dengan menerapkan strategi tersebut, kita dapat membangun hubungan keluarga yang kokoh di era digital ini. Kesadaran akan tantangan, penggunaan teknologi secara bijak, dan komunikasi yang terbuka adalah langkah-langkah penting dalam mencapai tujuan keluarga yang kuat dan harmonis. Dengan demikian, keluarga era digital saat ini dapat menikmati manfaat teknologi sambil tetap memelihara hubungan yang sehat dan erat. Membangun fondasi yang kuat ini tidak hanya memberdayakan keluarga hari ini tetapi juga menciptakan dasar yang kokoh untuk generasi mendatang.
Referensi
Mardliyah, S. (2023). Dilema Keluarga di Era Digitalisasi: Antara Kecanduan Gadget, Gangguan Emosional, Perilaku Sosial pada Anak Usia Dini dan Tawaran Sekolah Alternatif. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(1), 661–673.
Suarmini, N. W. (2014). Keluarga Sebagai Wahanan Pertama Dan Utama Pendidikan Karakter Anak. Jurnal Sosial Humaniora, 7(1).

No responses yet