Tatkala Dzunnûn al-Mishriy berkelana, ia berjumpa dengan seseorang yang kusut dengan raga yang susut, namun sinar matanya mencorongkan pertanda cahaya pengabdian yang mendalam, bagian antara kedua alis matanya agak ke atas menunjukkan tanda-tanda kedekatan dengan-Nya, wajahnya menyemburatkan jejak ketaatan dan mujahadah, juga rekaman keintiman dengan-Nya dan penyaksian wujud-Nya.
Ia mengenakan sebuah jubah kasar dengan lengan jubah yang dibiarkan panjang menjurai. Salah satu lengan jubahnya bertuliskan, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintakan pertanggungjawabannya,” sementara lengan yang lain bertuliskan, “Hari kala lidah, tangan, dan kaki mereka bersaksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan,” di belakang bagian bawah jubahnya bertuliskan, “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri,” sedangkan tepat di punggungnya bertuliskan, “Pada hari itu kalian akan dipertampakkan, tidak ada lagi yang dapat kalian persembunyikan.” Sedangkan di bagian kepala dari jubahnya tertuliskan, “Cinta kepada-Nya adalah ujian hidupku, hanya diri-Nya sang penentramku.”
Tergerak untuk menyapa dan menggali perbincangan yang bermakna dengan orang seperti itu, Dzunnun mengayunkan langkah mendekatinya dan mengucapkan, “Semoga keselamatan atasmu, wahai hamba Allah.”
Laki-laki itu menjawab, “Semoga keselamatan juga atasmu, wahai Dzunnun.”
Terhenyak, Dzunnun bertanya, “Dari mana engkau mengetahui namaku, wahai sahabat?”
Lelaki itu mengungkapkan, “Kebenaran dalam hatiku menyibak pustaka yang tersembunyi dalam kalbumu. Ia menyaksikan jernihnya makrifatmu di tengah lenyapnya seluruh pengakuanmu. Keduanya segera bersicakap dan bersikenal. Ia menyatakan kepadaku bahwa engkau adalah Dzunnun dari Mesir.”
Dzunnun kemudian bertanya, “Sahabatku, di manakah cinta berawal?”
Lelaki itu menjawab, “Jawabannya ada pada ayat yang engkau saksikan dan dengar ini” sembari menunjuk ke jubahnya.
Lalu Dzunnun bertanya kembali, “Lalu, puncaknya cinta?”
Lelaki itu menjawab, “Dzunnun, bagaimana mungkin Kekasih yang luar biasa tak berbatas dicintai secara terbatas.”
Dzunnun kembali bertanya, “Wahai saudara, perilaku zuhud di dunia ini, apakah demi menggapai akhirat atau Sang Pencipta?
Lelaki itu menjawab, “Dzunnun, bersikap zuhud dari makhluk demi merengkuh yang juga makhluk hanyalah kesia-siaan. Zuhud di dunia yang diciptakan ini harusnya diarahkan untuk mencapai Dia yang menciptakan. Dzunnun, betapa rendahnya keinginan seorang hamba yang sudah terpuaskan dengan surga yang disodorkan oleh Kekasih Sejati. Bukankah makna zuhud adalah menepikan selain Dia, meneladani orang-orang baik, dan menyaksikan jejak-jejak Sang Maharaja nan Mahakuasa.”
Lelaki itu melanjutkan, “Dzunnun, sungguh rendah dan amatlah merugi orang yang telah menanggalkan nikmatnya hawa nafsu dan menepis lezatnya dunia, namun akhirnya merasa puas dengan selain diri-Nya. Dia sungguh telah melelahkan dirinya dan meninggalkan dunianya, sekadar demi tidak disiksa di neraka atau mendamba dimasukkan surga.”
Dzunnun kemudian berkata, “Saudaraku, bagaimana engkau bertahan di tempat seperti ini tanpa bekal apa pun?”
Lelaki itu tampak tersinggung dan berkata, “Wahai, engkau, yang imanmu belum sepenuhnya. Apa gunanya membantah orang yang belum kau ketahui keadaan rohaninya ini? Masalah makan atau minum, seperti inilah yang aku lakukan.” Lelaki itu lalu menghentakkan kaki kanannya ke bumi, mendadak muncullah mata air yang mengeluarkan madu yang amat kental. Lelaki itu segera memakannya dan aku pun ikut merasakannya. Lalu ia menghentakkan kaki kirinya ke bumi, mengalirlah sebuah mata air yang mengeluarkan cairan yang lebih manis dari madu dan lebih lembut dari salju.
Setelah kami berdua mencicipi sekadarnya, kemudian lelaki itu menaburkan pasir ke atas dua buah mata air itu sehingga keduanya menutup seperti keadaan semula. Lalu lelaki itu meninggalkan Dzunnun sendirian. Dzunnun pun menangis karena takjub atas semua yang disaksikan dan menyesali atas apa yang terlewatkan dalam hidupnya.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad !
Dari naskah ;
Air mata para perindu

No responses yet