Menelusur Jejak dan Genealogi Annangguru di Mandar (8)

7
621

Catatan Muhammad Munir

Setelah kunjungan ke kediaman Dr. Nawawi di Manjopai, rombonhan akhirnya menuju ke Masjid Al Hurriyah Tinambung setelah sebelumnya silaturrahmi dengan warga keturunan Habib Sahl Jamalullail. Masjid Al Hurriyah mrnjadi obyek kunjungan yang terakhir hari ini (Jumat, 2 Agustus) sebab jarum jam juga telah menunjukkan angka 05.00. Selain itu, di Kompleks Masjid raya tersebut terdabat beberapa makam annagguru antara lain KH. Daeng yang nama lengkapnya KH. As’ad Harun Bin KH. Harun Al Rasyid.

Ziarah ke Makam ini mengingatkan saya pada acara Haul KH. Daeng ke-73 pada 25 Agustus tahun lalu. Hari itu adalah hari pertama bertemu dengan Dr. Zain yang hadir dalam acara. Kendati hanya sempat berjabat tangan tapi setidaknya kesyukuran itu muncul bisa menyimak ceramah singkat beliau terkait Jaringan Annangguru di Mandar. Dan hari ini, berkesempatan mengikiti lawatan sejarah beliau adalah berkah buat saya.
Kami dan rombongan langsung mengunjungi makam KH. Daeng yang terletak tepat dibelakang Masjid.

KH. Daeng adalah ulama penganjur dan penyebar agama Islam di tanah Mandar dan sekitarnya. Beliau adalah seorang Qadhi di Balanipa dan tinggal di kampung Binanga Kabupaten Majene Eks Afdeling Mandar. Beiau lahir di Majene pada Tahun 1871 dan wafat pada 16 Agustus 1945 dalam usia 74 tahun. Beliau memprakarsai pendirian Masjid Nurul Asrar pada masa lampau dan berganti nama menjadi Masjid Nurul Abrar pada zaman sekarang yang terletak di Lingkungan Labuang.

Menjabat sebagai Qadhi Balanipa pada tahun 1940 berdasarkan SK Distrik Belanda pada saat itu dan menjadi Qadhi di Majene pada tahun yang sama, beliau menjadi Qadhi di Balanipa pada masa Raja Balanipa Andi Baso Pabiseang.

Sebagai sosok imam dan ulama kharismatik yang berkarakter, menjadikan KH. Daeng diberi amanah sebagai Qadhi penghulu syara’ di Balanipa ( Tinamboeng ) pada tahun 1940 dengan SK 7 Maret 1940 selanjutnya diberi amanah juga sebagai Qadhi di Majene ( Mara’dianna Sara’ ) pada tahun 1940 berdasarkan SK pada Tgl 11 April 1940. ( Mara’dianna Sara’ ) jabatan seorang Qadhi adalah jabatan yang fundamental dan prinsipil karena mengurus masalah-masalah agama dalam semua lini.

Dengan dua jabatan yang diamanahkan padanya, beliau melaksanakan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab dibantu oleh ketiga putranya yaitu KH. Abd Fattah, KH. Makmun As’ad dan KH. Djuaeni As’ad, ketika beliau udzur maka, qadhi di Balanipa dipercayakan kepada putra keduanya yaitu KH. Makmun As’ad yaitu kita kenal dengan sebutan Qadhi Makmun (Puang Qadhi Ma’amun) sebagai Qadhi Balanipa.

Putra pertamanya KH. Abd Fattah As’ad diamanahkan sebagai imam di Majene dan putra ketiganya KH. Djuaeni As’ad diamanahkan sebagai imam di Kandemeng salah satu wilayah dalam Kabupaten Polmas pada saat itu, beliau hingga sekarang dikenal dengan istilah Imam Kandemeng.

Jabatan Qadhi Balanipa berikutnya diserahkan kepada anak mantunya yaitu KH. Jalaluddin Gani dan raja pada saat itu adalah Ibu Agung Andi Depu.

Nama KH. Daeng yang masyhur dan akrab di telinga masyarakat Mandar pada umumnya, adalah KH.Daeng, ( Puaji Daeng ) karena masyarakat pada saat itu sangat menghormati beliau, oleh karena masyarakat tidak mau menyebut nama secara langsung sehingga disebutlah KH. Daeng (bahasa Mandar Puaji Daeng. red).

KH. Daeng adalah putra dari K.H. Harun bin Rasyid putra bangsawan dari Banggae yang juga menyandang sebagai ulama dari tanah Mandar, sedangkan ibunya bernama Tanri (Puanna Ramuna) adalah seorang putri bangsawan Mandar cucu dari Jallanlino Mara’dia Topeyang, sehingga KH. Daeng bukan hanya seorang ulama namun mengalir dalam darahnya mengalir darah ningrat yang bersendi Sara’. K.H. Daeng adalah anak pertama dari 5 bersaudara yaitu: KH. Muhyiddin (Camba), Hj. Nuraeni (Binanga), KH. Muhammad Said, dan Siti Fatima.

Dakwah yang dilakukan oleh KH. Daeng bukan hanya dalam tataran berceramah dan pengajian namun dakwahnyapun dilakukan melalui washilah silaturahmi melalui pernikahan. KH. Daeng menikah untuk pertama kalinya adalah dengan istrinya bernama Bengo, putri bangsawan Mandar dan Pa’bicara Kayyang di Balanipa dan melahirkan 3 orang putra. Ketiga anaknya juga menjadi kiai, ulama penerus ayahandanya yang tercinta.

Kemudian beliau menikah dengan seorang putri bangsawan bernama Hj. Andi Suri (Daenna Sokori) dan melahirkan 2 putri Hj. Warda Kanna Yendeng dan Hj Raehan Daenna Ridu. Kemudian menikah dengan Habibah dan melahirkan 2 putri Aisyah Kanna Sani dan Mariatul Qibtiyyah Puanna Kaeni. saudara KH. Muhammad As’ad bernama KH. Muhammad Said menikah dengan putri bangsawan Bulukumba beliau ke tanah suci Makkah untuk belajar di sana, kemudian kembali ke Bulukumba (wafat dan dimakamkan disana).

KH. Daeng memiliki segudang kharismatik yang turun-temurun sampai ke anak, cucu, cicit dan buyutnya. Spirit keislaman yang menjadi dasar bahwa KH. Daeng mencintai masyarakatnya dengan sikap tawadhu yang dimilikinya serta mengajarkan kepada kita untuk senantiasa Taqarrub kepada Ilahi pencipta alam semesta Allah SWT.

Pendidikan KH. Daeng

Menurut Sumber yang valid dari beberapa informan bahwa KH. Daeng berguru ke luar daerah dan bahkan sampai ke tanah suci Makkatul Mukarramah selama 5 tahun. Beliau mengkhatam Al-qur’an pada saat beliau masih muda.

KH. Daeng sejak kecil senang membaca Al-quran dan membaca kitab-kitab kuning milik ayahandanya sehingga tidak mengherankan jika beliau mampu membaca kitab kuning dalam usia muda serta mengkhatamkan Al-qur’an.

Sejak kecil K.H Daeng rajin ikut berdakwah bersama ayahandanya KH. Harun. KH. Daeng sewaktu masih belia dididik langsung ayahandanya KH. Harun membaca kitab kuning (Kitab Gundul).

Beliau untuk lanjutkan pendidikannya bersama dengan seorang nelayan dengan memakai kapal layar (Kapal Sandeq) pada waktu itu. Selama 5 tahun di Makkah mengikuti pengajian kepada para ulama yang ada disana, beliau juga menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu ‘Haji’.

KH. Daeng berhasil mendidik ketiga putranya dalam bidang agama dan semuanya mampu membaca kitab kuning dengan baik dan mantap dan Alhamdulillah menjadi ulama besar di tanah Mandar.

Guru dan Murid KH. Daeng

Gurunya yang pertama adalah ayahandanya sendiri, kemudian guru KH. Daeng di tanah suci Makkah adalah seorang ulama besar yang ada di Arab Saudi pada saat itu.

Sedangkan murid KH. Daeng banyak tersebar keberbagai penjuru termasuk banyak murid beliau berada di Jawa dan Sumatera diantara murid beliau adalah guru dari Annangguru Latif ( KH. Abd Lathif Al Busyra) Pimpinan Pondok Pesantren Salafi Parappe Pambusuang yang mempunyai santri santriwati sekitar 3.000 orang dan guru beliau adalah KH. Mustofa yang menjadi murid dari K.H Daeng.

Yang cukup khas dari beliau, bahwa pendidikan ketiga putranya dididik langsung oleh beliau, sehingga anaknya yang juga muridnya bahkan anak mantunya sendiri jadi muridnya yaitu K.H Jalaluddin Gani yang juga menuntut ilmu di Makkah seangkatan dengan K.H Muhammad Saleh.

Murid K.H Daeng yang lain adalah K.H Abdullah Mubarak, K.H Sirajuddin Salam dan masih banyak lagi murid lainnya sampai ke daerah lain. Murid-muridnya pun aktif dalam mengembangkan syi’ar Islam di tanah Mandar.

Dakwah K.H.Daeng

Kegiatan dakwah adalah hal prinsip yang harus dilakukan oleh seorang ulama atau sang kiai, beliau tidak ingin menyimpan ilmu yang dimiliki, sehingga tekad kuat dan semangat dakwah yang mengalir dalam darahnya menjadikan terus mengamalkan ilmunya.

Ketawadhuan yang dimilikinya, berjuang dalam Dakwah Bil Lisan dan Dakwah Bil hal, ilmu dasar yang beliau miliki di tuangkan secara maksimal kepada para muridnya baik Ilmu Al-qur’an, Tajwid, Aqidah, Filsafat, Tasawuf, Nahwu Sharaf dan ilmu agama lainnya. Dengan berbagai latar belakang ilmu agama yang beliau miliki menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah bagi para penerusnya.

Hasil Karya KH. Daeng

KH. Daeng melanjutkan hasil karya ayahandanya membangun masjid Nurul Asrar yang sekarang menjadi masjid Nurul Abrar serta menjadi pemrakarsa berdirinya masjid Mara’dia kerajaan Balanipa Tangnga-tangnga, Tinambung Polman. Tentu saja masih banyak yang telah beliau hasilkan demi kemajuan islam di Mandar.

Keistimewaan dan Kharismatik KH. Daeng

Pernah suatu ketika KH. Daeng mengungsi ke perkebunan salama galung. Saat waktu magrib tiba beliau turun kesungai untuk berwudhu. Tiba-tiba pohon bambu yang ada disekelilingnya menunduk. Melihat keajaiban itu KH. Daeng takjub kemudian beliau langsung berdo’a dan bermunajah kepada Allah SWT, semoga anak, cucu, cicit dan buyut saya dikarunia ilmu yang berberkah, memahami dengan baik ilmu agama dan Alhamdulillah do’a beliau menjadi kenyataan sampai saat ini.

Beliau diberi hidayah oleh Allah SWT sehingga mengetahui tanda-tanda kematiannya. Ada satu tempat obat yang selalu berisi minyak sebagai obat padahal tidak pernah diisi selama bertahun-tahun lamanya. Hal tersebut terjadi sehingga diakhir hayat beliau. Penutup botolnya terbuat dari batang nipa atau dikenal dengan sebutan Umba, berubah menjadi batu.

Kharismatik, berani, berilmu namun tawadhu sabar dan tidak sombong serta ikhlas, arif dan bijaksana adalah karakter yang melekat pada sosok beliau. Contoh wibawa beliau adalah kalau pergi ke masjid untuk mengajar santri-santrinya, maka, santri-santrinya akan menunduk menanti beliau. Setelah santri-santrinya mendengar dari kejauhan bunyi langkah kaki dari KH. Daeng maka semua akan berhamburan menyelami dan mencium tangannya.

Contoh sifat keberanian dan ketagasan dalam mengambil keputusan turun kepada putra pertamanya yakni KH. Abd. Fattah As’ad. Kemudian contoh kearifan, kesabaran dan sifat tawadhu yang dimiliki KH. Daeng turun kepada putra keduanya yakni KH. Makmun As’ad. Kemudian contoh sifat keteguhan hati dari KH. Daeng turun ke putra ketiganya yakni KH. Djuaeni As’ad.

Nama KH. Daeng diabadikan sebagai nama jalan dalam wilayah Kabupaten Majene, pada masa pemerintahan H. Abdul Rasyid Sulaiman (Bupati Majene ke IV ).

Akhir Hayat KH. Daeng

Menghadap kepada pemilik alam jagad raya Al Khalik adalah suatu Qudrah Allah SWT., K.H Daeng menutup kisah dan perjalanan hidupnya didunia pada hari Kamis tanggal 16 Agustus 1945 bertepatan dengan 17 Ramadhan wafat dalam usia 74 tahun dan dimakamkan di Masjid Raya Al-Hurriyah Tinambung Polewali Mandar.

sumber : FB Mandar Studies

7 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here