Oleh: Innayah Haiqa Adriyan,Geanida Syakirina Velizia
( Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka)
Pada zaman di mana sosial media sudah menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, agaknya sudah jadi hal yang lumrah untuk lebih sering menelisik detail kehidupan orang lain dan terlarut di dalamnya. Kita sebagai salah satu dari miliaran orang yang berkutat di sosial media kerap membandingkan diri dan kehidupan kita dengan orang lain yang kita lihat di dunia maya dan menyebabkan timbulnya rasa iri di dalam hati.
Hal ini dibuktikan oleh Krasnova, Wenniner, Widjaja dan Buxmann (2013) yang menemukan adanya reaksi emosi negatif berupa iri hati saat seseorang melihat postingan orang lain (berupa foto) yang berdampak pada menurunnya kepuasan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa ketika kita memberikan atensi kita pada aktivitas orang lain yang ditunjukkannya di sosial media, secara tidak langsung terjadi penurunan kesejahteraan psikologis, namun diawali oleh respon emosional yang negatif, yakni rasa iri.
Bagi banyak orang, kecemburuan berasal dari distorsi kognitif dan hasil dari mendiskualifikasi hal-hal positif. Hal ini bisa terjadi pada sesuatu yang sangat spesifik, seperti ketika A dan B mendapatkan nilai yang sama tingginya, namun A harus mengeluarkan usaha yang lebih besar sedangkan B hanya membaca sedikit dan bisa meraih nilai tersebut.
Ketika kita cenderung memikirkan orang lain, dalam hal ini berarti mengelu-elukan kelebihannya dan malah merendahkan diri kita sendiri, maka kita akan sulit melihat potensi yang sebetulnya juga kita miliki, meskipun tidak mesti sama dengan potensi yang dimiliki orang lain.
Pernahkah kalian mendengar tentang kisah Qabil dan Habil. Kisah mereka adalah kisah pertama sejak keberadaan manusia di mana membanding-bandingkan diri dengan orang lain dapat mengarah pada kecemburuan. Kala itu, kedua putra Adam mempersembahkan kurban kepada Allah, akan tetapi hanya satu yang diterima oleh Allah. Akibat iri hati, Qabil membunuh saudaranya Habil dan diliputi rasa penyesalan.
Rasa iri dan cemburu adalah adalah faktor-faktor yang menghancurkan hidup kita. Terkadang, rasa cemburu tidaklah masuk akal dan tidak dilandasi alasan yang jelas, tapi pada beberapa kondisi, kita bisa merasakan hal tersebut karena lingkungan kita yang berbeda. Rasa cemburu, trauma dapat menambah lapisan rasa sakit dan bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk sembuh dari hal tersebut.
Seseorang yang telah mengalami trauma tidak selalu berniat untuk menyakiti atau mengharapkan hal-hal buruk bagi orang lain, tetapi mungkin lebih kepada bertanya-tanya mengapa mereka harus melalui kesulitan yang menyiksa diri mereka. Sementara membandingkan diri kita dengan orang lain bisa jadi menimbulkan efek yang lebih buruk, terutama dengan munculnya media sosial di mana semua orang bisa menunjukkan apapun tentang hidup mereka dan menonjolkan momen-momen terbaiknya saja.
Pada kehidupan sehari-hari, orang-orang juga menciptakan persona publik mereka, yang mana sikap mereka berbeda antara di depan publik dengan di rumah atau dengan orang-orang terdekat mereka. Contohnya, seorang anak bisa saja menceritakan kepada temannya tentang betapa kaya dan megah gaya hidup keluarganya, namun dia tidak akan menceritakan bagaimana ternyata orang tuanya sering melakukan kekerasan verbal padanya. Hal yang demikian secara tidak langsung adalah bentuk penipuan, karena bisa melahirkan kecemburuan bagi teman-teman yang mendengarkannya dan mereka akan membandingkan kehidupannya pada standar yang sebetulnya salah.
Seseorang ingin dilihat dari nilai-nilai baik yang ada pada dirinya seringkali agar diterima di masyarakat dan dikenali banyak orang. Walaupun pada umumnya orang-orang sudah mengetahui hal tersebut, tetap saja ada kompetisi antara satu sama lain, rasa iri, dan bahkan benci ketika melihat kehidupan orang lain lebih baik darinya.
Jadi, bagaimana cara kita mengobati rasa iri hati dan mulai perlahan-lahan menghentikan kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain?
Pertama-tama, kita perlu tahu penyebab dari rasa iri tersebut. Rasa iri salah satunya bisa disebabkan oleh rendahnya self-esteem. Menurut Vohs dan Baumeister (2016) self-esteem dapat didefinisikan sebagai perasaan orang tentang diri mereka sendiri terkait pentingnya prestasi, hubungan interpersonal yang positif, dan kesejahteraan psikologis.
Orang yang memiliki self-esteem yang rendah sebaiknya tidak menyimpulkan apakah hidupnya lebih baik ataukah lebih buruk dari orang lain, karena penilaian mereka akan dipengaruhi oleh perasaan negatif tentang dirinya sendiri. Ketika kita berpikir negatif tentang diri kita, secara otomatis kita akan memandang seolah semua orang lebih baik dari kita. Padahal, sebetulnya setiap kita dan kehidupan kita adalah baik dengan caranya masing-masing.
Mulailah dengan memerhatikan bagaimana cara kita bicara dengan diri sendiri. Jika kita bicara pada diri sendiri dengan cara yang negatif, seperti “ah mana bisa aku melakukan itu”, “tidak mungkin aku bisa menang dalam kompetisi besar”, atau “kemampuan bahasaku adalah yang paling buruk dari semua orang”, maka sangat mungkin hal itu tercermin pada mood dan performa kita ketika mengerjakan sesuatu.
Kemudian, rasa iri bisa disebabkan oleh kesalahan kita dalam memandang karunia dan rezeki yang telah Allah berikan kepada kita. Setan selalu membisikkan manusia untuk melakukan hal yang Allah tidak sukai, salah satunya adalah untuk merasa tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan pada setiap insan. Allah memberikan rezeki pada manusia secara adil, bukan dalam artian sama rata, namun sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas tiap individu tersebut. Inilah yang sering disalah pahami kebanyakan orang, ketika A mendapatkan gulai kambing sementara si B hanya mendapatkan selembar roti untuk makan siangnya, sekilas kita akan melihat apa yang didapatkan A lebih baik dari B. Padahal Allah tahu bahwa B lebih baik mendapatkan roti untuk makan siangnya karena ia sudah sarapan, sementara A sudah 2 hari tidak makan. Namun manusia kerap memandang apa yang ada di permukaan saja, pandangan tersebut bisa menimbulkan pandangan seolah “Allah tidak adil pada kita” dan itu sangat berbahaya.
Karunia, rezeki, dan keberkahan, semuanya adalah hadiah dari Allah. Terkadang kita melihat saudara atau teman kita memiliki jauh lebih banyak kepunyaan. Namun, berkah itu tidak terikat dengan seberapa banyak yang kita punya. Harta yang banyak tidak menjamin keberkahannya, waktu yang banyak tidak menjamin keoptimalan penggunaannya, begitu pula kepemilikan atas hal lainnya. Kita bisa memiliki harta yang sedikit namun bisa menggunakannya untuk membeli hal yang bermanfaat dan bersedekah, kita bisa memiliki waktu yang sedikit namun senantiasa kita gunakan untuk beribadah dan berbuat baik pada orang lain. Beberapa hal bisa jadi baik bagi seseorang, namun bisa jadi hal tersebut jadi ujian baginya, contohnya kesuksesan, kekayaan, kecantikan, dan banyak lagi. Maka Allah memberikan apa yang terbaik serta sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas diri kita sebagai hamba. Meragukan keadilan Allah menunjukkan betapa kurangnya pemahaman kita akan kebijaksanaanNya.
Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur pada firmannya, salah satunya adalah,
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan(ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahim: 7)
Sesungguhnya, sangat banyak rezeki dan karunia yang Allah berikan kepada kita. Allah mengatur rezeki kita mulai dari oksigen yang kita hirup setiap hari, makanan yang tersedia tiga kali sehari, tidur yang nyenyak, dan banyak lagi, yang demikian itu tidak lain adalah apa yang Allah karuniakan pada kita yang tak akan mungkin tertukar oleh makhluk lain. Namun, kita sebagai manusia tidak cukup peka untuk menyadarinya, Allah juga berfirman bahwa,
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nahl: 18)
Ketika kita mulai merasa bahwa kita tidak mensyukuri nikmat Allah, mintalah perlindungan padaNya dari godaan syetan. Karena, hal ini juga dapat mempengaruhi emotional well-being atau kesejahteraan emosional, dan spiritual kita.
Jika kita ingin mempraktekannya pada kehidupan sehari-hari, maka cobalah buat list atau catatan tentang hal apa saja yang kita syukuri setiap harinya. Penelitian juga mendukung bahwa mendikte dan merefleksikan hal-hal yang kita syukuri, serta menuliskan sesuatu kepada orang yang telah berbuat baik pada kita dapat meningkatkan well-being kita secara efektif.
Hal terakhir yang bisa menjadi pemicu timbulnya rasa iri yaitu ekspektasi kita yang berlebihan terhadap bagaimana kehidupan bekerja. Ketika hal buruk terjadi pada kita, atau ketika kita tidak bisa memiliki apa yang kita mau, bukankah kita cukup sering menyalahkan hal-hal yang berada di luar kontrol kita? Seperti menyalahkan teman, orang tua, masyarakat, kekayaan takdir dan yang lainnya.
Padahal, jika kita menganggap demikian, itu bisa berarti kita lari dari tanggung jawab dan membatasi kemampuan kita untuk menjadi individu yang lebih baik. Itu juga berarti kita membangun ekspektasi yang terlalu tinggi akan bagaimana dunia bekerja. Serta, ketika kita menyalahkan pihak eksternal, kita memberikan kekuatan lebih pada hal-hal eksternal tersebut untuk mengontrol kita dibandingkan diri kita sendiri.
Daripada fokus kepada hal-hal yang berada di luar kontrol kita, fokuslah pada hal yang masih bisa kita kontrol. Seperti; pikiran kita, perasaan kita, tindakan kita, keputusan kita, dan masih banyak hal lagi. Dengan mengalihkan fokus kita pada hal-hal yang masih bisa kita kendalikan, hal tersebut akan membuat kita melihat dunia secara lebih realistis.
Jadi dari hal yang sudah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa rasa iri dan cemburu akan kehidupan dan keberuntungan orang lain ada beberapa penyebabnya. Setiap manusia sejatinya memiliki kebaikan dan keberuntungannya masing-masing dengan bentuk yang berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan, karena Allah memberikan kita karunia dan rezeki sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas diri kita masing-masing. Adapun dari setiap penyebab tersebut, selalu ada hal yang bisa kita lakukan untuk merubahnya ke arah yang lebih baik, dan menciptakan pandangan kita yang lebih sehat terhadap diri kita sendiri dan kehidupan yang kita jalani.
Sumber:
Armalita, R., & Helmi, A. F. (2018). Iri di Situs Jejaring Sosial: Studi tentang Teori Deservingness. Jurnal Psikologi, 45(3), 218. https://doi.org/10.22146/jpsi.33313
Refnadi, R. (2018). Konsep self-esteem serta implikasinya pada siswa. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 4(1), 16-22.
Alex M. Wood, Jeffrey J. Froh, and Adam W. A. Geraghty (2010). “Gratitude and Well-Being: A Review and Theoretical Integration,” Clinical Psychology Review 30, no. 7: 890–905, https://doi.org/10.1016/j.cpr.2010.03.005.

No responses yet