Miris!!! Ya, inilah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi para penceramah— saya tidak menyebutnya ustadz, karena untuk mencapai level ini ada sejumlah kualifikasi dan kualitas yang harus dipenuhi— yang berseliweran di jagat maya, khusunya di media sosial berupa Youtube.
Baru-baru ini viral sebuah tayangan melalui Youtube, seorang penceramah yang oleh para “jama’ah”-nya disebut ustadz Gapleh (Gaul tapi Soleh), Evie Effendi yang banyak salah ketika membaca al-Qur’an, dan ironisnya diikuti oleh para jamaahnya. Duh…
Padahal, kemampuan membaca al-Qur’an dengan baik, sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah syarat mutlak dan paling mendasar bagi seorang penceramah, apalagi ketika menahbiskan diri sebagai ustadz. Jika syarat mutlak dan paling mendasar ini saja tidak terpenuhi, maka tentu tidak layak seseorang untuk tampil sebagai penceramah apalagi dianggap ustadz. See…
Kontroversi yang dilakukan oleh Evie Effendi bukanlah yang pertama. Beberapa waktu yang lalu juga ramai diperbincangkan, ketika dia dengan entengnya menyebut bahwa Rasulullah Saw. pernah sesat. Dia menafsirkan salah satu ayat dalam surat al-Dhuha secara serampangan. Tanpa memiliki bekal yang memadai terkait ilmu tafsir dan yang melingkupinya, dia berani menafsirkan ayat al-Qur’an saenake udele dewek, saenake uteke dewek (semaunya sendiri). Meskipun akhirnya dia minta maaf atas kesalahannya tersebut.
Selain Evie, ada beberapa penceramah yang juga sempat membuat geger jagat maya, sebut saja seorang tokoh yang konon ada di jajaran Majelis Ulama Indonesia, ternyata tidak bisa men-tashrif kata kafara dengan baik dan benar. Hadeuh… rusaknya dunia…
Pernah juga ada seorang penceramah yang salah mengutip ayat al-Qur’an. Kata Qaulan sadida dibaca berulang kali menjadi Qaulan Syadida. Masih dengan sosok yang sama, dia juga tidak mampu membedakan antara kafir dan kuffar. Byuh…
Sekian tahun lalu juga ada seorang penceramah di televisi yang mengatakan bahwa “nikmat terbesar di surga kelak adalah pesta seks.” Beuh…
Dan masih banyak lagi para penceramah yang malang-melintang di jagat maya, yang tidak memiliki kualifikasi dan kualitas sebagai seorang ustadz yang sesungguhnya, tetapi bermodal pede, popularitas, serta kedekatan dengan media, ceramahnya tersebar luas melalui media sosial.
Walhasil, seringkali yang disampaikan sang penceramah alih-alih mencerdaskan umat, justru membuat bodoh umat, bahkan menyesatkan umat. Na’udzu billahi min dzalika.
Melalui tulisan singkat ini, saya tidak bermaksud mendiskreditkan mereka. Saya hanya ingin mengingatkan mereka bahwa ghirah atau semangat dalam berdakwah saja tidak cukup. Ianya harus diiringi dengan keilmuan yang memadai, plus akhlak tepuji.
Adalah tugas para ustadz, kiai, ulama, yang memiliki kualifikasi dan kualitas yang sesungguhnya untuk tampil menghadirkan dakwah-dakwah yang mencerdaskan sekaligus mencerahkan. Sehingga umat mendapat yang terbaik dari sisi-sisi ajaran Islam, bukan malah sebaliknya..

No responses yet