Pagi hari ini kita merayakan Idul Adha atau sering disebut juga sebagai ‎Hari Raya Kurban. ‎

Untuk memperingati peristiwa bersejarah (baca: Idul Adha) kali ini, ‎penulis mengajak kita semua menyisihkan waktu sejenak untuk merefleksi, ‎merenungkan kembali hikmah di balik peristiwa pengurbanan yang dilakukan ‎oleh salah seorang rasul Allah dalam menjalankan misi mulia berupa ‎menyebarkan risalah tauhid.‎

Jika ditelisik secara historis, ritual pengurbanan ini bermula dari sebuah ‎‎‘mimpi yang benar’ (rukyat shadiqat) yang dialami oleh salah seorang ‎Khalilullah (kekasih Allah), Nabi Ibrahim a.s. Dalam mimpi tersebut, ‎sebagaimana dikisahkan dalam Q.S. Ash-Shaaffaat: 102, Nabi Ibrahim ‎menyembelih putra sematawayangnya, Ismail. Kemudian ketika mimpi ‎tersebut disampaikan kepada putranya, jawaban yang terlontar dari mulut ‎sang putra sungguh di luar dugaan, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang ‎diperintahkan kepada engkau, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk ‎orang-orang yang sabar”.‎

Kisah ini bukanlah cerita fiktif atau mitos belaka, tetapi suatu fakta ‎sejarah kehidupan seorang rasul Allah yang benar adanya. Dari peristiwa ‎dramatis inilah kemudian ibadah kurban yang disimbolkan dengan menyembelih ‎hewan kurban disyariatkan.‎

Misi Liberatif

Disamping prosesi ibadah kurban merupakan perintah agama yang harus ‎dipenuhi, sesungguhnya di balik ritualitas formal itu tersimpan banyak sekali ‎pesan moral untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.‎

Pesan paling substansial dan esensial dari ibadah kurban adalah misi ‎liberatif, yaitu semangat pembebasan. Basis utama semangat pembebasan ini ‎adalah pengakuan seorang hamba secara mutlak akan keesaan Tuhan ‎‎(tauhid)— yang tercermin dalam kalimat la ilaaha illa Allah (tidak ada tuhan ‎selain Allah)— dan menegasikan segala otoritas dan petunjuk yang datang ‎bukan dari Tuhan.‎

Menurut M. Amien Rais, bila pengertian tauhid ini ditarik ke dalam ‎kehidupan masyarakat manusia, maka tauhid tidak mengakui kontradiksi-‎kontradiksi berdasarkan kelas, keturunan dan latar belakang geografis. ‎Demikian juga tauhid menolak kontradiksi-kontradiksi legal, sosial, politik, ‎rasial, ekonomi, dan bahkan kontradiksi-kontradiksi antarbangsa. (M. Amien ‎Rais: 1995)‎

Dalam konteks ini, diskursus tentang teologi pembebasan yang ‎disuarakan oleh beberapa pemikir muslim kontemporer menarik untuk ‎dicermati. ‎

Farid Essack, misalnya, Doktor Tafsir Al-Qur’an asal Afrika Selatan, ‎melalui bukunya Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of ‎Interreligious Solidarity against Oppression (1997), mendefinisikan teologi ‎pembebasan sebagai sesuatu yang bekerja ke arah pembebasan agama dari ‎struktur serta ide sosial, politik dan religius yang didasarkan pada ketundukan ‎yang tidak kritis, dan pembebasan seluruh masyarakat dari semua bentuk ‎ketidakadilan dan eksploitasi ras, gender, kelas dan agama.‎

Di sisi lain, Asghar Ali Engineer dalam ‘Islam and Liberation Theology’, ‎mengatakan bahwa tujuan dasar dari teologi pembebasan ini adalah ‎persaudaraan universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan ‎keadilan sosial (social justice).‎

Dalam konsepsi Islam, persaudaraan universal dan kesetaraan adalah ‎sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Hal ini sesuai yang ditegaskan dalam Q.S. ‎Al-Hujurat: 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari ‎seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-‎bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang ‎yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling ‎bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha ‎Mengenal”.‎

Ayat ini secara jelas dan tegas membantah semua konsep superioritas ‎rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan satu penegasan dan ‎seruan akan pentingnya kesalehan. Kesalehan yang dimaksud adalah ‎perpaduan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.‎

Pada titik inilah, ibadah kurban menemukan relevansinya. Prosesi ‎pengurbanan yang disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban ‎melambangkan dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi vertikal-spiritual (hablun ‎min Allah) dan dimensi horisontal-sosial (hablun min an-nas). Dimensi vertikal-‎spiritual disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban, sebagai ‎implementasi dari sikap taat kapada Allah, sebagaimana termaktub dalam Q.S. ‎Al-Kautsar: 3. Sedangkan dimensi horisontal-sosial tercermin dari sikap ‎solidaritas sosial sesama manusia berupa pembagian daging kurban kepada ‎sesama muslim khususnya, dan lebih luas kepada sesama hamba Tuhan.‎

Dengan kata lain, ibadah kurban selain sebagai upaya pendekatan diri ‎‎(taqarrub) seorang hamba terhadap penciptanya, juga merupakan usaha ‎pembebasan dari segala bentuk penghambaan kepada sesama makhluk.‎

Transformasi Nilai Ilahi Menuju Nilai Insani

Drama simbolis berupa pengurbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‎a.s. mengajarkan kepada kita tentang pembebasan manusia dari segala ‎bentuk perbudakan dan penyembahan kepada sesama makhluk. Peristiwa ‎pengurbanan ini juga menyadarkan kita bahwa kesenangan materi berupa ‎kecintaan kepada anak secara berlebihan, menumpuk kekayaan, ‎melanggengkan kekuasaan, dan segala yang bersumber dari hawa nafsu, ‎diiringi dengan penafian dan ketidakpekaan terhadap nasib orang lain akan ‎menjerumuskan kita pada kesengsaraan.‎

untuk mewujudkan terciptanya sebuah masyarakat religius yang peka ‎terhadap problem-problem sosial, maka perlu ditanamkan kepada setiap ‎individu, kesadaran akan pentingnya transformasi nilai-nilai ilahiah yang suci ‎dari sebuah ritualitas ibadah formal, menuju nilai-nilai insaniyah dalam realitas ‎sosial.‎

Dengan demikian, tidak akan terlihat lagi manusia-manusia dengan ‎kepribadian terbelah (split personality), di satu sisi ia terlihat sebagai sosok ‎yang saleh secara ritual, namun di sisi lain ia juga sosok manusia yang bobrok ‎secara moral, berbagai kejahatan publik dilakukannya; korupsi, kolusi, ‎manipulasi dan sederet tindak kejahatan lainnya.‎

Singkatnya, orientasi ketuhanan dan kemanusiaan yang berakar pada ‎setiap individu harus mengejawantah dalam tata nilai perilaku sehari-hari. ‎Hanya dengan transformasi nilai-nilai ilahi ke dalam realitas sosial insani inilah, ‎akan tercipta masyarakat yang saleh, baik secara ritual maupun sosial.‎

Semoga nilai-nilai suci ibadah kurban ini mampu menggugah kesadaran ‎segenap elemen bangsa yang sudah semakin pudar, sehingga pada gilirannya ‎akan terwujud cita-cita membentuk sebuah masyarakat ideal, masyarakat ‎utama, yang mampu menyinergikan antara kesalehan ritual dan sosial.‎

‎* Ruang Inspirasi, Jumat, 31 Juli 2020. ‎

 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *