Ngomong2 pentingnya ridho, ada pelanggan di Mawlikopi yang cerita pengalamannya saat sakit parah bertahun-tahun. Saat itu dia sudah berobat kesana kemari, ke RS A hingga RS B, gak kunjung sembuh. Dia bertekad untuk sembuh apapun yang terjadi. Semua harta dia habiskan untuk berobat tapi gak tampak ada hasil. Duit simpanan pun tinggal 600 ribu. Andai mau lanjut pengobatan pun pasti gak cukup.
Pada titik itu, dua hampir putus asa. Dia terus merenung di masjid dan berdzikir. Hingga dia sadari bahwa yang namanya sakit itu dari Gusti Allah, sembuhnya pun kehendak Gusti Allah. Walau jungkir balik ngejar sembuh, kalo belum dikehendaki sembuh, ya gak bakal sembuh. Dan kalo Gusti Allah sudah berkehendak, harta dan kekayaan sebanyak apapun gak akan bisa menolong.
Akhirnya dia pasrah, kalo dikehendaki sembuh ya Alhamdulillah, dikehendaki mati ya siap. Dia juga lepas beban ambisi buat ingin begini begitu. Dia hentikan pengobatan karena kurang biaya dan gak kunjung sembuh. Hidupnya pun dibikin senang, gak neko-neko.
Satu hari, dikenalkan dokter oleh saudaranya. Dokter ini cuma menyuruh dia banyak istirahat, makan apapun gak ada pantangan, beli obat seharga 21ribu rupiah dan rutin suntik selama 4 hari. Alhamdulillah cocok dan sembuh.
Dari cerita ini dia berkesimpulan, bahwa kalo kita punya kesusahan yang panjang, obatnya ada di diri kita sendiri. Yaitu mau pasrah dan ridho dengan ketentuan Gusti Allah atau tidak. Semakin kita ridho, menerima dan senang dengan takdir, semakin dekat kita pada kesembuhan.
Dalam satu hadits qudsi, Gusti Allah berfirman pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW
خلقت الخير، وخلقت له أهلا، وخلقت الشر، وخلقت له أهلا، فطوبي لمن خلقته للخير، ويسرته على يديه، وويل لمن خلقته للشر، ويسرت الشر على يديه، وويل ثم ويل لمن قال : لِمَ كيف؟
“Hai Muhammad, Aku ciptakan kebaikan dan Aku ciptakan para pelakunya. Aku ciptakan keburukan dan Aku ciptakan pelakunya. Maka Aku ampuni para pelaku kebaikan dan Aku mudahkan dia untuk berbuat kebaikan. Dan celakalah para pelaku keburukan dan Aku mudahkan dia berbuat keburukan. Dan celaka, sungguh celaka bagi orang yang mempertanyakan ketetapan-Ku dengan perkataan : Kenapa dan bagaimana bisa?”

No responses yet