oleh : Alya Safira Putri dan Salsabilla Oktavia (Fakultas psikologi program studi psikologi
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA)
- Fitrah manusia.
Fitrah manusia sebagai mahluk di dunia ini adalah menjadi khalifah untuk keberlanjutan pola kehidupan, tetapi banyak sekali manusia yang masih belum paham hakikat dan tujuan diciptakannya adalah menjadi seorang hamba, bahkan ada yang menjalani kehidupan ini tanpa tujuan dan tidak memahami konsep jati diri di dalam dirinya.
Bagaimana pencarian jati diri yang sesungguhnya?
Mengapa harus melalui pendekatan dengan tuhan?
Masih banyak pertanyaan serupa dalam konteks pencarian jati diri sebagai seorang manusia. Melewati perenungan dan proses belajar yang panjang, manusia terus mencari hikmah dalam setiap jawaban dari banyaknya pertanyaan yang kian mendebarkan.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (ilaa akhiirihi).
Menjadi manusia, berarti merangkap peran menjadi hamba. Beribadah dan menjadi khalifah merupakan kewajiban dan sifat asal (fitrah) manusia sebagai hamba. Maka, kalau ada yang suka meninggalkan kewajiban shalatnya, dan tidak menyeru amar ma’ruf nahi munkar berarti juga telah menyalahi fitrahnya sebagai manusia.
Ketidak adanya pemahaman akan jati diri dan fitrah manusia seolah olah membuat semuanya sibuk berkompetisi di dunia tanpa ridha Ilahi , mengatas namakan bahwa itu semua adalah kebenaran yang tervalidasi dan membiarkan rasa kemanusiaan dan hakikat diri menjadi hal yang tak penting lagi
- Pencarian jati diri.
- Sisihkan waktu untuk merenung dan berfikir.
Ketika ingin mengetahui jati diri tentunya kita harus mencari peran dan memahami diri sendiri, dengan merenungkan sejenak dan memahami fitrah sebagai seorang hamba, perenungan ini semata mata untuk dapat menemukan jawaban agar bisa menjadi versi terbaik diri. Menemukan jati diri berarti mengenal diri sendiri dengan lebih baik dan mampu menentukan tujuan serta apa yang ingin dicapai.
Ketika kita sudah bisa menentukan tujuan dan mengetahui kemampuan apa saja yang bisa kita kendalikan , bisa menerima kelebihan serta kekurangan yang kita punya tentunya kita sudah dapat mensyukuri dan menghargai ketetuan yang Allah titipkan kepada kita.
- Mengenali diri dengan mengetahui bakat.
Kamu bisa memulai dari aktivitas apa yang kamu sukai, mencari aktivitas baru,mendengarkan pendapat orang lain dan mencari pengalaman baru. dengan adanya aktivitas juga pengalaman baru waktu kita lebih produktif dan bermanfaat
.
- Menentukan tujuan hidup.
Dalam proses pencarian jati diri semakin kita mengetahui adanya sang pencipta sebagai tempat bersandar. dalam penentuan tujuan hidup kita hanyalah seorang yang bisa merencanakan tapi tentunya tidak keluar dengann takdir yang Allah tuliskan, tentunya kita diajarkan untuk melatih kesabaran dan ikhlas menerima ketentuan yang Allah tuliskan.
- Rekam pikiran dan emosi yang muncul dalam sebuah buku harian.
Dalam pencarian jati diri, perlu untuk mengenali dan mengamati pemikiran juga perasaan yang ada, kamu bisa mengenalinya dan menulis di buku harian sebagai acuan untuk pengendalian diri , juga sebagai bentuk intopeksi diri dan pendekatan kepada Allah untuk selalu memberikan rasa ketenangan dan kesabaran yang berlipat ganda.
Manakala pribadi menyerahkan diri ke tangan Tuhan, tidak perlu khawatir kehilangan jati diri serta kebebasannya atau menjadi seperti wayang tak bernyawa yang hanya dimainkan. Contoh untuk itu adalah ‘cinta’. Secara ideal, dalam cinta sempurna dua orang sama sekali tergantung satu dari yang lain, dalam arti, yang satu seakan-akan tidak dapat hidup tanpa yang lain. Akan tetapi, ketergantungan itu justru tidak memperlemah, melainkan memperkuat identitas dan kemandirian keduanya masing-masing. Pribadi yang terikat cinta yang benar adalah paling mampu untuk mengembangkan diri, untuk menyumbangkan sesuatu bagi pribadi lain, dan dalam itu ia tetap bahagia. Ketergantungan dalam cinta tidak melumpuhkan atau membuat pasif melainkan memobilisasikan wawasan-wawasan dan energi-energi baru.
kita menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah manusia yang selalu membutuhkan siraman-siraman suci berupa Al-Quran, mutiara-mutiara sabda Rasulullah, ucapan hikmah para ulama, bahkan saling menasehati dengan penuh keikhlasan sesama saudara seiman. Sehingga kita tetap berada pada jalan yang benar, istiqomah melalui sebuah proses perjalanan menuju Allah SWT.
Allah swt mengingatkan kita dengan firmannya:
وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqoroh: 197).
Dengan mendekatkan diri kepada Allah dan berzikir,menyebut-nyebut namaNya,akan merekahlah benang-benang merah di lubuk hati,yang mengikatkan cinta kasih kepada Allah.
Referensi :

No responses yet