Categories:

Oleh : Anindira Aiska Gusrianto (Fakultas Psikologi, Universitas : Universitas Muhammadiyah prof. Dr. Hamka)

Keluarga bahagia merupakan hal yang menjadi idaman setiap pasangan suami istri, hal itu merupakan salah satu syarat untuk mencapai keharmonisan keluarga. Kebahagiaan keluarga akan terwujud jika di dalam keluarga tersebut dapat saling menghormati, menyayangi, mengasihi, serta menghargai satu sama lain.

Agar tujuan pernikahan tercapai, maka semua bentuk keadaan disharmoni harus dihindari atau diminimalisir dengan cara membuat keluarga menjadi prioritas utama, menjaga keutuhan anggota keluarga, komunikasi antar anggota keluarga, saling pengertian, sabar, jujur, saling percaya, tidak mudah berprasangka buruk terhadap pasangan, menghormati pendapat pasangan, harus saling mencintai dan menyayangi seluruh anggota keluarga, bersyukur atas nikmat Tuhan dengan ikhlas, bekerja keras, tidak mudah putus asa, dan penuh kesabaran dalam menghidupi keluarga Selain itu, matang secara emosi dan usia pada saat menikah itu juga membantu tercapainya keharmonisan keluarga   pengungkapan emosi dalam bentuk kasih sayang dan kelembutan menimbulkan keintiman dan kepercayaan dalam hubungan.

Kebanyakan kerengangan yang terjadi dalam sebuah hubungan ialah rasa ego yang berlebihan, hal tersebut biasa terjadi pada hubungan keluarga, hubungan rumah tangga suami istri atau bahkan hubungan dengan pasangan kekasih. Umumnya wanita itu lebih menggunakan sisi perasaan nya dari pada logika, maka ia tergolong lebih sensitif dan ingin selalu diperhatikan oleh sang lelaki tidak menutup kemungkinan juga bahwa wanita ingin dimanja seperti di turuti keinginannya, namun tidak dapat di pungkiri bahwa lelakipun juga ingin merasakan hal yang sama, namun terdapat titik kelemahan dari lelaki yaitu kurang sabar dalam mengontrol emosional untuk mengikuti kemauan wanita yang pada akhirnya memicu pertengkaran.

Komunikasi yang baik itu berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga, saling mengerti satu sama lain, saling terbuka juga dapat membantu mengurangi pertengkaran. Hal yang biasa terjadi ketika komunikasi kurang adalah dengan terjadinya perdebatan rumah tangga hal yang kecil pun bisa saja membesar karna kurangnya komunikasi dan kurangnya saling mengerti satu sama lain. kebanyakan cara yang dilakukan adalah komunikasi secara langsung, ketimbang dengan komunikasi tidak langsung, artinya apabila dilakukan secara langsung, lebih mudah untuk dapat dipahami bersama antara suami istri tersebut.

Cara berkomunikasi yang baik dalam keseharian adalah dengan nada yang lembut. Komunikasi menggunakan nada yang keras atau sedikit membentak dapat memicu pertengkaran karena munculnya rasa tidak ingin kalah satu sama lain, dan bisa disimpulkan bahwa cara berkomunikasi dengan nada lembut itu lebih dominan pada karakter istri dari pada suami, sementara suami lebih cenderung untuk berkomunikasi dengan nada yang keras, dibandingkan istri. Hal ini dimungkinkan karena, latar belakang pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih besar dipikul oleh suami sebagai seorang kepala keluarga.

Kebanyakan suami istri selalu terbuka dalam segala hal, baik masalah pekerjaan, keuangan , bisnis, keluarga dan lain-lain. Dengan adanya keterbukaan akan mempengaruhi hubungan yang lebih baik antara suami istri sehingga keharmonisan tetap terjaga.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *