Oleh: Imroatus Saadah
Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang melibatkan perubahan biologis, kognitif dan sosioemosional. Perubahan ini mengubah pandangan seseorang terhadap dirinya menjadi lebih kompleks, terorganisir, dan konsisten. Konsep diri pada remaja berubah menjadi lebih terstruktur (Rath, 2012). Menurut Mead (Pudjigjoyanti, 1998) konsep diri merupakan produk sosial yang dibentuk melalui pengalamanpengalaman psikologis. Pengalamanpengalaman psikologis ini merupakan hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisik dan refleksi dari dirinya yang diterima dari orang-orang penting disekitarnya. Sedangkan menurut Hurlock (2012), konsep diri khususnya konsep diri primer didasarkan pada pengalaman anak di rumah dan dibentuk dari berbagai konsep terpisah, yang masing-masing merupakan hasil dari pengalaman dengan anggota keluarga yang lain.
Menurut teori tentang konsep diri terdapat tiga faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri, yaitu: peran orang tua, peran faktor sosial, dan peran faktor belajar. Dari ketiga faktor tersebut faktor peran orang tua merupakan faktor yang paling utama dalam pembentukan konsep diri pada anak. Sanjungan, senyuman, pujian, dan penghargaan akan menyebabkan penilaian positif terhadap diri anak, sedangkan ejekan, cemoohan, dan hardikan akan menyebabkan penilaian negatif terhadap dirinya (Pudjijogyanti, 1998)
Kondisi keluarga yang baik merupakan faktor penting dalam pembentukan konsep diri anak. Kondisi keluarga yang demikian dapat membuat anak menjadi lebih percaya dalam membentuk aspek dalam dirinya, karena mereka mempunyai model yang dapat dipercaya.
Berdasarkan uraian diatas, dalam pembentukan konsep diri anak dibutuhkan keselarasan peran kedua orang tua, bukan hanya sekedar ibu yang berperan aktif terhadap pengasuhan dan pembentukan 2 konsep diri anak, tetapi ayah juga harus berperan serta didalamnya. Ayah turut memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak. Pengalaman yang dialami bersama dengan ayah, akan mempengaruhi seorang anak hingga dewasa nantinya. Peran dan perilaku pengasuhan ayah mempengaruhi perkembangan serta kesejahteraan anak dan masa transisi menuju remaja (Cabrera, 2000).
Bagi sebagian remaja, terutama remaja putri, ayah merupakan sosok idola, segala hal yang mereka lakukan semata hanya untuk mendapatkan perhatian dari ayahnya, akan tetapi ayah selalu mengutamakan pekerjaannya daripada meluangkan waktu untuk bermain atau sekedar mengobrol dengan putrinya. Sehingga tak jarang ketika ayah ingin berbicara dengan anak perempuannya mengenai banyak hal yang terjadi di saat usia anaknya menginjak masa remaja, alih-alih meluangkan waktu untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, sang ayah lebih memilih untuk mengatakannya melalui perantara ibu.
Anak yang ayahnya ikut serta dan tertarik dalam pengasuhan akan memiliki konsep diri yang baik, kemampuan sosial dan kognitif yang baik, serta kepercayaan diri yang tinggi, dan sebaliknya anak yang ayahnya tidak ikut serta dalam hal pengasuhan akan memiliki konsep diri tidak sebaik anak yang ayahnya turut serta dalam hal pengasuhan.
Konsep diri sangat penting bagi individu karena terbentuk dari masa kanak-kanak. Ketika menginjak remaja, orang yang memiliki konsep diri yang baik akan mampu menerima kritik dan saran dari orang lain mengenai keburukan atau kekurangan yang mereka miliki.
Berikut merupakan penjelasan mengenai konsep diri :
- Konsep diri
Chaplin (2001) mengatakan bahwa self concept adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri, penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu yang 3 bersangkutan. Konsep diri (self concept) menurut Rogers (Lisa, 2011) adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat“.
- Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri
Menurut Pudjijogyanti (1998) ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri, yaitu : citra fisik, jenis kelamin, perilaku orang tua, dan faktor sosial. Argyle (Handry dan Heyes, 1989) berpendapat bahwa terbentuknya konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: reaksi dari orang lain, perbandingan dengan orang lain, peranan seseorang, dan identifikasi terhadap orang lain.
- Pembentukan konsep diri pada remaja putri
Papalia (2009) mengatakan konsep diri mulai terbentuk selama masa “middle childhood” (pada usia 6-12 tahun atau pertengahan masa kanak-kanak). Pada masa puber (kira-kira 11-15 tahun) perlakuan orang lain sangat mempengaruhi konsep diri yang dapat menimbulkan sikap negatif atau positif terhadap diri sendiri. Anak yang mengembangkan konsep diri kurang baik pada masa kanak-kanak, di masa puber ini cenderung menguatkan konsep tersebut dengan perilakunya bukan memperbaikinya (Santrock, 2012). Dalam pembentukan konsep diri anak dibutuhkan keselarasan peran kedua orang tua, bukan hanya sekedar ibu yang berperan aktif terhadap pengasuhan dan 6 pembentukan konsep diri anak, tetapi ayah juga harus berperan serta di dalam pengasuhan anak. Hubungan sang ayah kepada ibunya atau orang lain akan menjadi panduannya dalam membina hubungan dengan lawan jenisnya ketika dia tumbuh dewasa (Walker, 2012).
- Peran ayah dalam pembentukan konsep diri remaja putri
Palkovits (2002) menyimpulkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak memiliki beberapa definisi, diantaranya yaitu: terlibat dengan seluruh aktivitas yang dilakukan oleh anak, melakukan kontak dengan anak, dan dukungan finansial kepada anak. Keterlibatan dalam pengasuhan juga diartikan sebagai seberapa besar usaha yang dilakukan oleh seorang ayah dalam berpikir, merencanakan, merasakan, memperhatikan, memantau, mengevaluasi, dan mengkhawatirkan anaknya.
Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak berkorelasi positif dengan kepuasan hidup anak, kebahagiaan (Flouri,2005) dan rendahnya pengalaman depresi (Dubowits, 2001). Penerimaan ayah secara signifikan mempengaruhi penyesuaian diri remaja (Veneziano,2000), dan memainkan peranan penting bagi pembentukan konsep diri dan harga diri (Culp, 2000). Secara keseluruhan kehangatan yang ditunjukkan oleh ayah akan berpengaruh besar bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis anak, dan meminimalkan masalah perilaku yang terjadi pada anak (Rohner & Veneziano,2001).
Peran serta perilaku pengasuhan ayah mempengaruhi perkembangan serta kesejahteraan anak dan masa transisi menuju remaja (Cabrera, 2000). Peran ayah menjadi sangat penting dikarenakan seorang remaja putri membutuhkan ayah sebagai teman bicara, memberi nasehat tentang suatu hal, sebagai tempat bersandar, sebagai tempat belajar bagaimana cara untuk berhubungan dengan orang lain dan bagaimana merencanakan masa depannya.
Peran ayah sangat penting dalam perkembangan remaja putri namun untuk dapat menjalankan peran tersebut tidaklah mudah, menurut McGolerick (2012) kondisi 7 tersebut dikarenakan pada masa ini sebagai seorang remaja putri yang terus tumbuh dan berkembang, masa remaja akan menjadi masa yang paling rumit. Menurut Walker (2012) selain berperan dalam perkembangan konsep diri anak tentang penilaian terhadap dirinya, ayah juga sangat berpengaruh terhadap hubungan anak dengan lawan jenis yang merupakan hal yang wajar dialami oleh para remaja.
Menurut McGolerick (2012) keterlibatan seorang ayah dalam kehidupan putrinya adalah unsur penting dalam pengembangan diri seorang remaja putri. Unsur-unsur positif dari “pikiran sehat” pola asuh ayah dapat membantu mendukung citra diri putri mereka dan menekan kemungkinan rendah diri.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, E.H. 2012. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang kehidupan. Terjemahan oleh Istiwidayanti & Soedjarwo. 2012. Jakarta: Erlangga.
McGolerick, Elizabeth Weiss. 2012. The importance of the father-daughter relationship. http://www.sheknows.com /parenting/articles/821928/ the-importance-of-thefatherdaughterrelationship, di akses pada 30 Desember 2023 pada pukul 19.05 WIB.
Cabrera, N., Tamis-Lemonda, C., Bradley, R., Hofferth, S. & Lamb, M. 2000. Fatherhood in the 21st Century. Child Development, 71, 127-136
Pudjijogyanti, C. R. 1998. Konsep Diri dalam Pendidikan. Jakarta: Arcan
Rath, Sangeeta, & Nanda, Sumitra. 2012. Self Concept: A Psychosocial Study on Adolescent. Zenith International Journal of Multidisciplinary Research. Vol.2 Issue 5 May 2012.
Papalia, E.D., Olds, S.W., Feldman, R.D. 2009. Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.
Penulis :
Imro Atus Saadah
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Fakultas Psikologi Prodi Psikologi

No responses yet