Categories:

Oleh: Hilmy Yusuf Nauval (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta (UHAMKA) prodi ilmu komunikasi) 

Hari-hari tanpa buka sosmed ibarat lagi masak tapi bahannya kurang. Di setiap perjumpaan, manusia selalu berkomunikasi agar segala tindakan dapat berjalan efektif dan tanpa adanya miskomunikasi. Dalam hal ini, komunikasi di era digital tidak hanya dapat berkomunikasi lewat telepon ataupun sms saja, tetapi juga bisa melalui media sosial. Media sosial memungkinkan kita untuk mengenal, mengekpresikan diri, dan terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia dengan lebih mudah. Media sosial telah mengubah kemampuan kita untuk berkomunikasi, berbagi informasi, dan membentuk komunitas. Media sosial juga telah menjadi komponen penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di seluruh dunia khususnya di Indonesia. 
               
               Media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi. Dulu, manusia cenderung berkomunikasi dengan cara satu arah atau tanpa adanya respon seperti menonton tv atau mendengar radio. Sekarang dengan adanya media sosial, komunikasi menjadi lebih luas dan masyarakat bisa banyak mengenal orang, organisasi, berita, kasus, dll.

Media sosial juga menciptakan ruang bagi pembentukan komunitas. Grup-grup diskusi, forum, dan halaman komunitas di media sosial mempertemukan individu dengan minat dan hobby yang sama. Misalnya, komunitas otomotif, komunitas gadget, atau komunitas pecinta anime, semuanya berkembang pesat di platform-media sosial seperti di facebook.

Media sosial juga memungkinkan penyebaran informasi yang sangat cepat. Namun, di sisi lain, masalah terkait keaslian informasi juga menjadi perhatian. Di Indonesia, marak terjadinya penyebaran informasi hoaks yang dapat mempengaruhi sikap dalam menerima informasi. Seperti yang kita tahu, hoax merupakan tantangan terbesar kita dalam mengolah informasi. Jika kita lalai dan tidak mengecek ulang tentang informasi yang kita baca, maka kita akan termakan oleh berita hoax. Contoh kasusnya teman saya melihat berita bahwa akan ada festival anime di Mall KCP Karawang pada tanggal 12/02/2023. Ia mengajak saya untuk ikut ke festival tersebut, tetapi saya menolak karena saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang festival itu dari sumber yang jelas seperti akun asli penyelenggara festival. Saya bilang, “Emang di akun ignya ada informasi?” teman saya menjawab, “Mungkin mau surprise jadi enggak bilang.” Saya biarkan dia untuk pergi sendiri. Selang beberapa menit, ia mengabari saya bahwa di mall itu tidak ada festival apa-apa. Jadi, penting bagi kita untuk selalu memilah dan memilih berita yang akan dibaca.

Selain itu, media sosial memberikan suara pada individu yang sebelumnya tidak memiliki akses untuk berbicara. Di Indonesia, hal ini terjadi dalam gerakan-gerakan sosial, kampanye amal, atau pergerakan kemanusiaan yang dimulai melalui media sosial. Contohnya media sosial digunakan untuk mendukung kebebasan Palestina. Dahulu, banyak yang tidak tahu akan kebenaran yang terjadi di Palestina karena minimnya informasi dan belum banyak yang membahas tentang konflik di Palestina. Tapi sekarang dengan banyaknya akun media sosial dan influencer yang membahas konflik di Palestina, orang-orang di seluruh dunia jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi di Palestina. Dengan banyaknya informasi tentang konflik di Palestina, terjadi gerakan untuk membantu kebebasan Palestina seperti donasi, demo, dan dukungan dari seluruh dunia. Tidak hanya membahas Palestina, dengan adanya sosial media, kasus apapun menjadi cepat diselesaikan, seperti perundungan anak, pemerkosaan, pembunuhan, dan kasus apapun itu karena ada yang membahas dan menjadi viral.  

Sosial media tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga membawa tantangan yang besar. Perlindungan privasi dan data menjadi perhatian besar. Setiap aplikasi media sosial pasti mempunyai izin privasi, tapi masyarakat kita masih minim literasi yang bisa menyebabkan menyebarkan privasi dan data tanpa adanya pemahaman yang mendalam. Contoh kasusnya saat nft sedang tren, ada saja masyarakat kita yang mengunggah foto KTP (Kartu Tanda Penduduk) sambil selfie. Ini bisa menyebabkan penyalahgunaan data dan privacy oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Disitulah peran pemerintah supaya memberikan edukasi terkait masalah privasi dan data agar masyarakat tahu pentingnya data pribadi mereka.


Foto orang menjual KTP di NFT (sumber gambar: Twitter: @twuicei)

Jadi, media sosial membawa perubahan dalam cara berkomunikasi manusia. Dahulu, orang cenderung berkomunikasi dengan satu arah dan tidak ada respon. Sekarang, manusia tidak hanya bisa berkomunikasi lewat telepon saja, tapi bisa lewat sosial media. Tetapi masyarakat harus sadar terkait sosial media yang bisa menyebarkan informasi dengan sangat cepat. Masyarakat perlu waspada dan teliti terhadap berita yang belum jelas keasliannya. Selain itu, masyarakat juga bisa menyuarakan suara mereka di sosial media seperti menyuarakan kebebasan, pendapat, dan membahas kasus-kasus yang terjadi di sekitar mereka. Media sosial juga memberi tantangan berat yang harus dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia terkait masalah data dan privasi. Banyaknya data yang bocor oleh peretas yang tidak bertanggung jawab dan dijual di situs-situs tertentu. Tidak hanya dari peretas, data dan privacy yang bocor juga bisa dari individu itu sendiri. Maka pentingnya edukasi terhadap masalah ini. Pemerintah harus memberikan edukasi kepada masyarakat lewat media apa saja, seperti televisi, koran, artikel, sosial media, dll. Pemerintah juga bisa berkolaborasi dengan influencer di media sosial untuk memberikan edukasi tentang permasalahan ini. Dengan harapan masyarakat bisa paham betapa pentingnya data dan privasi mereka.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *