Azyumardi Azra dalam disertasinya yang kemudian menjadi buku yang fenomenal berjudul Jaringan Ulama: Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII Dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam Di Indonesia (Mizan, 1994) membuktikan adanya jaringan ulama Timur Tengah dan ulama Nusantara pada kurun tersebut.

Jaringan ulama tersebut terbentuk karena hubungan guru-murid yang mana tidak sedikit para pencari ilmu dari kepulauan Nusantara yang berguru kepada para syekh khususnya yang mengajar di Masjid al-Haram Makkah al-Mukarramah. Sebagian besar para murid itu setelah berguru kepada para ulama Timur Tengah, kemudian kembali ke tanah air (Nusantara) dan menjadi ulama pula sehingga terbentuklah jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara.

Apabila Anda membaca kitab I’anah al-Thalibin, salah satu kitab yang masyhur di kalangan pesantren yang ditulis oleh Syekh Muhammad ibn Syatha al-Dimyati al-Syafi’i kemudian menelusuri riwayat penulisan kitab tersebut, akan ditemukan bahwa salah satu juru tulis kitab I’anah adalah seorang keturunan Banjar, Kalimantan, yaitu Syekh Ali al-Banjari.

Syekh Ali al-Banjari berguru kepada Syekh Muhammad ibn Syatha yg mengajar kitab Fath al-Mu’in karya Syekh Zain al-Din al-Malibari. Syekh Muhammad bin Syatha menjelaskan kitab Fath al-Mu’in dan penjelasan-penjelasannya itu dicatat oleh murid-muridnya yang salah satunya adalah Syekh Ali al-Banjari.

Penjelasan-penjelasan atas Fath al-Mu’in kemudian dikumpulkan menjadi kitab I’anah al-Thalibin. Kitab ini dalam tradisi pesantren termasuk kategori hasyiyah (penjelasan atas kitab Fath al-Mu’in). Fath al-Mu’in sendiri merupakan syarah (penjelasan) atas kitab Qurrah al-‘Ain Bimuhammat al-Din. Karena itu, belajar fikih di pesantren bisa dimulai dari kitab Qurrah al-‘Ain, lalu Fath al-Mu’in baru I’anah al-Thalibin. Sebenarnya ada kitab yang lebih kecil lagi dari Qurrah al-‘Ain, yg mesti dipelajari oleh santri pemula yaitu Safinah al-Naja dan syarahnya Kasyifah al-Saja.

Dengan membaca bagian paling akhir kitab I’anah bisa diketahui titimangsa kapan kitab ini selesai ditulis, yaitu pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani, 1298 H.

I’anah al-Thalibin banyak merujuk kepada pendapat ulama Syafi’iyah sebelumnya terutama Abu Zakaria al-Nawawi dan Ibn Hajar al-Haytami. Ada banyak kitab karya ulama mutaakhirin seperti dua ulama tadi, yang dirujuk oleh penyusun I’anah antara lain Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, dan Hawasyi al-Bujairumi.

Dengan melihat ketebalan kitab I’anah yg terdiri dari empat jilid dan penjelasannya yg lebih luas dan kaya referensi, jelas kitab I’anah tidak termasuk kitab yg diperuntukkan bagi santri yang masih dalam tahap awal dan pertengahan, melainkan diperuntukkan bagi santri yg sudah berada pada level yang lebih tinggi dan seperti disampaikan di atas, bagi para santri yang sudah mengaji kitab-kitab yang lebih kecil seperti Safinah, Fath al-Mu’in atau Fath al-Qarib. Karena itu, I’nah termasuk kategori kitab yang disusun dengan penjelasan yang luas dan panjang (mabsuth).

Berbeda dengan kitab-kitab yang dalam kategori yang diperuntukkan bagi para santri pemula seperti beberapa contoh di atas, yang hanya berisi penjelasan yang relatif singkat dan tidak begitu kaya referensi. Bahkan beberapa kitab seperi al-Taqrib atau dikenal juga sebagai matan Abu Syuja’ hanya berisi penjelasan singkat saja. Begitu pula kitab matan lainnya.

Perlu diketahui bahwa dalam tradisi kitab pesantren atau dikenal juga kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning, atau kitab gundul karena huruf-hurufnya tidak berbaris (berharkat) ada setidaknya tiga kategori kitab, pertama, kitab matan dengan redaksi yang singkat atau pendek untuk setiap bab atau fasalnya; kedua syarah, yaitu penjelasan atas kitab matan yang berisi penjelasan panjang lebar dan ketiga hasyiyah, yaitu penjelsan atas syarah suatu kitab. Kitab matan contohnya kitab Qurrah al-‘Ain yang disyarah oleh kitab Fath al-Mu’in. Adapun Hasyiyah Fath al-Mu’in adalah I’anah al-Thalibin yang sedang kita bahas ini.

Judul lengkap Hasyiyah I’anah adalah I’anah al-Tholibin ‘ala Halli Alfazh Fath al-Mu’in.
Dengan adanya kata hasyiyah menunjukkan bahwa kitab ini merupakan penjelasan (syarah) atas penjelasan (syarah), yaitu syarah atas syarah Fath al-Mu’in, kitab syarah yang disusun oleh Zain al-Din al-Malibari.

Secara bahasa (lughah) arti kitab I’anah al-Tholibin ‘ala Halli Alfazh Fath al-Mu’in adalah “Pertolongan bagi Para Pencari untuk Memecahkan Teks-teks dalam kitab Fath al-Mu’in”.

Ketika saya menjelaskan kitab Kifayah al-Akhyar karya Abu Bakar al-Husayni yang merupakan syarah atas Matan al-Taqrib karya Abu Suja, sudah saya sampaikan bahwa sistematika kitab-kitab fikih Syafi’iyah relatif sama, yaitu dimulai dari pembahasan tentang bersuci (thaharah) dan diakhiri pembasan tentang membebaskan budak (al-‘itq).

Sebagai kitab fikih mazhab Syafi’iyah, I’anah al-Thalibin juga memiliki sistematika pembahasan yang sama dengan kitab-kitab fikih lainnya yang serumpun atau semazhab. Dan sebagai pejelasan atas Fath al-Mu’in, kitab I’anah tentu mengikuti sistematika kitab Fath al-Mu’in karya al-Malibari yang tersohor dan menjadi menu yang wajib dipelajari dalam tradisi pesantren.

Ada beberapa penerbit yang menerbitkan kitab I’anah. Adapun versi yang saya punya yang saya beli kurang lebih dua puluh tahun yang lalu adalah yang diterbitkan oleh penerbit Dar al-Fikr, Beirut.

Beberapa waktu lalu saudara saya hendak membeli kitab I’anah yang saya miliki dan disimpan di lemari buku saya untuk adenya lagi “nyantri” di sebuah pondok pesantren di Tasikmalaya. Kemudian, daripada dibeli, saya hadiahkan saja kitab itu. Semoga bermanfaat bagi sang santri dan berkah bagi saya.

Demikian pula, menulis tulisan sederhana ini, tiada maksud saya selain ingin berbagi khasanah dan wawasan keilmuan khususnya khasanah dan wawasan keilmuwan pesantren yang tak akan ada habis-habisnya untuk dikaji. Bagi para pencari ilmu (al-thalibin), memang hendaknya selalu haus akan ilmu. Dan sebagaimana judul kitab yang dibahas ini, I’anah al-Thalibin (menolong para pencari), penulisnya hendak menolong mereka yg haus ilmu khususnya mereka yang hendak mendalami fikih melalui kitab Fath al-Mu’in melalui penjelasan (syarah) yang disusunnya itu. “Dan Allah mengatakan yang sesungguhnya dan Dia pula yang menunjukkan jalannya”.

Wallahu a’lam. Saung, Sumedang, 30-01-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *