Dalam sebuah konferensi pertemuan alumni-alumni Timur Tengah yang diadakan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada awal tahun 2016 silam. Secara kebetulan saya hadir sebagai peserta biasa. Yang saya ingat ketika itu banyak tokoh dan ulama hadir, bahkan Syeikhul Azhar juga ikut hadir sebagai tamu undangan kehormatan. Acara dibuka oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof Dede Rosada sebelum Prof Amani Lubis.
Di antara tokoh yang memberi kata sambutan, terlihat Mantan Gubernur NTB DR TGH Zainul Majdi. Sambutan TGB Zainul Majdi tersebut dengan Bahasa Arab tanpa teks, runut, teratur dan ilmiah. Setelah acara selesai, mantan Gubernur NTB yang hafal Al Qur’an itu mendekati Prof Quraish, dan saya melihat langsung ia menyalami dan mencium tangan Prof Quraish Shihab. Pak Quraish tidak sempat menarik tangannya yang dicium oleh sang Gubernur tersebut. Karena Pak Quraish biasanya tidak suka dicium tangannya.
Jika pernah ke Tangerang Selatan, singgahlah di Ciputat kawasan pendidikan Islam, tanyakan siapa Quraish Shihab di sana, dan tanyakan pula lembaganya PSQ Pusat Studi Al Qur’an yang terkenal itu. Jangan lupa beli karya Quraish Shihab yang setiap hari ia menghabiskan usianya untuk terus mendalami Islam terutama Tafsir Al Qur’an dengan karya monumentalnya Tafsir al Mishbah. Patut diketahui, menurut bapak Jusuf Kala tidak ada penulis di Indonesia yang seproduktif Buya Hamka kecuali Pak Quraish.
Secara kedudukan dan jabatan, berbagai posisi penting telah membuktikan kredibilitas seorang Quraish Shihab. Ia pernah menjabat Menteri Agama, Ketua MUI Pusat, Rektor UIN Syarif, Dubes, Direktur Pascasarjana, Pendiri Lembaga Pusat Studi Al Qur’an dan berbagai jabatan elite lainnya. Secara Nasab dan keturunan, Quraish Shihab masih keturunan Rasulullah dan dia layak memakai gelar Habib atau Sayyid. Namun ia tidak menyematkannya, karena merasa malu katanya belum mampu mencontoh Rasulullah.
Adapun persoalan yang sering diungkit-ungkit mengenai persoalan hijab, saya yakin Prof Quraish memiliki alasan tersendiri dalam masalah ini, walaupun saya tidak sependapat dengan beliau dalam masalah ini. Kalau beliau ingin dipuji maka sangat mudah baginya untuk mencabut pernyataannya tentang masalah hijab tersebut. Namun satu dua perbedaan beliau tidak kemudian mengurangi kontribusinya yang besar terhadap Islam dan umat Islam baik pada level nasional maupun internasional.
Sebagai orang yang awam, saya berbaik sangka bahwa puluhan tahun Quraish Shihab menghabiskan usianya mulai sebelum akhir baligh, hingga masa mudanya yang dihabiskan untuk menimba ilmu di Universitas Islam tertua di dunia Al Azhar Kairo Mesir. Bahkan sekarang beliau hanya fokus dalam dunia keilmuan. Rasanya sangat tidak mungkin beliau ingin merusak citra Islam.
Yang terlihat sebaliknya, Beliau telah menapakkan kakinya untuk menunaikan risalah sebagai khalifah di atas permukaan bumi, dan memakmurkan Indonesia dengan kedamaian dan kasih sayang. Bahkan banyak orang di luar sana yang ingin belajar Islam darinya. Di antara guru yang banyak memberi pengaruh kepada Quraish Shihab ialah ayahnya Prof Abdurrahman Shihab yang ahli Tafsir, Habib Abdul Qadir Bilfaqih Ulama besar dari Hadharulmaut Yaman, Syeikhul Azhar Prof Abdul Halim Mahmud Ulama sufi kontemporer dari Mesir.
Adapun murid Quraish banyak, di antaranya yang telah al marhum ada Prof Syuhudi Ismail ahli hadis dari Makassar, bahkan saya mendengar langsung dari seorang guru besar UIN Arraniry yang masih hidup, begitu bangganya mengatakan “Quraish Shihab adalah guru saya”. Terakhir, Kalau kita tidak belum mampu menghargai ilmu dan cakrawala berfikirnya yang luas, maka hormatilah rambut putih di kepalanya, paling tidak usia dan kematangannya lebih dahulu dari kita. Semoga!.

No responses yet