Oleh:
| Arkan Ahmadsuaifi |
Dalam perjalanan hidup, rumah tangga merupakan sebuah mikrokosmos yang penuh dengan ujian dan cobaan. Namun, pandangan keagamaan mengajarkan kita bahwa nafs yang kita hirup adalah karunia Allah yang sempurna. Materi ini menggambarkan bahwa menjalani kehidupan rumah tangga dengan memahami konsep ini dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan.
Nafs sebagai Karunia Ilahi:
Materi ini mengawali perjalanan dengan mengakui bahwa nafas adalah anugerah luar biasa dari Allah. Ditekankan bahwa nafas memiliki dimensi spiritual dengan dua aspek, yaitu fujur (kejelekan) dan takwa (sifat baik), yang seakan berlawanan. Ini menciptakan pemahaman bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk mengelola nafs dengan baik di dalam rumah tangga.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).
Menata Nafs dengan Zakat:
Konsep menata nafs dengan mengaitkannya dengan menata zakat disampaikan sebagai kunci untuk mencapai kehidupan sukses dan bahagia. Penjelasan bahwa menyucikan nafas sebagaimana menyucikan zakat menjadi pokok utama dalam merajut harmoni rumah tangga. Sebuah seruan untuk menjalani kehidupan berdasarkan nilai-nilai agama.
Arti Sebenarnya dari Kotoran:
Pembahasan tentang kotoran bukanlah untuk mengotori, tetapi sebagai alat untuk mendapatkan kebersihan, dihubungkan dengan sifat fujur. Analogi ini mengajarkan bahwa fujur diciptakan untuk membersihkan hati, bukan untuk terjerumus dalam keburukan, memandu pasangan hidup menuju kebaikan.
Cara Allah Menciptakan Sifat tersebut:
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،
Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di dalam ruh itu Ketika di tiupkan pada janin 4bulan dan masuk ke dalam fisik manusia dia membawa sifat sifat kebaikan yang jika di akumulasikan dari sifat sifat itu di sebut taqwa Namanya.
Sedangkan sifat fujur tidak sama sifatnya dengan taqwa dia membawa sifat bawaan dari orang tua
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi orang Yahudi, orang Nasrani ataupun orang Majusi”
Penjelasan tentang penciptaan sifat-sifat negatif sebagai katalis ini untuk memunculkan yang baik memberikan perspektif yang mendalam. Ini mengajarkan bahwa setiap sifat negatif diciptakan untuk merangsang kemunculan sifat positif, seperti kejujuran dan kesabaran, dalam konteks hubungan suami-istri.
Pembahasan tentang kotoran bukanlah untuk mengotori, tetapi sebagai alat untuk mendapatkan kebersihan, dihubungkan dengan sifat fujur. Analogi ini mengajarkan bahwa fujur diciptakan untuk membersihkan hati, bukan untuk terjerumus dalam keburukan, memandu pasangan hidup menuju kebaikan.
Lawan Baiknya:
Konsep “lawan baiknya” menjadi metode praktis untuk merespons dorongan negatif dalam rumah tangga. Memberikan contoh konkret, seperti merespon kemarahan dengan kesabaran dan kesombongan dengan kerendahan hati, menjadi kunci untuk menjaga kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Menghadapi Fitnah:
Pembahasan tentang fitnah atau ujian dalam rumah tangga mencakup kekurangan pasangan hidup. Fitnah dilihat sebagai ujian yang dapat diatasi dengan merespons bijaksana dan mencari kebaikan dalam setiap situasi. Hal ini mendorong pasangan untuk saling mendukung dan memahami satu sama lain.
Mencari Kelebihan dalam Ujian:
Konsep fitnah tidak hanya sebagai ujian negatif, melainkan juga sebagai peluang untuk berkembang dan berbagi kebaikan. Contoh konkret disajikan untuk mengilustrasikan cara melihat kelebihan dalam setiap ujian, mengubah pandangan negatif menjadi motivasi untuk tumbuh bersama.
Penyejuk Hati dan Kehidupan Bahagia:
Pesan akhir dari materi ini menekankan pentingnya menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh pemahaman, toleransi, dan kebijaksanaan. Hidup sesuai dengan ajaran Islam diharapkan membawa penyejuk hati dan kebahagiaan, menciptakan rumah tangga yang berlandaskan pada nilai-nilai spiritual.
Dengan memahami bahwa nafas kita adalah karunia Allah yang sempurna, rumah tangga dapat menjadi tempat di mana takwa dan kebaikan tumbuh subur. Rumah tangga yang merangkul ajaran ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi kehidupan yang penuh berkah dan harmoni.
Referensi
http://repository.radenintan.ac.id/16242/1/Skripsi%201-2.pdf

No responses yet