Setelah 25 tahun hidup bersama Nabi Muhammad SAW akhirnya Allah SWT berkenan memanggil Sayyidah Khodijah, istri tercinta Nabi SAW. Peristiwa itu terjadi pada 11 Romadhon tahun ke 10 dari kenabian, yaitu sekitar 2 atau 3 bulan setelah meninggalnya paman beliau Abu Thalib.
Alangkah sedih perasaan Rasulullah ditinggal dua orang yang sangat dicintai dan selalu mendukung perjuangan dakwah beliau tersebut. Oleh karena itu tahun tersebut dinamakan ‘Aamul Huzn atau Tahun Kesedihan. Tapi bukan berarti hal tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah berlarut-larut dalam kesedihan atau dalam bahasa kita tidak move on sehingga mempengaruhi semangat dakwah beliau. Beliau tetap konsisten dalam menjalankan tugas dakwah meskipun cobaan yang beliau terima dari orang kafir semakin bertubi-tubi.
Sampai suatu ketika beliau pulang ke rumah dalam keadaan rambut yang kotor karena dilempari tanah oleh orang kafir. Kemudian salah satu putri Nabi SAW membersihkan rambut beliau sambil menangis. Akhirnya beliau menghibur putrinya sambil bersabda,”Jangan menangis wahai putriku sesungguhnya Allah selalu melindungi ayahmu.”
Juga pernah suatu ketika beliau sholat disisi Ka’bah dan di dekat situ ada sekelompok orang-orang kafir Quraisy yang sedang berkumpul. Tiba-tiba salah satu orang kafir itu berkata,”Siapa diantara kalian yang berani mengambil kotoran onta dan meletakkannya di punggung Muhammad ketika dia sujud.” Akhirnya berdiri salah seorang diantara mereka seraya mengambil kotoran onta dan meletakkannya di punggung Nabi SAW ketika sujud. Melihat itu mereka tertawa terbahak-bahak dan Nabi SAW belum bangun dari sujudnya.
Setelah beberapa saat akhirnya datang Sayyidah Fathimah membersihkan kotoran tersebut dan kemudian mendatangi gerombolan orang-orang kafir itu seraya memarahi mereka. Melihat keberanian putri Nabi tersebut akhirnya mereka pun terdiam. Setelah itu Nabi mengangkat tangan beliau seraya mendoakan orang-orang kafir itu seraya menyebutkan nama mereka satu persatu. Tidak ada satupun diantara nama-nama yang disebutkan Nabi SAW pada saat itu kecuali mereka terbunuh dalam perang Badar yang terjadi sekitar 5 tahun setelah kejadian tersebut.
Karena cobaan dari orang-orang kafir yang diterima Nabi SAW dan para sahabat semakin bertubi-tubi. Pada bulan Syawal tahun 10 kenabian beliau pun mencoba mendatangi kota Thaif yang berjarak sekitar 60 mil dari kota Makkah untuk berdakwah juga sekaligus meminta bantuan kepada pemimpin suku Tsaqif yang masih merupakan kerabat Rasulullah SAW. Akan tetapi bukan bantuan yang didapat Nabi SAW justru penduduk Thaif mengolok-ngolok dan melempari beliau dengan batu sampai kaki Rasulullah berdarah. Hal itu pun tidak mematahkan semangat Nabi SAW dalam berdakwah.
Pada bulan Syawal itu juga Rasulullah menikah dengan Sayyidah Saudah binti Zam’ah. Beberapa saat kemudian beliau menikahi Sayyidah ‘Aisyah dan istri-istri yang lain. Akan tetapi hal tersebut tidak menunjukkan Rasulullah sudah benar-benar melupakan Sayyidah Khodijah. Bagaimanakah kisah beliau dengan istri tercinta beliau tersebut. Lagi-lagi harus bersambung di status selanjutnya, hehe…

No responses yet