Categories:

Dibuat oleh: Reva Mulyani, Mahasiswi Universitas Prof. Dr. HAMKA Fakultas Psikologi

Ada yang suka sedih saat menonton film yang “mengandung bawang”? Nah, selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, pasti  kita merasakan sedih saat kita merasa kecewa, terluka, disakiti, dan sesuatu yang kita perjuangkan tidak dapat tercapai. Tidak apa -apa untuk kita bersedih, karena ini adalah perasaan yang normal, lho!

Merasa sedih memang merupakan emosi yang normal, tetapi, jika kita terlarut dalam kesedihan, dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas keseharian kita.

Sebenarnya apa, sih, sedih itu? Bagaimana sedih dalam pandangan islam? Lalu, bagaimana cara mengatasi agar tidak terlarut dalam kesedihan? Simak penjelasan di bawah ini, ya!

Definisi Sedih

Sedih adalah salah satu emosi dasar manusia yang muncul sebagai respons terhadap kehilangan, kegagalan, atau peristiwa menyakitkan yang dirasakan secara mendalam.

Penyebab Sedih

Dalam psikologi, perasaan sedih dijelaskan melalui berbagai teori dan pendekatan. Berikut adalah beberapa penyebab sedih berdasarkan pandangan psikologi:

  1. Peristiwa Kehilangan atau Kegagalan

Menurut teori psikodinamika dari Sigmund Freud, kesedihan sering muncul akibat kehilangan sesuatu yang memiliki nilai emosional, seperti orang yang dicintai, pekerjaan, atau harapan. Ketidakmampuan mengatasi kehilangan ini bisa menyebabkan kesedihan berkepanjangan.

  • Distorsi Kognitif (Teori Kognitif)

Menurut Aaron Beck dalam pendekatan terapi kognitif, kesedihan muncul akibat pola pikir negatif yang tidak realistis. Contoh distorsi kognitif

  • Generalizing: Menganggap kegagalan dalam satu hal berarti kegagalan di semua hal.
    • Pikiran absolut: Melihat situasi dalam hitam-putih, tanpa melihat alternatif positif.
    • Pikiran negatif otomatis: Selalu mengaitkan kejadian dengan hal buruk atau menyalahkan diri sendiri.
  • Teori Stres dan Penyesuaian

Menurut Lazarus dan Folkman, kesedihan muncul akibat ketidakmampuan menghadapi stres dan tekanan hidup. Jika seseorang tidak memiliki strategi penyesuaian (coping mechanism) yang sehat, hal ini akan memicu emosi negatif seperti sedih, cemas, atau marah.

  • Gangguan Biologis dan Neurologis

Dalam perspektif neuropsikologi, kesedihan dapat disebabkan oleh:

  • Ketidakseimbangan neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin, yang berperan dalam mengatur suasana hati.
  • Faktor hormonal, seperti perubahan hormon akibat siklus menstruasi atau menopause, dapat menyebabkan perubahan emosi.
  • Teori Belajar (Behaviorisme)

Pendekatan behavioristik menyatakan bahwa kesedihan adalah hasil dari pembelajaran atau pengalaman masa lalu. Misalnya, pengalaman traumatis atau pengabaian di masa kecil dapat membentuk respons emosional yang negatif di masa depan.

  • Perubahan Lingkungan atau Situasiona

Sedih juga bisa muncul akibat tekanan dari lingkungan, seperti: Kehilangan pekerjaan, Putus hubungan, Kesepian atau isolasi sosial, Perubahan besar dalam hidup (pindah rumah, perpisahan, atau kehilangan identitas sosial)

  • Teori Humanistik (Kebutuhan Tak Terpenuhi)

Menurut Abraham Maslow, kesedihan bisa terjadi ketika kebutuhan dasar manusia tidak terpenuhi, seperti kebutuhan akan kasih sayang, keamanan, atau penghargaan. Jika seseorang merasa gagal mencapai aktualisasi diri, hal ini juga bisa memicu perasaan sedih dan frustrasi.

Sedih Dalam Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam, sedih adalah salah satu emosi manusiawi yang alami. Allah menciptakan emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, takut, dan harapan sebagai bagian dari fitrah manusia. Namun, Islam memberikan panduan tentang bagaimana menyikapi kesedihan agar tidak berlarut-larut dan berdampak negatif pada iman serta kehidupan.

Pandangan Islam tentang Kesedihan

  1. Kesedihan adalah Ujian dan Tanda Kelemahan Manusia

Kesedihan sering kali muncul ketika seseorang menghadapi musibah, kehilangan, atau ujian hidup. Ini adalah bagian dari ujian Allah untuk melihat kesabaran dan keimanan seorang hamba.

Allah Subhanahu Wa Ta’la berfirman:

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

  • Dilarang Berlarut-larut dalam Kesedihan

Dalam Islam, kesedihan harus dikelola agar tidak merusak hati dan keimanan. Berlarut-larut dalam kesedihan dapat menjauhkan seseorang dari Allah dan membuatnya putus asa.

Allah Subhanahu Wa Ta’la berfirman:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

(QS. Ali-Imran: 139)

  • Kesedihan  yang Dibenarkan

Islam membolehkan perasaan sedih dalam batas wajar. Contoh nyata adalah ketika Nabi Ya’qub merasa sedih atas kehilangan Nabi Yusuf. Namun, Nabi Ya’qub tetap bertawakal kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya.

Cara agar tidak berlarut dalam kesedihan

Mengatasi kesedihan dalam Islam dilakukan dengan cara-cara yang sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah. Berikut beberapa langkah yang diajarkan Islam untuk mengatasi kesedihan:

  1. Mengembalikan Segala Sesuatu kepada Allah (Tawakkal)

Kesedihan sering terjadi karena kita terlalu fokus pada kehilangan atau masalah duniawi. Islam mengajarkan agar kita berserah diri kepada Allah dan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya.

  • Mengingat Allah (Berdzikir)

Dzikir adalah salah satu cara paling efektif untuk menenangkan hati. Dengan mengingat Allah, kesedihan bisa berkurang karena kita merasa dekat dengan Sang Maha Penyayang.

  • Shalat dan Berdoa

Shalat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah. Rasulullah SAW sendiri ketika menghadapi kesedihan selalu bersegera mendirikan shalat. Berdoa juga menjadi cara untuk memohon kekuatan kepada Allah.

Contoh doa mengatasi kesedihan:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, serta dari lilitan utang dan penindasan manusia.”

(HR. Bukhari)

  • Menyibukkan Diri dengan Hal Positif

Kesedihan sering kali berlarut-larut jika kita hanya diam memikirkannya. Menyibukkan diri dengan ibadah, pekerjaan, amal shalih, atau aktivitas positif lainnya dapat mengalihkan fokus kita dan membantu mengurangi kesedihan.

  • Berprasangka Baik kepada Allah (Husnuzan)

Meyakini bahwa setiap musibah atau kesedihan memiliki hikmah adalah salah satu cara menyembuhkan hati. Apa yang Allah tetapkan pasti mengandung kebaikan meskipun kita belum memahaminya saat ini.

  • Bersabar dan Bersyukur

Islam mengajarkan bahwa kesedihan adalah ujian. Jika kita bersabar, maka Allah akan memberikan pahala yang besar. Di saat yang sama, bersyukur atas nikmat-nikmat Allah juga membantu hati merasa lebih ringan.

  • Bergaul dengan Orang-Orang Shalih

Berkumpul dengan orang-orang yang beriman dan shalih dapat memberikan nasihat, motivasi, dan dukungan moral yang diperlukan. Mereka akan mengingatkan kita untuk kembali kepada Allah.

  • Mengambil Pelajaran dari Kisah Para Nabi

Para Nabi juga pernah merasakan kesedihan, tetapi mereka tetap bersabar dan bertawakal kepada Allah. Contohnya, Nabi Ya’qub yang sabar ketika kehilangan Nabi Yusuf, atau Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi berbagai cobaan dalam dakwahnya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *