Setelah K.H. Abdul Jamil wafat, Buntet Pesantren diasuh oleh para putera yang dipimpin oleh Raden Abbas ibn Abdul Jamil. Pada masa kecil, Raden Abbas bersama adik-adiknya diasuh dan dididik oleh ayahnya. Setelah menjelang dewasa, Den Abbas dikirimkan ke Pesantren di Jatisari Weru Plered yang diasuh oleh K.H. Nasuha ibn Zayadi. (Ulama ini ditulis dalam artikel tersendiri). Dalam pesantren ini Raden Abbas mengkhatamkan kitab fiqh dan tawhid, antara lain Fathul Mu’in. Dalam tahun itu pula Raden Abbas belajar juga pada K.H. Hasan di Sukunsari Weru Plered. Kemudian Den Abbas pindah ke pesantren Giren Tegal untuk pelajar ilmu tauhid pada ulama sepuh, K.H. Ubaidah. Kemudian Den Abbas meneruskan belajar ilmu hadits dan ilmu tafsir al-Quran pada K.H. Hasyim Asy’ari di pesantren Tebuireng Jombang.
Sepulangnya dari tafaqquh fi al-diin, Raden Abbas mulai mengelola Pesantren Buntet dan menikah pertama dengan Nyai Hafizhoh. Setelah lahir putera pertama, Raden Abbas berangkat ke Makkah untuk ibadah haji dan mencari ilmu. Dalam kisah ini, Raden Abbas bersama Gus Abdul Wahhab Hasbullah dari Jombang berjumpa dan mengambil barakah dari ulama kharismatik, K.H. Mahfuzh ibn Abdillah ibn Abdul Mannan dari Pesantren Termas Pacitan yang mukim di Makkah. Setelah pulang dan menetap di Buntet, K.H. Abbas pernikahannya dengan Nyai Hafizhoh melahirkan 4 orang putera, yaitu Kiyai Mustahdi, Kiyai Abdul Razak, Kiyai Mustamid, dan Nyai Sumaryam. Sedang pernikahannya dengan Nyai Lanah, K.H. Abbas melahirkan enam orang lagi, yaitu Raden Abdullah ibn Abbas, Nyai Qismatul Maula, Nyai Sukaenah, Nyai Maimunah, Raden Nahdluddin, dan Nyai Munawwarah.
Profil K.H. Abbas adalah ulama yang tampak sederhana berakhlak mulia dan sangat dermawan. Meskipun dia termasuk keturunan Syarif Hidayatullah, tetapi dia tetap hormat pada habib-habib (habaib) yang ada di Jawa. Ketika mereka bertamu kepada K.H. Abbas, mereka dihormati seperti tamu istimewa. Begitu itu, karena K.H. Abbas adalah tokoh yang sangat cinta kepada Rasulullah Saw. Kalau yang datang itu habib palsu misalnya, K.H. Abbas tetap menghormati dengan niat yang suci, sambil mencurahkan rasa cinta kepada Rasulullah Saw. Akhlak seperti itu banyak dilakukan oleh ulama pencinta Rasulullah, pengamal Nazam Burdah seperti Yai Khalil Madura, Mbah Ma’shum Lasem, atau Mbah Yai Syathari Arjawinangun dan lain-lain.
Meskipun penampilan K.H. Abbas sopan santun, lemah lembut, dan berakhlak mulia, tetapi sikapnya terhadap Belanda keras sekali dan tidak mau kompromi. Semua santri dididik dengan tekun agar mereka anti penjajah, dan berusaha agar Belanda, Jepang, dan semua penjajah bubar dari tanah nusantara tercinta ini. K.H. Abbas juga mambentuk dan memimpin Hizbullah di daerah Cirebon bagian timur. Dia sering melatih santri untuk bela diri, dan mereka disiapkan untuk melawan penjajah jika terjadi pertempuran. Beberapa cerita tentang K.H. Abbas yang bersikap anti penjajah itu luas sekali tetapi andil yang besar bagi kemerdekaan Indonesia adalah dia bersama beberapa tokoh dari Cirebon mengikuti Resolusi Jihad K.H. Hasyim Asy’ari. Pada tanggal 22 Oktober 1945 para ulama dan santri se Jawa-Madura kumpul di Surabaya untuk merumuskan Resoluis Jihad. Waktu itu para kiyai dan santri sudah berkumpul, maka utusan dari Termas Pacitan usul agar rapat segera dimulai. K.H. Hasyim Asy’ari menjawab : Nanti sebentar lagi teman-teman dari Cirebon akan datang. Mereka adalah K.H. Abbas Buntet, KH. Amin Babakan Ciwaringin, K.H.A. Syathari Arjawinangun, K.H. Syamsuri Walantara, dan empat orang lagi yang penulis belum dapatkan nama-namanya. Apa isi Resolusi Jihad itu? (Buka Google dengan key word Resolusi Jihad K.H. Hasyim Asy’ari) dan baca semua artikel yang mengiringi tulisan INSISTS itu. Inti Resolusi Jihad adalah kesepakatan para kiyai dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, dan segalanya diatur oleh bangsa Indonesia sendiri.
Sementara Belanda dan sekutu Barat tidak senang munculnya kemerdekaan negara-negara jajahan seperti itu. Mereka menggalakkan perang dengan mengerahkan pasukan tempur yang kuat sekali untuk menghabisi kekuatan bangsa Indonesia. Maka terjadilah perang 10 November 1945 itu. (Buka Google dengan key word Perang 10 November 1945). Menurut cerita sejarah, bahwa perang ini meskipun waktunya tidak lama, tetapi beban santri dan komunitas ahli thariqat menilai lebih berat dari pada Perang Kedongdong (1802-1806), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Imam Bonjol (1831-1838), Perang Tengku Umar di Aceh (1873-1908), dan perang-perang lokal lainnya. Semua perang-perang tadi, santri dan bangsa kita hanya menghadapi Belanda, sedang perang 10 November 1945 santri dan pemuda lain harus perang menghadapi sekutu Inggris pemenang Perang Dunia Kedua, Netherland Indies Cifil Adminitration (NICA). Tidak hanya itu, mereka mengerahkan tentara juga dari negara jajahannya (India/Pakistan). Semua diberi persenjataan yang lengkap dan canggih, serta dibantu oleh pesawat terbang yang memutahkan bom dari udara di atas kota medan pertempuran. Pada waktu itu, penduduk Surabaya dan santri pejuang banyak yang mati syahid, bahkan puluhan ribu. Mereka dalam sejarah itu sering disebut ‘Arek-arek Surabaya’. Padahal kebanyakan mereka adalah santri yang datang dari beberapa pesantren dari Jawa-Madura. Buka Google dengan key word: Peristiwa 10 November 1945, dan baca juga pidato Bung Tomo selaku pimpinan perang waktu itu.
Secara perhitungan akal, santri dan bangsa kita tidak akan menang menghadapi musuh yang sangat kuat itu. Tetapi berkat bacaan ‘takbir’ yang disuarakan berkali-kali oleh santri, serta niat mereka sangat ikhlas dan bersedia mati untuk mengangkat agama Allah di bumi nusantara ini, maka alhamdulillah pertempuran itu dimenangkan oleh bangsa kita, sehingga semua penjajah angkat kaki dari bumi yang indah dan penuh barakah ini.
Dalam artikel ‘Sejarah Perjuangan dan Sejarah Terbentuknya TNI’ diceritakan bahwa: Negara Indonesia pada awal berdirinya sama sekali tidak mempunyai kesatuan tentara. (Buka Google dengan key ward: Pembentukan TIN 1945-1947). Dengan demikian perhitungan Perang 10 November 1945 itu bukan didasarkan atas perhitungan militer, tetapi hanya didorong oleh ‘Resolusi Jihad K.H. Hasyim Asyari dan Resolusi Jihad NU’. Ada cerita lisan bahwa pada pertempuran itu Ziya’ al-Haq dari Pakistan bersama teman-temannya ditugaskan oleh sekutu untuk menghabiskan musuh mereka di Jawa. Tetapi setelah menghadapi musuh yang selalu menteriakkan ‘Allahu Akbar’ Ziya’ al-Haq dan kawan-kawannya diam, tidak mau meneruskan peperangan lebih lanjut. Barangkali itulah salah satu rahmat Allah yang tampak kelihatan, yang dicurahkan kepada santri dan bangsa kita. Karena itu wajar kalau dalam Pembukaan UUD 1945 dicantumkan kata-kata:‘Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa’ dan seterusnya, untuk mengenang perjuangan kiyai dan santri.
Mempelajari sejarah Indonesia seperti itu, berarti andil para kiyai dan santri pada kemerdekaan Indonesia sangat besar.Apa lagi waktu itu beberapa tokoh Islam modern banyak yang menyatakan dirinya cooperation dengan penjajah Belanda. Atas dasar itu wajar kalau ada ulama yang usul kepada Presiden pilihan rakyat, agar menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Tetapi perjuangan santri dengan usul yang simpatik itu, dunilai oleh pembesar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bahwa itu sinting.
Begitulah kegiatan K.H. Abbas dan santri untuk kemerdekaan Indonesia. Tokoh ini di samping pejuang kemerdekaan juga seorang pendidik santri yang kreatif. Pada tahun 1928 K.H. Abbas membuka marasah untuk santri yang inspirasinya diambil dari Pesantren Tebuireng Jombang. Madrasah itu disebut Madrasah Abna al-Wathan yang terdiri dari enam kelas, dengan kurikulum berjenjang. Enam kelas itu terdiri atas kelas-kelas Tahdiri, Shifir Awwal, Shifir Thani, Qismul Awwal, Qismul Tsani, dan Qismul Tsalis. Dengan munculnya madrasah itu, Buntet Pesantren semakin besar dan bersemarak. Semua kelas di awal jam pelajaran sambil menunggu guru, semua murid secara bersama-sama membaca nazham yang sudah diajarkan. Satu kelas membaca Nazham Aqidatul Awam, kelas lain membacakan Nazham Kharidatul Bahiyah, kelas lain lagi membacakan Nazham Jazariyah, kelas lainnya lagi membacakan Nazham ‘Imrithi dan lain sebagainya. Setelah 28 tahun madrasah hidup di Buntet Pesantren, maka di tahun 1946 K.H. Abbas Abdul Jamil wafat, dan dikuburkan di Pemakaman Buntet Pesantren.
Kembali akan kehadiran madrasah di pesantren, Buntet 1928, dan Arjawinangun 1931 itu banyak sekali ulama di beberapa daerah yang tidak setuju. Studi di madrasah memakai papan tulis, ditulis dengan kapur dan sebagainya, itu sama seperti model studinya Belanda. Dalam madrasah itu beberapa ayat-ayat al-Quran ditulis dengan memakai kapur. Setelah papan tulis itu dihapus, remukan kapur tadi diinjak-injak oleh orang yang berjalan kaki di lantai madrasah. Maka berarti ayat-ayat al-Quran diinjak-injak oleh orang. Demikian salah satu alasan orang yang tidak setuju adanya model pendidikan madrasah di pesantren.
Untuk melayani kaum muslimin yang berfikir seperti itu, K.H. Anas ibn Abdul Jamil membangun pesantren di Blok Kilapat Desa Mertapada Kulon yang diberi nama Pesantren Sidamuliya. Pesantren ini tidak membuka madrasah, tetapi hanya pengajian kitab kuning dengan metoda sorogan atau metoda bandongan. Kompleks Pesantren Sidamuliya ini kelihatan sederhana karena hanya ada bangunan masjid, rumah kiyai dan bangunan pondok tiga kamar untuk santri.
Begitulah cerita singkat tentang sejarah Buntet Pesantren dari kelahiran, sampai Indonesia merdeka (Yaitu tahun 1740 an sampai 1945). Berikutnya perlu ada artikel lagi tentang Sejarah Buntet Pesantren, dari tahun 1946 sampai 2014. Artikel itu menguraikan posisi dan kegiatan Buntet Pesantren dari tahun ke tahun. Antara lain tentang (1) Sesudah Indonesia merdeka, Belanda masuk ke Indonesia lagi untuk menjajah kembali sampai berakhir tahun 1949. (2) Indonesia dipimpin oleh Presiden Soekarno dengan model demokrasi ‘terpimpin’ yang membuka partai berdiskusi dan bergerak bebas, sampai berakhir munculnya G 30 S (PKI). (3) Kekuasaan Orde Baru, yang diawali oleh demonstrasi mahasiswa KAMI/KAPI yang menuntut pembubaran PKI serta ormas-ormasnya, dan seterusnya. (Buka juga Google dengan key ward: Sejarah Indonesia (1966-1998). (4) Pemerintahan tokoh-tokoh besar B.J. Habibi, Gus Dur, Megawati dan SBY, (1998-2014). Semua itu mempunyai model penglolaan negara dari segi-segi sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya, yang dapat dikaitkan dengan sejarah perkembangan Buntet Pesantren.
Sementara tokoh Buntet yang perlu diuraikan dalam sejarah itu antara lain K.H. Mustahdi, K.H. Mustamid, K.H. Abdullah, K.H. Ahmad Zahid, dan beberapa ulama senior yang sudah wafat. Tokoh junior Buntet Pesantren yang sudah wafat juga dapat diuraikan seperlunya. Tokoh junior yang sudah wafat dan kenal penulis antara lain K.H. Izzuddin, K.H. Fuad Hasyim, dan K.H. Fahim Royandi. Sedangkan tokoh junior yang masih hidup lebih banyak lagi, di antara yang akrab dengan penulis adalah Drs. K.H. Hasanuddin Kriyani, dan Ny. Hj. Ani Yuliani bint Abdullah ibn Abbas. Tokoh ini akrab dengan istri penulis, Hj. Azzah Zumrud. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Penulis adalah Rektor Institut Studi Islam Fahmina, Cirebon.

No responses yet