Suatu ketika, seorang kerabat bertanya, tepatnya, mengeluhkan anak-anaknya yang tidak bisa menjadi hafizh atau penghapal alquran kepada saya. Ia iri pada tetangganya yang memondokkan anak-anak mereka di rumah tahfizh yang baru dibuat di wilayah mereka. Katanya, anak si tetangga yang nomor satu sudah menghafal 10 juz. Anak yang nomor dua sudah menghafal 5 juz. Sedangkan anak yang nomor tiga, yang paling bontot, sudah akan menghafal juz ketigapuluh.

Anak sulung si tetangga itu kabarnya juga akan dikirim ke Turki bila saja ia mampu menyelesaikan hafalannya hingga 30 juz. Belakangan, di Indonesia, peristiwa penghafalan alquran memang menjadi gelombang budaya pop. Apalagi, setiap ramadhan, ia dikonteskan di televisi. Sekedar kabar biasa, anak saya, 5 dan 4 tahun, di rumah sejauh ini hanya saya perdengarkan 4 surat; al-fatihah, al-ikhlas, al-falaq, al-nas. Patekah kulhu palaq binnas kata orang Jawa.

Selebihnya mereka kami ajarkan pengenalan huruf hijaiyah. Teman-temannya ada yang sudah sampai iqra’ tiga. Anak kami masih di iqra’ pertama. Itu juga sambil bersantai-santai. Bagi kami. cukup 4 surat pamungkas itu dulu saja yang dikonsumsi anak-anak seusia mereka. Kami membiarkan mereka menjadi anak-anak yang bergembira, bermain, dan bereksplorasi setiap hari. Biar mereka menemukan kemanusiaannya dulu.

Kembali pada keluhat kerabat saya. Seperti biasa, setiap ada keluhan-keluhan perihal “ketidakmajuan” anak atau saudara dalam hal-hal yang baik begini, saya hanya tertawa dulu. Setelah itu baru saya menanggapinya. Saya bilang tidak semua dan bahkan tidak harus semua anak disuruh atau diarahkan untuk menghafal alquran. Bisa jadi karena memang tidak semuanya berbakat. Menghafal alquran butuh bakat pastinya. Bisa jadi karena memang mereka belum mau. Bisa jadi mereka punya cara lain untuk menikmati alquran.

Tapi lebih penting dari itu, menghafal alquran itu tidak termasuk keharusan. Anak yang memang mau dan mampu menghafal alquran, itu bagus. Sedangkan yang tidak mampu, tentu tidak masalah. Ia juga bagus dalam bidang di luar menghafal alquran. Di mata masyarakat, kegunaan dan peran seorang manusia akan lebih dilihat. Saya juga bilang pada kerabat itu. Yang terpenting adalah menciptakan hubungan anak-anaknya dengan alquran berdasarkan minat-bakat mereka. Sudah. Itu saja.

Dalam sebuah diskusi dengan seorang seniman dari Jerman beberapa waktu lalu saya pernah bilang. Seorang penari dimungkinkan untuk “menafsirkan” alquran sesuai bakatnya dalam menari. Misal; seorang penari, mungkin Kangmas Wibie Maharddhika Suryometaram, yang membaca surat al-qari’ah, surat al-qiyamah, al-‘alaq, dan surat-surat atau potongan ayat-ayat lainnya. Lalu, berdasarkan pencerapannya atas kandungan makna dari ayat-ayat alquran yang ia baca, ia meramu berpatah-patah gerakan atau tarian tertentu.

Alhasil, ia menciptakan satu tarian khas yang ia tarikan dalam satu pentas atau di mana saja. Di sini, tarian yang ia ciptakan itu dapat dibaca sebagai “tafsir” alquran. Hanya saja, berbeda dengan tafsirnya para mufassir yang memaknai ayat-ayat alquran dengan kata-kata. Tafsir alquran bagi seorang penari, tentu saja berbentuk gerakan estetis. Itu menunjukkan hubungannya dengan alquran. Begitu halnya dengan seorang pelukis, pencipta lagu, penyanyi, atlet, dan entah minat-bakat lainnya.

Anak-anak, dan tentu kita semua, harus dipertemukan dengan diri sendiri. “Tedhak sungging”, kata orang Jawa, yaitu penemuan peta diri atau susur-galur darah. Mulai dari ayahnya, kakeknya, buyutnya, terus ke belakang dan bahkan terus naik ke kehidupan sebelumnya. Dari penemuan gen sosio-biologis itu, anak akan bertemu dengan pilihan hidupnya mau apa, jadi apa, dan akan kemana. Penemuan peta diri itu berada di luar pintar atau bodoh dalam konsepsi sekolahan atau kontes-kontesan. Itu termasuk proses tarian tafsir alquran dalam arena kehidupan nyata. Itu tentu saja tugas orangtua.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *