Sirah itu ibarat Ma’alim atau rambu bagi amilin dakwah, dia lentera di belantara dakwah dan Jihad, kenapa aktifis Jihadis suka menabrak Waqi’iyyah atau realitas dalam aktifitasnya? karena rendah memahami Sirah dan sejarah
Ibroh dalam sirah seharusnya menjadi rujukan kuat, disinilah dia akan menemukan indahnya perjalanan dakwah dan jihad.
Saya merekomendasikan membaca At Tarikh Al Islami karya Ustadz Mahmud Syakir As Suriy. Terdapat 22 jilid, namun buku itu dijual tanpa jilid ke 10, 11 dan 12. Yaitu berkaitan dengan sejarah kontemporer di Irak, Syam dan Jazirah Arab. Dan di beberapa Negara hanya jilid 10 dan 12. Dan di sebagian lainnya kekurangan jilidnya lebih banyak dari yang disebutkan di atas sesuai dengan kondisi politik dan kemaslahatan!
Hingga Syaikh Husain bin Mahmud berkata di dalam I’dad Syar’i Wat Tsaqofi hal 17:
المشكلة التي نواجهها اليوم هي غياب تسجيلدقيق لحقبة خطيرة من تأريخ أمتنا الحديث ، وأقصد حقبة ما بين (١٩٢٥ إلى ١٩٧٥م) ، فقد منعت الحكومات الكتابة عن حقائق هذه الحقبة وملابستها،وأعملت سيف الرقابة في كل ما يكتب عنها ، بل تعدى الأمر إلى إحراق وإتلافالكتب في المطابع _ كما حدث لأجزاء من كتاب “التأريخ الإسلامي” لمحمود شاكر ،
“Problem yang kita hadapi hari ini adalah hilangnya tanskrip yang detail pada masa dekade yang kritis dari sejarah umat kita hari ini. Yang aku maksud adalah dekade antara 1925 hingga 1975 M. Karena pemerintah melarang penulisan tentang kejadian-kejadian realita pada dekade ini dan peristiwa yang meliputinya. Diberlakukan pengawasan dengan pedang pada setiap tulisan tentangnya. Bahkan perkaranya sampai pada pembakaran dan pemusnahan buku-buku dalam penerbitan – sebagaimana yang terjadi pada beberapa jilid dalam kitab “Tarikh Al Islamiy” karangan Mahmud Syakir.
lalu Syaikh bin Mahmud melanjutkan ” Jilid-jilid tersebut, yang mengandung sejarah kontemporer tentang negeri syam dan Jazirah Arab, telah dibakar dua jilid aslinya oleh penerbit –, dan yang membahas tentang dekade itu oleh orang-orang mengalaminya, mereka membahasnya dengan penuh kehati-hatian karena takut. Dan sebagian mereka lari ke Negara barat menulis sejarah pada dekade itu akan tetapi buku-bukunya dilarang untuk disebarkan dan diboikot! Dan begitulah dekade ini diinginkan agar tersembunyi dari ingatan kaum muslimin agar para thaghut dapat memoles wajah mereka dengan berbagai polesan hiasan dan menyembunyikan wajahnya yang buruk itu dari manusia!!”
Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz pengarang kitab Al Jami’ Fi Tholabi Ilmisy Syarifi berkata dalam kitabnya (Al-Jami ):
التاريخ الإسلامي لمحمود شاكر يختلف عن كتاب البداية والنهاية من خمسة وجوه :
“At Tarikh Al Islamiy karangan Mahmud Syakir ini berbeda dengan kitab Al Bidayah wan Nihayah dari 5 aspek:
Pertama: Bahwa ia memuat dekade yang harus dipelajari semuanya, dari diutusnya nabi saw hingga runtuhnya daulah Utsmaniyah, dan masa setelahnya. Sedangkan Ibnu Katsir berhenti sampai pada pertengahan abad ke 8 Hijriyah.
Kedua: Bahwa beliau tidak mengurutkan penulisannya sesuai tahun, akan tetapi sesuai dengan masa Daulah dan peristiwa-peristiwa – disertai memperhatikan urutan masa –. Metode ini membantu untuk mengaitkan antara kejadian-kejadian, mengurainya dan mengambil point penting darinya. Sedangkan mengurutkan peristiwa sesuai tahun, dengan menyebut peristiwa-peristiwa pada tahun ini, kemudian peristiwa pada tahun selanjutnya dan seterusnya – sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Katsir dan kebanyakan para salaf – maka ini menyulitkan untuk menghubungkan peristiwa-peristiwa, meskipun ia memiliki kelebihan lain seperti kemudahan menentukan sejarah peristiwa tertentu, atau sampai kepadanya dengan mengetahui tahun kejadiannya.
Ketiga: Bahwa Mahmud Syakir menulis sejarah secara lengkap dan mencangkup akan sejarah Negara-negara yang mengikuti selanjutnya, sedangkan Ibnu Katsir tidak menulis secara lengkap akan tetapi hanya memuat beberapa peristiwa penting dan beberapa biografi.
Keempat: Bahwa kitab Mahmud Syakir sedikit menyebutkan hadits-hadits, nasehat dan syair-syair serta biografi yang diperhatikan oleh Ibnu Katsir untuk dicantumkannya. Sudah jelas bahwa ini mungkin ada beberapa faedah khusus dalam mengaitkan beberapa peristiwa.
Kelima: Bahwa Mahmud Syakir tidak menyandarkan pada fatwa-fatwanya dan pandangan-pandangannya dalam beberapa masalah syareat yang ia paparkan – khususnya pada jilid ke 9 dari kitabnya – karena banyak pandangan-pandangannya tidak benar, ini berbeda dengan fatwa-fatwa Ibnu Katsir dan pandangan-pandangannya karena beliau adalah seorang ahli fiqih, ahli hadits dan imam salaf yang perkataannya dijadikan sandaran.” selesai
Ringkasnya kitab itu adalah kitab “kumpulan dokumentasi atau data sejarah” bukan kitab tahqiq (penelitian) dan tautsiq (pengukuhan).
Sangat menarik, silahkan di beli kitabnya dan di sedot kitabnya di https://archive.org/details/22-110808/01_110790 simak kitab beliau yg sangat bergizi dan bernutrisi.

No responses yet