Allah subhanahu wa ta’ala, memberikan nafsu pada umat manusia sbg ujian, bagi yg bisa memanfaatkannya untuk kebaikan maka akan mendapat kebaikan pula. Sedangkan bagi yg menjuruskan nafsunya pada hal hal yg dilarang agama, maka orang tsb pun mendapat keburukan di akhr nanti.
Ada pesan penting dari Syaikh Ahmad bin Muhammad al Jurairy rahimahullah (wafat 311 H / 923 M Baghdad), salah seorang tokoh besar sufistik, murid langsung dari Al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid Abu Qasim al-Qawariri al-Khazzaz al-Nahawandî al-Baghdadi al-Syafi’i atau Imam al Junaid al Baghdadi rahimahullah (830 – 910 M, Bagdad, Irak), dan penerus (maqam sutistik) Imam Al-Junaid al-Baghdadi sepeninggalnya. Pesan beliau sbg berikut :
“Siapapun yg dikuasai oleh hawa nafsunya, maka ia akan menjadi tahanan dalam pemerintahan syahwat. Terkurung di dalam belenggu hawa nafsu, dan Allah subhanahu wa ta’ala akan menahan faedah2 kebaikan yg ada di dalam batinnya. Dengan demikian, ia tidak akan pernah bisa merasakan nikmat, dari kehadiran ayat2 Allah subhanahu wa ta’ala yg dibaca dan didengarnya”.
Ingat terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al A’raaf ayat 146 :
سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ
“Aku akan memalingkan dari ayat2-Ku, orang2 yg menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yg benar.”
Setiap umat mukmin pasti mengenal sesuatu yg disebut nafsu. Nafsu ialah suatu keinginan yg bersifat menggebu gebu dan selalu diangankan untuk bisa terwujud. Nafsu sering dihubungkan dgn urusan dunawi, seperti hawa nafsu duniawi yg artinya hanya mengejar segala hal yg menimbulkan kesenangan duniawi.
Al-Hawaa atau hawa nafsu adalah potensi negatif yg ada di dalam diri. Kecederungannya kepada nafsu seksual dan nafsu perut. Hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yg besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dgn pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yg kuat, yg menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tsb. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, popularitas, pengakuan dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dgn hawa nafsu seksual.
Hawa nafsu adalah desakan hati dan keinginan keras (untuk menurutkan hati, melepaskan marah, dan sebagainya). Berdasarkan pengertian tsb, jika seseorang yg sudah terbelenggu hawa nafsu, rentan terhadap hal2 yg berkaitan dgn perbuatan yg kurang baik. Perbuatan yg dilakukannya atas dasar desakan hati dan keinginan yg kuat, tanpa memikirkan akibatnya.
Manusia yg merupakan budak hawa nafsunya sendiri termasuk orang yg berada pada jalan yg tidak benar. Karena ia telah dibutakan oleh hawa nafsunya sendiri, meskipun kedua matanya terbuka lebar. Dan ditulikan oleh hawa nafsunya sendiri, sekalipun kedua telinganya terbuka lebar. Dibisukan oleh hawa nafsunya, walaupun berkata benar dan jujur. Mata, telinga dan hatinya telah tertutup tirai yg tebal sehingga tidak bisa melihat kebenaran.
Rasulullah saw bersabda : “hati2lah dgn hawa nafsu, karena hawa nafsu itu membutakan dan membuat tuli.”
Tertutupnya hati seseorang dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, maka juga menutup panca inderanya dari segala kebenaran. Mereka yg menjadi budak hawa nafsu, akan menjadi orang yg paling kekeh, menentang kebenaran. Serta susah, untuk menerima kebenaran yg datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan nasehat manusia.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
اخاف على امتي من بعدي ثلاثا ضلالة الاهواء واتباع الشهوات في البطون والفروج والغفلة مع المعرفة
“Aku sangat mengkhawatirkan kepada umatku sepeninggalku tiga hal, pertama, kesesatan hawa nafsu. Kedua, mengikuti syahwat perut dan seksual. Ketiga, lalai setelah mengetahui”.
Kekhawatiran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, terhadap umatnya sangat beralasan, karena ketiga hal tsb akan membinasakan dan menghancurkan masa depan manusia
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ثلاث منجيات، وثلاث مهلكات، فأما المنجيات: فتقوى الله في السر والعلانية، والقول بالحق في الرضا والسخط، والقصد في الغنى والفقر، وأما المهلكات: فشح مطاع، وهوى متبع، وإعجاب المرء بنفسه
“Ada tiga hal yg menyelamatkan dan tiga hal yg membinasakan. Tiga hal yg menyelamatkan adalah bertakwa kepada Allah baik dalam keadaan sepi atau ditengah keramaian, berkata yg benar, baik dalam keadaan senang maupun marah dan hemat, baik dalam keadaan kaya atau miskin. Adapun tiga yg membinasakan adalah bakhil (pelit) yg ditaati, memperturutkan hawa nafsu dan bangga terhadap diri sendiri”.
Hadis tsb diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani rahimahullah dalam kitab al-Awsath dari Anas bin Malik dan Ibn Umar Radhiyallahu Anhum.
Pada ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa orang yg senantiasa memperturutkan apa yg diinginkan oleh hawa nafsunya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengunci hatinya, kemudian dijadikannya lalai dari berdzikir dan mengingatNya, Allah berfirman :
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَٱتَّبَعُوٓا۟ أَهْوَآءَهُمْ
“Mereka itulah orang2 yg dikunci mati hati mereka dan mengikuti hawa nafsu mereka”. (QS. Muhammad : 16).
Hawa nafsu mempunyai kecenderungan di setiap perkataan dan perbuatannya tidak dipikirkan dahulu, sehingga dia lebih mencintai hawa nafsu daripada Allah dan Rasul-Nya. Jadi, hawa nafsu adalah keimanannya, syahwat pemimpinnya, kebodohan adalah sopirnya, dan kelalaian adalah kendaraannya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا
“…dan janganlah kamu mengikuti orang, yg hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. Al Kahfi : 28).
Orang yg terjebak dalam buruknya hawa nafsu, seringkali muncul sikap rakus, karena bukanlah sifat orang yg bertaqwa yg disukai Allah subhanahu wa ta’ala. Rakus yg dimaksud ialah rakus dalam hal mengejar kenikmatan dan kesenangan duniawi, selalu merasa ingin memiliki segala bahkan sesuatu yg belum pantas atau seharusnya tidak menjadi haknya. Contohnya ialah mengejar hawa nafsu karena ingin menjadi pejabat, dia akan rakus dalam mengejar hal tsb, padahal kemungkinan belum memiliki kemampuan dan ilmu yg cukup dalam mengemban tanggung jawabnya.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda, bahwa orang yg kuat, adalah “orang yg dapat mengendalikan hawa nafsunya, dan orang yg lemah adalah orang yg selalu mengikuti hawa nafsunya”.
Bagi setiap para hamba di dalam menjalani hari2 dari kehidupannya, tidak boleh anomie (hampa) dari nilai2 pengagungan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Asma’-Nya. Ini artinya, taqarrub ilallah para hamba itu, secara ideal adalah berlangsung sepanjang perjalanan hidupnya.
Berdasarkan uraian tsb, kita mulai dapat mengerti perbedaan setan dgn segala bisikan2nya dan hawa nafsu dgn segala bentuknya.
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan para ulama, telah banyak memperingatkan dan menganjurkan kepada kita, untuk selalu berjuang melawan bisikan setan dan mengendalikan nafsu—sebuah perjuangan yg tidak pernah bakal berhenti hingga ajal menjemput.
Selain berusaha keras mendisiplinkan diri, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, juga menganjurkan kita untuk selalu berdoa agar terhindar dari kedua hal buruk tsb.
Menurut Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha, salah satu doa yg paling sering diucapkan oleh Sang Nabi untuk memproteksi diri dari berbagai keburukan diri adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ بَعْدُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku kerjakan, dan dari keburukan yang belum aku lakukan (HR. Imam A-Nasa’i rahimahullah).
Wallahu’alam
From various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim Jama’ah Sarinyala Kabupaten Gresik
CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

No responses yet