Categories:

Oleh : Ibnu Sina Al-Khotami (Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan)

Sikap toleransi sangatlah penting sebagai alat pemersatu bangsa. Tanpa adanya toleransi kehidupan yang penuh dengan kemajemukan dan perbedaan ini tidak akan pernah bersatu. Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemanjemukan yang cukup tinggi. Suku, budaya yang cukup beragam dan bahasa daerah yang cukup banyak, maka sangat dibutuhkan sikap toleransi yang diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dalamnya. Setiap orang harus saling mengerti dan memahami akan arti perbedaan. Namun fenomena yang terjadi akhir-akhir ini masih banyak terjadi gejolak sosial yang timbul dari akibat kurang bisa menegakkan sikap toleransi, khususnya sikap toleransi antarumat beragama. Toleransi merupakan bagian dari visi teologi islam sejatinya harus dikaji  secara mendalam dan diaplikasikan dalam kehidupan beragama karena ia adalah suatu keniscayaan sosial bagi seluruh umat beragama dan merupakan jalan bagi terciptanya kerukunan antarumat beragama.

Toleransi dalam islam yang terkait dengan kebebasan beragama adalah tidak cepat-cepat menghukum kafir kepada orang yang masih menyisakan sedikit celah untuk disebut sebagai muslim. Imam malik mengatakan, orang yang perbuatan dan pernyataannya mengarah kepada kekufuran dari sembilan puluh sembilan arah, tetapi masih menyisakan keimanan walau dari satu arah, maka dihukumi sebagai orang beriman.

Dalam agama Islam itu sendiri, toleransi disebut dengan tasamuh. Tasamuh atau tasahul memiliki arti kemudahan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa agama Islam memberikan kemudahan bagi siapapun untuk menjalankan apa yang telah diyakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa adanya tekanan atau tidak mengusik kepercayaan yang telah dijalani orang lain.

Sikap toleransi juga dicontohkan oleh Rasulullah Saw, bagaimana beliau mengajarkan kepada umatnya tentang sebuah sikap toleransi. Banyak hadist yang menceritakan tentang kunjungan Nabi Saw kepada orang Yahudi ketika ia sakit, bersedekah Nabi kepada tetangganya yang kafir bahkan bersedianya Nabi untuk makan di rumah orang kafir dan masih banyak lagi lainnya yang mengungkapkan bagaimana seorang Rasulullah mengajarkan sikap toleransi.

Dalam sejarah Islam, sikap Toleransi (tasamuh) juga telah di gambarkan, termasuk dalam Perang Salib yang ditulis oleh seorang sejarawan Inggris Karen Armstrong, bahkan Armstrong menuliskan bagaimana akhlak seorang Khalifah ketiga Umar bin Khattab dalam penaklukkan Jerussalem:

“Umar mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dibandingkan dengan semua penakluk Jerussalem lainnya, ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atau mengambil alihan dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerussalem memeluk Islam”.

Rasa persaudaraan (ukhuwah) yang merupakan bentuk dari ajaran terpenting dalam Islam, tidak memandang agama, ras, suku atau hal apa pun. Persaudaraan dalam Islam juga dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu: Pertama, Ukhuwah Ubudiyah atau saudara sesama makhluk dan ketundukan kepada Allah. Kedua, Ukhuwah Insaniyah (basirah), semua manusia adalah bersaudara, karena semua manusia sama. Ketiga, Ukhuwah wafhaniyah wannasab, persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. Keempat, Ukhuwah fid-din al-Islam, persaudaraan sesama muslim.

Terhadap mereka yang berbeda agama dan keyakinan, Al-Qur’an telah menetapkan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama (Qs Al-Baqoroh : 256). Sebab kebebasan beragama merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak-hak manusia yang sangat mendasar.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *