Penyebaran Islam di kesultanan Bulungan, nampaknya banyak dilakukan oleh para ulama terutama para habaib (ahlul bait keturunan Nabi Muhammad baik dari garis Sayyidina Hasan maupun Sayyidina Husin) yang datang secara bergelombang entah secara perorangan ataupun rombongan. Ada yang langsung dari Hadramaut, Yaman, ada yang melalui Demak, Gresik dan Banjarmasin.

Tercatat dalam beberapa tulisan pengamat diaspora habaib dari Hadramaut yang pertama kali datang ke Bulungan atau tepatnya di Sambilatu adalah Sayyid Al-Imam bin Abdullah Bilfaqih yang bergelar Al-Alamtud Dunya. Kemudian, Sayyid Muhammad (Jamaluddin) bin Ali Bilfaqih (1728-1731M), Sayyid Abdurrahman bin Ali Bilfaqih (1734-1757M), sekitar tahun 1731M sudah tiba di Bulungan. Beliau sering salat di tepian pantai, di dalam hutan belukar dan di pinggir sungai untuk menunjukkan bahwa beribadah tak harus selalu di masjid dan langgar, tapi di mana saja asal tempatnya suci dari najis senada dengan diri dan pakaian yang suci dan tentunya menutup aurat. Beliau yang mengislamkan Wira Amir Sultan Bulungan I yang bergelar Amiril Mukminin, meskipun dengan syarat bisa melepaskan Bulungan sebagai negeri taklukan dari Kesultanan Berau dan tantangan beradu kesaktian. Beliau mendapat gelar kehormatan sebagai Harimau yang Berdaulat, pernah menjadi Kadi dari kesultanan Bulungan dan mempunyai majelis untuk menyebarkan ilmu beliau. Beliau wafat pada tahun 1757M dalam usia 101 tahun.

Lalu, disusul kedatangan Sayyid Ahmad Al-Maghribi (1795-1830M). Beliau seorang yang cerdas terutama dalam cara mengusir bajak laut yang mau mendekati perkampungan Bulungan dengan menggunakan siasat halus dan cerdik. Beliau bukan saja pintar, tapi juga seorang yang rajin beribadah dan membantu kehidupan masyarakat yang kesusahan hingga beliau disenangi orang sekitar. Beliau dimakamkan di wilayah bekas ibukota kesultanan Bulungan lama di kawasan Gunung Keramat desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas. Berikutnya, datang pula, Sayyid Abdullah bin Idrus bin Umar (w.1882M), yang juga berkubur di situ. Mereka bertiga yang disebut terakhir terkenal sebagai 3 Waliyullah yang benar-benar khumul dan syumul ilmu dan olah batinnya.

Selanjutnya, ada lagi Sayyid Ali bin Idrus Al-Aydrus (w.1900M) yang mempunyai anak 5 orang yakni Sayyid Muhammad bin Ali Al-Aydrus (makamnya di Sebuku, Nunukan), Sayyid Umar bin Ali Al-Aydrus (makamnya di Sebuku, Nunukan), Sayyid Husein bin Ali Al-Aydrus (makamnya di Sebuku, Nunukan), Sayyid Idrus bin Ali Al-Aydrus (makamnya di Tawao, Malaysia) dan Sayyid Ahmad bin Ali Al-Aydrus (makamnya di Bulungan) yang terkenal sebagai wali Majdzub atau Jadzab.

Sayyid Ali Al-Aydrus dalam mendidik 5 puteranya dengan ilmu Syariat (Tauhid, Fiqih, Tasawuf dll) tak kenal lelah dan sangat disiplin sehingga cepat menjadi kader ulama dan siap ditugaskan untuk dakwah ke daerah mana saja. Misalnya, sengaja 3 anaknya diutus ke Sebuku, Nunukan untuk membina umat di sana dengan sebaik-baiknya. Sayyid Umar sempat menjadi Imam Masjid Jami di Sebuku, Nunukan dan menjadi ulama panutan dan rujukan. Setiap ada masalah beliau diminta pendapatnya untuk memecahkan persoalan, mencarikan jalan keluar dan mencairkan kebuntuan. Hebatnya beliau setiap menghadapi persoalan selalu mencari jawabnya di Alqur’an dan dilalah ada saja jawabannya dengan sangat meyakinkan. Di samping itu, kata Sayyid Syech Al-Aydrus (penjaga makam) setiap bulan Ramadlan beliau mengamalkan Ratib Haddad ba’da Maghrib. Sedangkan Sayyid Muhammad adalah terkenal sebagai ahli ibadah yang doanya mustajab dan ia wafat di atas sajadah saat menjadi imam salat Zuhur di Masjid Jami’. Pernah terjadi musim paceklik kemarau panjang, berkat doa beliau, tiba-tiba langsung turun hujan dengan lebatnya.

Selain itu, di kota Tarakan sekitar abad ke-17 telah ada Sayyid Hamzah bin Umar Al-Marzaq dan Sayyid Abdullah bin Salim Al-Aydrus. Sedangkan di Kabupaten Malinau ada Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Aydrus dan saudaranya Sayyid Abdul Kadir Al-Aydrus sekitar penghujung abad ke-19. Sementara di Tana Tidung ada Sayyid Muhammad bin Abdurrahman Al-Marzaq dan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Marzaq pada abad yang sama.

Dari uraian di atas tampak gelombang pertama ulama penyebar Islam di Bulungan, kebanyakan adalah habaib berfam Bilfaqih yang menyebar bukan saja di Bulungan, tapi juga ke Nunukan bahkan ada yang sampai ke Berau yang jauhnya sekitar 110km. Konon di sana, di daerah Berau ada Syarifah Fatimah Bilfaqih yang diperistri Syekh Ali Junaid bin Qadi Muhammad Amin bin Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Kemudian gelombang kedua ulama penyebar Islam di Bulungan kebanyakan adalah habaib berfam Al-Aydrus yang hampir tersebar di seluruh wilayah kesultanan Bulungan seperti di Bulungan sendiri, Nunukan, Tarakan dan Malinau. Mereka bukan saja berperan di tengah-tengah masyarakat, tapi ada juga sebagian yang menjabat di kesultanan baik sebagai Mufti, Qadi maupun hanya sebagai penasehat sultan.

Begitulah, sedikit catatan sejarah penyebaran Islam di Bulungan yang jauh dari lengkap dan sempurna. Hanya bisa dijadikan kajian awal untuk bahan penelitian lebih lanjut.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *