Seorang teman mengutip dawuh Mbah Albert Einstein
“The eternal mystery of the world is its comprehensibility. The fact that it is comprehensible is a miracle.”
(Misteri dunia terbesar sepanjang masa adalah sifat dunia yang bisa dipahami. Fakta bahwa dunia bisa dipahami dan bisa dijabarkan oleh akal itulah letak keajaibannya)
Kutipan ini mengingatkan kita pada metode dakwah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beda dengan Nabi terdahulu, dalam membuktikan kebenaran dakwahnya, Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu jarang memperlihatkan mukjizat yang di luar nalar akal yang beliau miliki, pada orang banyak sebagai argumentasi beliau dalam dakwah. Mukjizat yang di luar akal itu justru lebih sering diperlihatkan Kanjeng Nabi SAW pada para shohabatnya yang sudah beriman.
Dalam siroh nabawiyah dan siroh shohabat, diceritakan bahwa para shohabat (rodhiyallahu anhum) rata-rata mau masuk Islam justru karena keberhasilan Kanjeng Nabi SAW menggugah logika dan akal sehat mereka sendiri lewat argumen-argumen yang dianalogikan dengan kejadian yang sehari-hari dilihat. Dari situlah manusia yang dibekali akal sehat sejak lahir, bakal berpikir sendiri dan menemukan keyakinannya sendiri terhadap ajaran Gusti Allah.
Ini memang perintah Gusti Allah
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
“Tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam, karena sebenarnya telah terang benderang perbedaan antara argumen yang sesuai akal sehat dan argumen yang sesat.”
Karena memang argumen Gusti Allah dan Rosul-Nya sudah jelas dan sesuai logika akal sehat semua orang. Tinggal orang itu mau ikut akal sehatnya atau tidak. Makanya, Islam disebut agama fitrah karena sejalan akal sehat.
Kalo semua hal yg masuk akal itu tidak diikuti, namanya tidak waras atau goblok. Kalo bahasa Qur’an disebut kafir (akalnya ketutup).
Dampak Zuhud Bagi Pribadi Dan Sosial
Penyebab orang ketutup akalnya itu kebanyakan masalah dunia. Seperti harta, keturunan, kebangsawanan, gengsi dan lain-lain. Misal akal meyakini bahwa korupsi itu merugikan, tapi gara-gara nuruti gengsi, jadi mau korupsi. Sudah jelas secara akal bahwa selingkuh itu merugikan, tapi nuruti syahwat jadi selingkuh. Argumen akal sehatnya tertutupi (dikalahkan) oleh argumen nafsu duniawi. Ketika akal tertutupi oleh nafsu duniawi, di situ hakikatnya akal udah kafir walau dia muslim.
Di sinilah kenapa seorang muslim itu wajib punya hati yang zuhud. Agar kita terhindar dari kekafiran. Karena zuhud sendiri dimaksudkan untuk memerangi sifat thomak yang mengakibatkan akal kurang waras gara-gara akalnya tertutupi hal-hal duniawi. Sementara menjaga akal sehat itu salah satu maqoshidusy syariah atau tujuan dari adanya syariat.
Secara kehidupan pribadi, pelaku zuhud akan mendapat pemahaman ilmu dan hikmah tentang hakikat kehidupan. Dengan ilmu dan hikmah itu, secara otomatis, dirinya bisa mengetahui mana tindakan yang benar walau orang lain tidak membaca hal yang sama.
Imam Ghozali meriwayatkan dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW
من أراد أن يؤتيه الله علما بغير تعلم، وهدى بغير هداية، فليزهد في الدنيا
“Siapa mengharap dianugerahi Gusti Allah ilmu langsung tanpa proses belajar (ilmu ladunni) dan ilham langsung tanpa didahului tanda-tanda (weruh sak durunge winarah), maka zuhudlah pada dunia”
Secara kehidupan sosial, orang yang zuhud akan mampu melihat dirinya bagian dari warga dunia yang setara di hadapan Gusti Allah dan saling berhubungan sebagai jiwa yang satu. Di situ akan muncul empati, bersikap adil pada urusan sosial, menjaga kesehatan lingkungan dan ekosistem dan semua kebaikan yang berdampak luas bagi masyarakat. Hal itu karena dirinya tidak lagi berharap apapun dari dunia. Hanya tinggal keinginan untuk berbuat lebih untuk sekitar.
Imam Ghozali meriwayatkan dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW
ازهد في الدنيا يحبك الله تعالى، وازهد فيما في أيدي الناس يحبك الناس
“Zuhudlah dalam kehidupan dunia, maka engkau akan dicintai Gusti Allah. Dan zuhudlah dalam urusan yang jadi hak manusia, maka engkau akan dicintai manusia”
Dengan demikian, dimensi zuhud ini sangat luas karena dengan hati yang zuhud, akalnya bebas dari segala hal yang menghalanginya jadi sehat. Akal selalu terjaga untuk berpikir dengan alur yang lurus bagi diri dan sosial. Karena dgn zuhud, orang tidak akan terdistraksi oleh hal-hal duniawi yang merusak akalnya.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh
إذا أراد الله بعبد خيرا زهده في الدنيا ورغبه في الآخرة وبصره بعيوب نفسه
“Saat Gusti Allah menghendaki seorang hamba menjadi sehat akalnya, dia jadi zuhud terhadap dunia, tujuan amalnya hanya akhirat dan selalu menundukkan pandangannya pada kekafirannya sendiri”

No responses yet