• Penelusuran Jejaring Sanad Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah di Nusantara

“Jangan sekali-kali melupakan guru yang telah mengenalkan kamu dengan dzahir-dzahir syariat terlebih guru mursyid yang telah membimbingmu menuju Allah SWT”

(Maulana Habib Lutfi bin Ali bin Yahya)

Banten telah lama dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan para ulama. Banten telah lama mendapat sentuhan Islam lewat peran Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati (w. 1568) yang mendirikan Kerajaan Banten pada tahun 1526 yang diteruskan putranya, Pangeran Sabakingkin atau Sultan Maulana Hasanuddin (1570). Banten pula yang menjadi pendaratan pertama pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada 27 Juni 1596. 

Di antara ulama yang lahir dari Tlatah Banten adalah Syaikh Abdul Karim al-Bantani, seorang ulama besar yang menjadi Kholifah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Makkah Al-Mukarramah. Beliau dilahirkan pada pada tahun 1250 Hijriyah bertepatan 1850 Masehi di Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. 

Nasab

KH. Thobari Syadzili al-Bantani, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama’ (LDNU) saat kami berjumpa di Kantor Pengurus Pusat Nahdlatul Ulama’ (PBNU) menyebutkan bahwa Syaikh Abdul Karim masih saudara sepupu dengan Syaikh Nawawi al-Bantani, penulis Tafsir Marah Labid fi Tafsir al-Munir, Maraqil Ubudiyyah, Kasyifah as-Saja’ dan puluhan kitab lainnya. 

Keduanya adalah keturunan langsung Maulana Sunyararas yang dimakamkan yang berada di kampung kelahiran dua ulama kebanggaan masyarakat Banten ini di Tanara, Kabupaten Serang Banten yang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang. Maulana Sunyararas antara putra Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati yang nasabnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Beliau Syaikh Abdul Karim adalah putra daeri Mas Tanda bin Ki Mas Riyani bin Ki Mas Ahmad Matin bin Mas Ali bin Ki Mas Bugel bin Ki Mas Jamad bin Ki Mas janta Tubagus Mahmud alias (Mas Kun) bin Pangeran Wiranegara (Mas Wi) bin Pangeran Sunyararas bin Sultan Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah bin Syarif Abdullah (suami Syarifah Mudaim atau Rara Santang putri Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Al-Husein al-Husaini bin Syaikh Jalaludin Khan bin Amir Abdullah Khan bin Abdul Malik Adzmatkhan bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath bin Alwi bin Muhammad bin Ali Khali’ Qasam bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Al-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Zainal Abidin bin Husein bin Fatimah Al-Zahra’ binti Rasulullah Muhammad SAW.

Bermukim di Makkah

Snouck Hourgenje dalam Shafat min Tarikh Makkah yang merupakan terjemah Het Mekkaansche Feest’, disertasi Snouck di Universitas Leiden, menyebutkan bahwa Syaikh Abdul Karim melakukan rihlah menuntut ilmu ke Kota Mekah sejak kecil. Disana belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib Sambas (w. 1878), sampai-sampai beliau tidak meninggalkan gurunya ini baik dalam keadaan mukim maupun safar. Meskipun kedekatannya dengan Sang Guru begitu terkenal, tetapi Syaikh Abdul Karim lebih tertarik mengambil ajaran-ajaran tasawwuf dan amaliah tarekat dari beliau.

Syaikh Ahmad Khotib Sambas yang berasal dari  Sambas, Kalimantan Barat yang wilayahnya saat ini berbatasan dengan Malaysia. Saat itu sudah menjadi pengajar di Masjidil Haram, sekaligus pendiri Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Dari bimbingan Syaikh Ahmad Khatib Sambas ini, Syaikh Abdul Karim mumpuni di bidang ilmu tasawuf, dan diangkat sebagai salah satu khalifahnya.  Saat itu di Mekah juga ada ulama nusantara lainnya yang menjadi khotib di Masjidil Haram yakni Syaikh Ahmad Khotib al-Minangkabawi (w. 1916) dari Sumatera Barat.

Saat bermukim di Makkah al-Mukarromah, Syaikh Abdul Karim juga menjalin hubungan dengan ulama terkemuka dari Nusantara lainnya seperti Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1897) Syaikhona Muhammad Kholil al-Bangkalani (w. 1925),  Syaikh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi (w. 1920) dan lain-lain. Para thullab (pelajar) dari Nusantara tersebut terhimpun dalam komunitas al-Jawi al-Makki. Jawi disini tak terbatas pada pula Jawa namun hampir seluruh Asia Tenggara seperti al-Fathoni (Pattani, Thailand Selatan), al-Kalantani (Kelantan, Malaysia), al-Falimbani (Palembang), al-Barmawi (Birma) dan lain-lain. Selain menuntut ilmu agama kepada masyayikh terkemuka di Tanah Haram mereka membangun jaringan yang kelak akan diteruskan oleh murid-muridnya dalam perjuangan mendakwah Islam di Nusantara dan melawan Penjajahan Belanda yang berawal di Perairan Banten.

Dikutip dari laman suryalaya.org, disebutkan bahwa sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil, Syaikh Ahmad Khotib Sambas sebelumnya sudah menjadi mursyid Thariqah Qodiriyyah. Sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi thariqoh Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. 

Tarekat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah didirikan oleh Syaikh Ahmad Khotib Sambas awal abad ke-13 Hijriyah atau abad ke-19 Masehi. Tarekat ini adalah perpaduan dari dua tarekat besar yang didirikan ulama sufi terkemuka yakni Syaikh Abdul Qodir al-Jilani (w. 1166) dari Baghdad, Irak dan Syaikh Bahauddin an-Naqsabandiy (w. 1389) dari Bukhara, Uzbekistan. Bisa saja tarekat ini dinamakan tarekat Sambasiyyah atau Khotibiyyah namun atas ketawadluan Syaikh Ahmad Khotib Sambas pada kedua pendirinya, maka Tarekat ini dinamakan Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah (TQN).

Berbai’at salah satu tarekat yang mu’tabar adalah salah satu amaliyah yang dilakukan oleh para auliya’ dan sholihin. Dengan bertarekat, maka kita dituntut untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai tuntunan Al-Qur’an dan al-Hadist. Mengikuti pada suatu tarekat harus berada di bimbingan mursyid yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW. Anjuran untuk bertarekat ini sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT 

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء غَدَقاً ﴿١٦﴾ لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَن يُعْرِضْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَاباً صَعَداً ﴿١٧}

“Seandainya mereka istiqamah di atas jalan itu (islam) niscaya Kami beri minum mereka dengan air yang melimpah (karunia yang banyak): untuk Kami uji mereka di dalamnya, dan barangsiapa tidak mau berdzikir kepada Tuhannya, niscaya Dia menimpakan azab yang sangat pedih” (QS. Al-Jin: 16-17).

Pada masanya tanah Hijaz menjadi pusat penyebaran tarekat Naqsabandiyah, maka sangat dimungkinkan beliau mendapat bai’at dari tarekat tersebut. Sebelumnya beliau telah diangkat mursyid Thariqah Qodiriyyah dari gurunya, Syaikh Syamsuddin. Selanjutnya beliau menggabungkan inti ajaran kedua tarekat yakni Qadiriyah yang mengajarkan Dzikir Jahar Nafi Itsbat, dan tarekat Naqsabandiyah yang mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. 

Berikut sanad Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah yang disadur  dari kitab Uquudul Jumaan terbitan Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya 

  1. Allah SWT
  2. Malaikat Jibril AS
  3. Rasulullah Muhammad S.a.w.
  4. Sayyidina Ali Bin Abi Thalib
  5. Sayyid Husain 
  6. Sayyid Zainul Abidin
  7. Sayyid Muhammad al- Baaqir 
  8. Sayyid Ja’farus Shoodiq r.a.
  9. Sayyid Imam Musa Al-Kadzim 
  10. Syaikh Abul Hasan ‘Ali bin Musa 
  11. Syaikh Ma’ruf al-Karkhi 
  12. Syaikh Sirris Saqothii r.a.
  13. Syaikh Abul Qosim Al-Junaid Al-Baghdadi
  14. Syaikh Abu Bakrin Dilfis Syibli 
  15. Syaikh Abul Fadli Ao’abdul Wahid at Tamimi
  16. Syaikh Abdul Faroj at Thurthusi 
  17. Syaikh Abul Hasan ‘Ali bin Yusuf al Qirsyi al Hakari
  18. Syaikh Abu Sa’id al Mubarok bin ‘Alii al Makhzumi 
  19. Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilani
  20. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz
  21. Syaikh Muhammad Al Hattak 
  22. Syaikh Syamsuddin 
  23. Syaikh Syarofuddiin 
  24. Syaikh Nuuruddiin 
  25. Syaikh Waliyuddiin 
  26. Syaikh Hisyaamuddiin 
  27. Syaikh Yahya 
  28. Syaikh Abu Bakrin 
  29. Syaikh ‘Abdul Rahim 
  30. Syaikh ‘Utsman 
  31. Syaikh ‘Abdul Fattah 
  32. Syaikh Muhammad Murod 
  33. Syaikh Syamsuddiin 
  34. Syaikh Ahmad Khotib Sambasi Ibnu ‘Abdul Ghoffar 
  35. Syaikh Tholhah Kali Sapu Cirebon dan Syaikh Abdul Karim al-Bantani
  36. Syaikh ‘Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya.
  37. Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom Suryalaya)

Selanjutnya Syaikh Ahmad Khotib Sambas mengajarkannya kepada murid-muridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia. Selain Syaikh Abdul Karim, Syaikh Ahmad Khatib Sambas juga mengangkat beberapa khalifah  untuk menyebarkan tarekatnya ke Nusantara, seperti : Syaikh Tholhah bin Tholabuddin, Kalisepu, Cirebon (w. 1935 H) dan Syaikh Ahmad Hasbullah al-Maduri, Madura, Muhammad Isma’il Ibn Abdul Rahim dari Bali, Syaikh Yasin dari Kedah Malaysia, Syaikh Haji Ahmad dari Lampung dan Syaikh Muhammad Makruf Ibn Abdullah al-Khatib dari Palembang, Syaikh Nuruddin dari Filipina dan Syaikh Muhammad Sa’ad dari Sambas. 

Syaikh Nawawi al-Bantani juga dikatakan berbai’at tarekat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah kepada Syekh Khotib Sambas, Syaikhona Kholil Bangkalan. Namun beliau berdua tidak menyebarkannya tarekat tersebut. Meski begitu kedua ulama besar ini kelak akan melahirkan ulama besar di Nusantara seperti KH. Hasyim Asy’ari (w. 1947), KH. Wahab Hasbullah(w. 1971), KH. Bisri Syansuri (w. 1980) dan ulama besar lain yang kelak akan mendirikan Jamiyyah Nahdlatul Ulama’ (NU) pada 31 Januari 1926. Dalam Badan Otonom NU, kelak pada  16 Rabi’ul Awal 1377 H / 10 Oktober 1957 di Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang akan berdiri Jamiyyatul Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah (JATMAN) yang saat ini dipimpin oleh Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Pekalongan.

Selanjutnya Thariqah Qadiriyyah wan Naqsabandiyyah disebar oleh murid-murid dari ketiga tokoh diatas di Tanah Jawa. R.H. Unang Sunardjo dalam buku Menelusuri Perjalanan Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya, menyebutkan bahwa Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (w. 1956) yang belajar kepada Syaikh Tolhah bin Tholabuddin Kalisapu, Trusmi, Cirebon, yang masih terhitung keturunan dari Sunan Gunung Jati. Syaikh Abdullah Mubarok selanjutnya membangun Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya pada 1905 sebagai pusat penyebaran Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah. Setelah wafat, kedudukan sebagai mursyid digantikan oleh putranya Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (w. 2011) atau akrab disapa Abah Anom

Dari jaringan Syaikh Abdul Karim juga akan menurunkan murid yang terus yang menyebarkan tarekat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah.  Syaikh Ibrahim Yahya (w. 1987) Brumbung, Mranggen Demak terhubung dengan jaringan murid Syaikh Abdul Karim. Darinya Syaikh Ibrahim menurunkan tarekat kepada KH. Abdurrahman Mranggen (w. 1941) yang diteruskan putranya, KH. Muslih Abdurrahman Mranggen Demak, KH. Muslih Abdurrahman(w. 1981) Mranggen  penulis kitab “al-Futuhât al-Rabbiyyah fî al-Tharîqah al-Qâdiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah”. KH. Muhammad Yahya (w. 1971) Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading, Malang dalam kitabnya Miftahul Jannah juga menyebutkan Syaikh Ibrahim Brumbung dalam sanad thariqahnya.

Terkait Riwayat hidup KH. Muslih Abdurrahman Mranggen, penerus mursyid tarekat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah dan pejuang kemerdekaan dan pelanjut estafet dakwah Syekh Abdul Karim bisa disimak di catatan kami sebelumnya di atikel KH Muslih Abdurrahman Mranggen: Mursyid Tarekat Pejuang Kemerdekaan 

Tokoh lain yang menjadi penyebar Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah di Indonesia adalah Syekh Hasbullah al-Maduri. D. Zawawi Imron saat kami temui di Kota Tuban pada perhelatan MTQ Jawa Timur 2019 menyebutkan bahwa Syaikh Hasbullah berasal dari Pulau Sapudi, di dekat Pulau Madura, Jawa Timur. 

Syaikh Hasbullah al-Maduri kemudian melantik KH. Cholil Juremi, ulama dari Demak murid dari Syaikhona Kholil dan Kyai Asy’ari Gedang (Ayahanda KH. Hasyim Asy’ari) sebagai kholifahnya. Selanjutnya sanad itu diturunkan kepada adik iparnya yakni KH. Romli Tamim (w. 1956) Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang yang memiliki beberapa murid yakni KH. Mustain Romli (w. 1984) KH. Dimyati Romli, KH. Rifa’i Romli, KH. Tamim Romli (keempatnya adalah putra KH. Romli Tamim. KH. Adlan Aly Jombang, KH. Mujahid Malang, KH. Usman al-Ishaqi (w. 1984) Surabaya(Kelak putranya, KH. Asrori bin Usman al-Ishaqi mendirikan Majelis Dzikir Al-Khidmah) juga tercatat sebagai bagian dari jaringan tarekat dari Pondok Njoso ini.

Berjuang dan Berdakwah di Banten

Dalam catatan Snouck Hourgenje saat masuk ke Makkah tahun 1885 juga disebutkan bahwa setelah beberapa tahun bermulazamah kepada Syekh Khotib Sambas, gurunya tersebut memberikan ijazah pengajaran tarekat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah kepada Syaikh Abdul Karim sekitar tahun 1282 H/1865 M. Selanjutnya Syaikh Abdul Karim berangkat menuju Singapura untuk menyebarkan ilmu agama sekaligus mengajarkan ilmu. Beliau menetap disana selama tiga tahun.

Menjelang tahun 1860-an, Syaikh Abdul Karim pulang kembali ke tanah kelahirannya pada umur sekitar 20 tahun dan menetap disana selama beberapa tahun. Selama bermukim di Banten, beliau berdakwah sembari menyebarkan tarekat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah . Murid-muridnya tersebar di berbagai pelosok Banten dan daerah lain. Di antara murid-muridnya adalah Tubagus Muhammad Falak (w. 1972) atau Mama Falak Pandeglang yang kemudian mendirikan Pondok Pesantren di  Pagentongan, Bogor, dan melanjutkan penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Selain Mama Falak murid beliau yang masyhur adalah KH. Asnawi Caringin (w. 1937) yang menyebarkan tarekat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah di Caringin, Labuhan, Pandeglang, Banten.

Para pejabat pemerintah juga menghormatinya, karena Syaikh Abdul Karim telah menjadi tokoh terkenal, karismatik, dan oleh masyarakat disebut sebagai Kiai Agung. Pada saat beliau tinggal di Banten ini, kondisi sosial masyarakat tengah terhimpit oleh pemerintah kolonial, utamanya di kalangan petani. Semangat melawan penjajahan tersebut telah lama muncul di kalangan masyarakat, hingga sebagian murid-murid dan tokoh-tokoh di Banten ingin melakukan perlawanan kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Syaikh Abdul Karim ini dalam setiap kajian, ceramah, dan khotbah-khotbahnya selalu menggelorakan semangat jihad fi sabilillah untuk melawan penjajahan Belanda yang telah banyak merugikan rakyat Banten. Faktor itulah yang beliau yang membuat gerak-geriknya selalu diawasi oleh Pemerintah Hindia Belanda di Banten. Bahkan gerakan dakwah beliau semakin dipersempit dan sering dihalangi.

Beberapa muridnya kelak akan berperan dalam peristiwa Geger Cilegon tahun 1888. Dalam perlawanan tersebut murid Syaikh Abdul Karim seperti Kyai Haji Ismail, Haji Wasyid, dan Haji Marzuki dan lain-lain. Mereka berjuang melepas penindasan Rakyat Banten yang telah lama dirasakan. Terlebih sebelumnya Banten dilanda bencana alam dahsyat dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda.

Geger Cilegon 

Darusssalam Jagad Syahdana dalam catatannya bertajuk Haji Abdul Karim, Sang Mahdi Pemantik Revolusi di Banten menyebutkan Peristiwa Revolusi Petani Banten terjadi pada Senin pagi, 9 Juli 1888. Peristiwa tersebut dilatari dua hal. Pertama, dampak letusan Gunung Karakatau di Selat Sunda (23 Agustus 1883) menimbulkan gelombang laut yang menghancurkan Anyer, Merak, Caringin, Sirih, Pasauran, Tajur, dan Carita. Selain itu musibah kelaparan, penyakit sampar (pes), penyakit binatang ternak (kuku kerbau) membuat penderitaan rakyat menjadi-jadi.

Syaikh Abdul Karim disebut sebagai salah satu di antara tiga kiai utama yang memegang peranan penting dalam pemberontakan rakyat Banten di Cilegon tersebut. Dua tokoh kunci lainnya adalah Haji Wasyid dan Tubagus Ismail. Banyak ulama yang mendukungnya seperti Haji Iskak dari Saneja, Haji Usman dari Tunggak, selain kiai-kiai seperguruannya seperti Haji Abu Bakar, Haji Sangadeli dan Haji Asnawi. Untuk mewujudkan rencana pemberontakan tersebut rapat pertama diadakan pada tahun 1884 di kediaman Haji Wasid.

Ulasan Singkat Geger Cilegon yang bersumberkan dari Buku Pemberontakan Petani Banten karya Prof. Dr. Sartono Kartodirjo dapat dibaca https://historia.id/amp/politik/articles/jalannya-pemberontakan-petani-banten-1888-PKNwE

Syekh Abdul Karim memang tidak terlibat secara langsung pemberontakan yang meletus selama 12 tahun. Hal ini dikarenakan sebelum pemberontakan benar-benar pecah di Banten tahun 1888, Syekh Abdul Karim kembali ke Mekkah pada tanggal 13 Februari 1876, setahun setelah meninggalnya gurunya, Syaikh Ahmad Khotib Sambas. Beliau menggantikan posisi gurunya sebagai Kholifah Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah di Makkah al-Mukarramah.

Meski berada Mekah, beliau terus menjalin komunikasi dengan murid-murid dan pengikutnya. Perintah untuk melakukan jihad atau perang suci melawan kolonial Belanda tetap digelorakannya, meski harus berjarak cukup jauh dari tanah kelahirannya.

Karya Ilmiah

Selain mengajarkan tarekat, Syekh Abdul Karim juga meninggalkan sebuah kitab berjudul “Risâlah Silsilah al-Tharîqatain al-Qâdiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah”  yang ditulis bersama Syaikh Ibrahim Brumbung (Mranggen, Demak, Jawa Tengah). Kitab ini merupakan kelanjutan dari Kitab Fathul Arifin  yang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang murid Syaikh Ahmad Khotib Sambas lainnya yakni Syaikh Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tahun 1295 H. Kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, zikir, muqarobah dan silsilah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Ahmad Ginanjar Sya’ban, Filolog Santri menyebutkan bahwa kitab tersebut ditemukannya di perpustakaan KH. Soleh Lateng, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama dari Banyuwangi. Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan diterbitkan dalam format tipografi (cetak huruf baris). Kitab yang ditemukan ini adalah edisi cetakan ke-II pada tahun 1356 Hijri (1937 Masehi) tanpa menyebutkan identitas penerbitnya. Sesuai dengan judulnya, kitab tersebut berisi silsilah (genealogi) Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) sekaligus berbagai kaifiyyat (petunjuk/ tata cara) bertarekat ordo tersebut.

Kisah selengkapnya tentang Kitab 

“Risâlah Silsilah al-Tharîqatain al-Qâdiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah”  bisa dibaca: DITEMUKAN! Kitab Karya Syaikh Abdul Karim al Bantani dan Syaikh Ibrahim Brumbung Demak tentang TQN

Hingga akhir hayatnya, dia tinggal di Mekkah dan memimpin tarekat ini, tetapi angka tahunnya tidak diketahui pasti. Sepeninggal Abdul Karim, tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah tidak memiliki pemimpin tunggal dan hanya menjadi kelompok tarekat dengan kepemimpinan lokal. Meski begitu memiliki pengikutnya berjumlah sangat besar.

Semoga kita dapat terus meneladani jejak langkah para ulama wal auliya termasuk para ulama tarekat. Mereka bukan hanya sekedar membersihkan hati dengan bibir yang tak lepas dari dzikrullah saja, namun spirit berjihad di jalan Allah SWT patut menjadi suri tauladan. Dan dengan membaca riwayat hidup para ulama wal auliya’ akan menkadi sebab turunnya Rahmat  Allah SWT

عِنْدَ ذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ تَنَزَّلُ الرَّحْمَة (سفيان بن عيينة)

“Menyebut orang-orang sholeh akan mendatangkan rahmat” (Sufyan bin Uyainah)

Diolah dari berbagai sumber dan penelusuran di berbagai pesantren di Pulau Jawa yang terafiliasi dengan Jaringan TQN.

*Catatan ini kami susun sebagai klarifikasi pernyataan Cristian Snouck Hurgronje yang dikutip oleh Maulana La Eda dalam 100 Ulama Nusantara di Tanah Suci yang sangat mendiskreditkan sosok Syaikh Abdul Karim. Artikel ini juga sebagai sedikit argumentasi ilmiah atas tuduhan Maulana La Eda tentang tarekat sebagai amaliah tarekat yang berbau bid’ah dan tidak ada dasarnya Al-Qur’an dan As-Sunnah

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *